Macam-Macam Imbuhan dalam Tembung Andhahan Bahasa Jawa

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam bahasa Jawa dikenal beberapa bentuk kata, salah satunya adalah tembung andhahan. Tembung andhahan adalah suatu kata yang terbentuk karena kata dasar mengalami proses afiksasi atau imbuhan.
Tembung andhahan dalam bahasa Jawa sangat erat kaitannya dengan tembung Lingga atau kata dasar. Kedua tembung ini dianggap penting sehingga harus dikuasai dalam kehidupan sehari-hari.
Agar lebih mudah memahami macam-macam imbuhan pada tembung adhahan, simak penjelasan berikut!
Macam-Macam Imbuhan pada Tembung Andhahan
Dikutip dari buku Belajar Bahasa Daerah Jawa oleh Rian Damariwara, berikut macam-macam imbuhan dalam bahasa Jawa, yakni:
Ater-ater (Awalan/Prefiks)
Ater-ater merupakan imbuhan yang terletak di depan kata dasar atau tembung lingga. Bentuk awalan bahasa Jawa terdiri dari dua macam yakni ater-ater anuswara dan ater-ater tripurusa.
1. Ater-Ater anuswara
Ater-ater ini merupakan tambahan pada awal kata yakni m,n, ng-, dan ny-. Penggunaan ater-ater anuswara terdapat kata yang diawali huruf konsonan seperti p, w, t, th c, k, dan s. Jika huruf tersebut diberi tambahan ater-ater anuswara akan melebur atau hilang.
Contohnya:
- Kata pacul ditambah dengan awalan m menjadi macul.
- Kata tulis ditambah dengan awalan n menjadi nulis.
- Kata Kancing ditambah dengan awalan ng- menjadi ngancing.
- Kata Sambel ditambah dengan awalan ny- menjadi nyambel.
2. Ater-Ater Tripurusa
Ater-ater ini disebut dengan ater-ater dak-ko- di. Ater-ater di- dalam bahasa Jawa Krama berubah menjadi dipun, sebab ater-ater di- merupakan jenis bahasa Ngoko atau bahasa Jawa kasar.
Namun hal tersebut tidak berlaku pada ater-ater ko- dan dak-. Meskipun keduanya termasuk dalam bahasa Jawa Ngoko, ater-ater ko- dan dak- tetap digunakan dalam bahasa Jawa Krama alus maupun Krama Inggil.
Contohnya:
Kata Jupuk ditambah dengan ater-ater di menjadi dijupuk.
Kata Pundhut ditambah dengan ater-ater dipun menjadi dipunpundhut.
Kata Tuku ditambah dengan ater-ater ko menjadi kotuku.
Kata Pangan ditambah dengan ater-ater dak menjadi dakpangan.
Ater-Ater Seselan (Sisipan/Infiks)
Ater-ater seselan merupakan imbuhan yang ada di tengah kata. Jumlah seselan dalam bahasa Jawa ada empat yakni -um-, -in-, -r-, dan -l-.
Contohnya:
Kata Tulung mendapat sisipan in menjadi tinulung. Contohnya, kita kudu gelem tulung-tinulung marang liyan. (kita harus mau tolong menolong terhadap orang lain)
Kata Tindak mendapat sisipan um menjadi tumindak. Contohnya, dadi wong kudu tansah tumindak becik. (Jadi orang harus selalu berbuat baik)
Kata Siwer mendapat sisipan l menjadi sliwer. Contoh kalimatnya, Apa mataku sig sliwer, cah itu tak kira kancaku. (Apa mataku yang salah lihat, anak itu kukira adalah temanku)
Kata Kelip mendapat sisipan r menjadi krelip. Contohnya, cahaya bintang pating krelip bengi iki. (Cahaya bintang kemerlip malam ini)
Ater-Ater Panambang (akhiran/Sufiks)
Panambang adalah imbuhan yang berada di akhir kata. Jenis imbuhan panambang dalam kaidah bahasa Jawa antara lain, i, ku, mu, e, an, a, na, ana, en, ne, ing, ake.
Contohnya:
Kata Pikir ditambah akhiran i menjadi pikiri.
Kata Buku ditambah akhiran ku menjadi bukuku.
Kata Klambi ditambah akhiran mu menjadi klambimu.
Kata Gawa ditambah akhiran an menjadi gawan.
Kata Tuku ditambah akhiran a menjadi tukua.
Kata Jupuk ditambah akhiran na menjadi jupukna.
Kata Sapu ditambah akhiran ana menjadi saponana.
Kata Pangan ditambah akhir en menjadi panganen.
Kata Jero ditambah akhiran ing menjadi jeroning.
Kata Tuku ditambah akhiran ake menjadi tukokake.
Itulah tiga macam imbuhan dalam tembung Andhahan. Adakalanya dalam membentuk kata, dapat menggunakan satu jenis imbuhan. Namun, bisa juga menggunakan gabungan dari dua jenis imbuhan bersama-sama.
Contohnya:
Daktukokake (aku belikan), kata berimbuhan ini dibentuk dengan menggunakan awalan atau ater-ater dak- dan akhiran atau panambang -i secara bersamaan.
(IPT)
