Konten dari Pengguna

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10: Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi soal Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak  Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi soal Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak Foto: Pexels

Bagaimana perasaan ikan todak saat muncul ke permukaan dan memperkenalkan dirinya kepada datu mabrur?” adalah salah satu pertanyaan yang ada pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 Kurikulum Merdeka.

Pertanyaan tersebut membahas tentang hikayat sa-ijaan dan Ikan Todak pada Kurikulum Merdeka. Cerita ini diperkenalkan kepada peserta didik agar mampu menganalisis nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Di bawah ini terdapat contoh soal dan kunci jawaban materi hikayat sa-ijaan dan Ikan Todak. Peserta didik dapat menjadikannya bahan belajar.

Soal dan Kunci Jawaban Teks Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak

Ilustrasi soal Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak Foto: Pexels

Berdasarkan buku Cerdas Cergas Bebahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas X bab 3 halaman 53-58, terdapat beberapa soal beserta teks cerita lama.

Setiap pertanyaan yang diberikan akan memantik siswa untuk menjawab dengan pemikiran kritis dalam menganalisis soal cerita. Soal terdiri dari lima butir beserta teks hikayatnya.

Sebelum menjawab soal, peserta didik harus membaca dan memahami teks cerita berikut:

Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak

Menurut sahibul hikayat, sebermula ada seorang Datu yang sakti mandraguna sedang bertapa di tengah laut. Namanya Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar.

Siang-malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau. Pulau itu akan menjadi tempat bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya, kelak.

Hatta, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul dari permukaan laut dan terbang menyerangnya. Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak itu.

Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu menyerang lagi. Demikian berulang-ulang. Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur. Pada serangannya yang terakhir, ikan itu terpelanting jatuh persis saat Datu Mabrur membuka matanya.

“Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu samadiku? Ikan apa kamu?”

“Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Samadimu membuat lautan bergelora. Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu. Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku takluk,” katanya, megap-megap. Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela karang tajam.

“Jadi, itu rakyatmu?” Datu Mabrur menunjuk ribuan ikan yang mengepung karang.

“Ya, Datu. Tapi, sebelum menyerangmu tadi, kami telah bersepakat. Kalau aku kalah, kami akan menyerah dan mematuhi apa pun perintahmu.”

“Datu, tolonglah aku. Obati luka-lukaku dan kembalikanlah aku ke laut. Kalau terlalu lama di darat, aku bisa mati. Atas nama rakyatku, aku berjanji akan mengabdi padamu, bila engkau menolongku...” Raja Ikan Todak mengiba-iba. Seolah sulit bernapas, insangnya membuka dan menutup.

“Baiklah,” Datu Mabrur berdiri. “Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, aku akan menolongmu.”

“Apa pun permintaanmu, kami akan memenuhinya. Datu ingin istana bawah laut yang terbuat dari emas dan permata, dilayani ikan duyung dan gurita? Ingin berkeliling dunia, bersama ikan paus dan lumba-lumba?”

“Tidak. Aku tak punya keinginan pribadi, tapi untuk masa depan anak-cucuku nanti....” Lalu, Datu Mabrur menceritakan maksud pertapaannya selama ini.

“Akan kukerahkan rakyatku, seluruh penghuni lautan dan samudera. Sebelum matahari terbit esok pagi, impianmu akan terwujud. Aku bersumpah!” jawab Raja Ikan Todak.

Datu Mabrur tak dapat membayangkan, bagaimana Raja Ikan

Todak akan memenuhi sumpahnya itu. “Baiklah. Tapi kita harus

membuat perjanjian. Sejak sekarang kita harus sa-ijaan, seiring

sejalan. Seia sekata, sampai ke anak-cucu kita. Kita harus rakat

mufakat, bantu membantu, bahu membahu. Setuju?”

“Setuju, Datu...,” sahut Raja Ikan Todak yang tergolek lemah. Ia sangat membutuhkan air.

Mendengar jawaban itu, Datu Mabrur tersenyum. Dengan hati-hati, dilepaskannya tubuh Raja Ikan Todak dari jepitan karang, lalu diusapnya lembut.

Ajaib! Dalam sekejap, darah dan luka di sekujur tubuh Raja

Ikan Todak itu mengering! Kulitnya licin kembali seperti semula,

seakan tak pernah luka. Ikan itu menggerak-gerakkan sirip dan

ekornya dengan gembira.

Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Datu Mabrur mengangkat Raja Ikan Todak itu dan mengembalikannya ke laut. Ribuan ikan yang tadi mengepung karang, kini berenang mengerumuninya, melompat-lompat bersuka ria.

“Sa-ijaan!” seru Raja Ikan Todak sambil melompat di permukaan laut.

“Sa-ijaan!” sahut Datu Mabrur.

Sebelum tengah malam, sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur dikejutkan oleh suara gemuruh yang datang dari dasar laut. Gemuruh perlahan, tapi pasti.

Gemuruh suara itu terdengar bersamaan dengan timbulnya sebuah daratan, dari dasar laut! Kian lama, permukaan daratan itu kian tampak. Naik dan terus naik! Lalu, seluruhnya timbul ke permukaan!

Di bawah permukaan air, ternyata jutaan ikan dari berbagai jenis mendorong dan memunculkan daratan baru itu dari dasar laut. Sambil mendorong, mereka serempak berteriak, “Sa-ijaan! Sa-ijaan! Sa-ijaaan...!”

Datu Mabrur tercengang di karang pertapaannya. Raja Ikan Todak telah memenuhi sumpahnya! Bersamaan dengan terbitnya matahari pagi, daratan itu telah timbul sepenuhnya. Berupa sebuah pulau. Lengkap dengan ngarai, lembah, perbukitan dan pegunungan. Tanahnya tampak subur. Pulau kecil yang makmur.

Datu Mabrur senang dan gembira. Impiannya tentang pulau yang akan menjadi tempat tinggal bagi anak-cucu dan keturunannya, telah menjadi kenyataan. Permohonannya telah dikabulkan. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun.

Alkisah, Pulau Halimun kemudian disebut Pulau Laut. Sebab, ia timbul dari dasar laut dan dikelilingi laut. Sebagai hikmahnya, kata sa-ijaan dan ikan todak dijadikan slogan dan lambang Pemerintah Kabupaten Kotabaru.

Berikut contoh soal yang diambil dari cerita di atas beserta kunci jawabannya:

Setelah menyimak Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak jawablah pertanyaan berikut. Kalian dapat meminta teman untuk membacakan hikayat tersebut sekali lagi agar mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

1. Berdasarkan penggalan cerita pada Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak berikut, sifat Datu Mabrur apakah yang hendak disampaikan penulis kepada pembaca?

Siang-malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan.

Jawaban:

Datu Mabrur memiliki sifat yang ulet, gigih dan kuat terhdapa tujuan. Ia juga pantang menyerah sebelum keinginannya terkabulkan.

2. Bagaimana perasaan Ikan Todak saat muncul ke permukaan dan memperkenalkan dirinya kepada Datu mabrur?

Jawaban:

Ikan Todak merasa malu dan segan karena dirinya telah kalah dalam pertempuran dengan Datu Mabrur.

3. Apakah kalian setuju dengan sikap Raja Ikan Todak yang menyerang Datu Mabrur? Setuju/Tidak setuju. Berikan alasan!

Jawaban:

Tidak setuju, karena Ikan Todak menggangu semedi Datu Mabrur saat sedang bersemedi. Datu Mabrur bahkan tidak menyerang Ikan Todak, ia hanya bersemedi di dekat laut.

4. Tentukan apakah pernyataan berikut ini benar atau salah.

a. Datu Mabrur ingin memiliki pulau yang dapat ia tinggali dan kuasai

b. Datu Mabrur dapat mengatasi serangan Ikan Todak

c. Ikan Todak menyerang Datu Mabrur karena telah sengaja menyakiti pasukannya

d. Sa-ijaan berarti saling membantu.

e. Proses munculnya daratan baru dari dasar laut terjadi sejak tengah malam hingga pagi hari.

Jawaban:

a. Salah

b. Benar

c. Salah

d. Benar

e. Benar

5. Bagaimana hubungan pesan moral yang disampaikan dengan kondisi masyarakat pada saat ini?

Jawaban:

  1. Jika kalah saat pertaruangan, akui saja kekalahan tersebut seperti yang dilakukan oleh Ikan Todak

  2. Bersikap baik hati seperti yang dilakukan oleh Datu Mabrur ketika Ikan Todak meminta dilepaskan ke dalam laut.

  3. Saling tolong menolong serta pentingnya bekerja sama.

  4. Selalu tepati janji yang sudah dibuat seperti Ikan Todak yang telah menepati janjinya kepada Datu Mabrur.

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 9 Halaman 114 Kurikulum Merdeka SMP

(SFN)