Konten dari Pengguna

Macam-macam Hadits Dhaif dan Hukum Berhujjah Dengannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alquran dan hadits termasuk sumber hukum Islam. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Alquran dan hadits termasuk sumber hukum Islam. Foto: Shutterstock

Dalam Islam, hadits memegang kedudukan sebagai sumber hukum kedua setelah Alquran. Menurut ulama ushul fiqih, hadits adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasul, baik berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang bisa dijadikan dalil hukum syara.

Dari segi kualitasnya, hadits dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu hadits shahih, hasan, dan dhaif. Mengutip jurnal Macam-Macam Hadits Dari Segi Kualitasnya oleh Sarbanun, syarat sebuah hadits dianggap shahih adalah sanadnya bersambung, periwayatnya selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, dhabit (kuat hafalannya dan mampu menyampaikan hafalan kapan saja), tidak bertentangan dengan hadits lain, dan terhindar dari illat (kecacatan).

Hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih, perbedaannya adalah rawinya tidak kuat hafalannya. Sementara itu hadits dhaif secara bahasa artinya hadits yang lemah.

Terdapat beberapa macam hadits dhaif yang perlu diketahui umat Muslim sebagai wujud kehati-hatian dalam beribadah. Apa saja?

Dhaif dari Sudut Sandaran Matannya

Ilustrasi ceramah di masjid. Foto: Shutter Stock

Dari sandaran matannya, hadits dhaif terbagi menjadi hadits mauquf dan maqthu. Hadits mauquf adalah hadits yang diriwayatkan dari para sahabat yang berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya. Sedangkan hadits Maqhtu diriwayatkan dari Tabi’in.

Contoh hadits mauquf yaitu saat Ibnu Umar berkata, “Bila kau berada di waktu sore, jangan menunggu datangnya diwaktu pagi hari, dan bila kau berada diwaktu pagi jangan menunggu datangnya waktu sore hari, Ambillah dari waktu sehatmu persediaan untuk waktu sakitmu dan dari waktu hidupmu untuk persediaan matimu.” (Riwayat Bukhari).

Dhaif dari Sudut Matannya

Hadits Syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqah (terpercaya), namun kandungan haditsnya bertentangan dengan yang diriwayatkan oleh para perawi yang lebih kuat derajat ketsiqahannya.

Dhaif dari Sudut Sanad atau Matan

Kedhaifan suatu hadits terkadang terjadi pada sanad atau matannya. Mengenai hal ini, hadits dhaif dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Hadits Maqlub, yang sanad atau matannya berubah karena ada lafal yang mestinya diakhirkan namun didahulukan, atau sebaliknya. Ini disebabkan oleh kurang kuatnya hafalan perawi.

Contohnya hadits Muslim dari Abu Hurairah r.a yang artinya: “... dan seseorang yang bersedekah dengan sesuatu yang sedekah yang disembunyikan, hingga tangan kanannya tak mengetahui apa-apa yang telah dibelanjakan oleh tangan kirinya”.

Terjadi pemutarbalikan dengan hadits riwayat Bukhari atau riwayat Muslim sendiri pada tempat lain yang berbunyi, “(hingga tangan, kirinya tak mengetahui apa-apa yang dibelanjakan tangan kanannya.)”.

Tukar menukar pada sanad juga bisa terjadi, contohnya rawi Ka’ab bin Murrah menjadi Murrah bin Ka’ab.

2. Hadits Mudraf, hadits yang di dalamnya terdapat sisipan atau tambahan.

3. Hadits Mushahhaf. Terdapat perbedaan dengan hadits yang diriwayatkan oleh tsiqah, karena di dalamnya terdapat beberapa huruf, lafadz, atau makna yang diubah. Akibatnya maksud hadits menjadi jauh berbeda dari makna semula.

Dhaif dari Sudut Matan dan Sanadnya

Ilustrasi sahabat Nabi Foto: Dok. Shutterstock

Yang termasuk hadits dhaif dari sudut matan dan sanad adalah hadits maudhu. Yakni hadits yang disanadkan dari Rasulullah SAW secara dibuat-buat dan dusta, padahal sang Rasul tidak pernah mengatakan, melakukan, dan menetapkannya.

Yang kedua adalah hadits munkar, hanya diriwayatkan oleh perawi yang lemah dan bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya.

Dhaif dari Segi Persambungan Sanadnya

Kategori hadits yang dhaif menurut persambungan sanadnya, yaitu:

  • Hadits Mursal: perawi dari golongan sahabat hilang atau tidak disebutkan. Ciri hadits mursal lazimnya disampaikan oleh tabi’in tanpa menyebutkan nama sahabat, dan langsung menyebut nama Rasulullah SAW.

  • Hadits Mungqathi: hadits yang gugur pada sanadnya. Pada sanad disebutkan seorang yang tidak dikenal namanya.

  • Hadits Mu’dhal: hadits yang gugur dua sanadnya atau lebih secara berturut-turut. Baik gugurnya itu antara sahabat dengan tabi’in, atau antara tabi’in dengan tabi’in.

Hukum Berhujjah Menggunakan Hadits Dhaif

Terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya berhujjah dengan hadits dhaif. Ada ulama yang melarangnya secara mutlak, ada pula yang membolehkan dengan syarat tertentu. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan boleh berhujjah dengan hadits dhaif untuk keutamaan amal, asalkan memenuhi syarat berikut:

  • Hadits dhaif tidak keterlaluan.

  • Dasar amal yang ditunjukkan oleh hadits dhaif tersebut masih di bawah suatu dasar yang dibenarkan oleh hadits shahih atau hasan.

  • Dalam mengamalkannya tidak mengitikadkan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber dari Nabi.

Frequently Asked Question Section

Pengertian Hadits

chevron-down

Segala sesuatu yang berasal dari Rasul, baik berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang bisa dijadikan dalil hukum syara.

Macam-Macam Hadits Berdasarkan Kualitasnya

chevron-down

Secara umum, macam-macam hadits berdasarkan kualitasnya terdiri dari hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif.

Pengertian hadits maudhu

chevron-down

Hadits yang disanadkan dari Rasululah SAW secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau tidak pernah mengatakan, melakukan, dan menetapkannya.

(ERA)