Lebaran Ketupat 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Filosofinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebaran Ketupat merupakan salah satu tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Perayaan ini umumnya dilaksanakan beberapa hari setelah hari Hari Raya Idul Fitri.
Bagi masyarakat Jawa, Lebaran Ketupat sering dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga dan tetangga, menggelar doa bersama, serta menikmati berbagai hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan aneka sajian lainnya.
Mengingat perayaannya berlangsung pada bulan Syawal, maka waktu pelaksanaan Lebaran Ketupat dapat berbeda setiap tahunnya karena berbeda dengan penanggalan Masehi. Lantas, Lebaran Ketupat 2026 jatuh pada tanggal berapa?
Lebaran Ketupat 2026 Tanggal Berapa?
Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam Sejaran Kebudayaan Islam Kelas IX karya Dr. H. Murodi, tradisi Lebaran Ketupat diselenggarakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Artinya, tradisi Lebaran Ketupat digelar pada tanggal 8 Syawal. Berdasarkan penanggalan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026, tanggal 8 Syawal ini bertepatan dengan 28 Maret 2026.
Makna Kultural Tradisi Lebaran Ketupat
Merujuk pada Jurnal Universitas PGRI Palangka Raya berjudul Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa, tradisi Lebaran Ketupat memiliki makna kultural yang kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Secara kultural, tradisi Lebaran Ketupat mengandung makna saling memaafkan. Filosofi ketupat dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah “ngaku lepat” yang artinya mengakui kesalahan. Melalui tradisi ini, masyarakat diingatkan untuk saling meminta dan memberi maaf agar kembali dalam keadaan bersih .
Selain itu, pelaksanaan tradisi kupatan juga memiliki beberapa tujuan penting dalam kehidupan sosial masyarakat, di antaranya:
1. Sarana mempererat silaturahmi
Tradisi kupatan menjadi momen berkumpulnya masyarakat. Biasanya warga membawa ketupat ke masjid atau mushola, kemudian dibagikan kepada tetangga di lingkungan sekitar. Kegiatan ini mendorong terjalinnya silaturahmi lewat komunikasi yang hangat dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
2. Sarana bersedekah
Masyarakat juga memanfaatkan tradisi ini sebagai momen untuk berbagi rezeki. Ketupat yang dibawa dari rumah akan dibagikan kepada orang lain, termasuk mereka yang membutuhkan, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan semua pihak.
3. Sarana memuliakan tamu
Lebaran Ketupat biasanya diiringi dengan tradisi saling berkunjung. Tuan rumah akan menyambut tamu dengan ramah dan menyajikan hidangan ketupat.
Dalam budaya Jawa dikenal filosofi “Gupuh, Aruh, Rengkuh, Lungguh, Suguh”. Filosofi ini menggambarkan sikap menghormati tamu, mulai dari menyambut dengan gembira, menyapa, mempersilakan duduk, hingga menyuguhkan makanan.
4. Melestarikan tradisi leluhur
Kupatan juga menjadi sarana untuk menjaga warisan budaya. Dengan terus merayakan tradisi ini, masyarakat turut mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang sarat makna sosial dan keagamaan.
Baca Juga: Kapan Sidang Isbat Idul Fitri 2026? Ini Tanggalnya
(ANB)
