Konten dari Pengguna

Macam-macam Sudut Pandang dalam Cerpen dan Contohnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sudut pandang dalam cerpen. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sudut pandang dalam cerpen. Foto: Unsplash

Sudut pandang merupakan salah satu unsur intrinsik cerpen yang tak kalah penting dari unsur lainnya. Sudut pandang atau point of view adalah cara bercerita atau cara pandang seorang pengarang pada cerpen yang dibuatnya.

Sederhananya, sudut pandang berhubungan dengan siapa yang menceritakan kisah dalam cerpen tersebut. Sudut pandang yang dipilih oleh pengarang akan menentukan gaya dan corak cerita.

Mengutip buku Mengenali dan Menuliskan Ide Menjadi Cerpen oleh I Wayan Kerti (2020), sudut pandang memegang pernan penting akan kejadian yang akan disajikan dalam cerpen, menyangkut masalah apa yang akan membawa pembaca untuk lebih masuk lagi ke dalam cerita.

Sudut pandang sendiri dibedakan beberapa macam, antara lain sebagai berikut.

1. Sudut Pandang Orang Pertama

Ilustrasi membaca cerpen. Foto: Unsplash

Sudut orang pertama adalah sudut pandang yang menggunakan kata ganti orang pertama, yaitu “aku”, “saya”, atau “kami”. Lewat sudut pandang ini, pembaca akan dibuat seolah-olah ikut menjadi tokoh dalam cerpen. Ada dua macam sudut pandang orang pertama, yaitu:

  • Sudut pandang orang pertama (tokoh utama), yaitu sudut pandang di mana segala hal terkait pikiran, perasaan, tingkah laku, atau kejadian yang tokoh “aku” lakukan akan digambarkan pada cerita tersebut. Jika ada tokoh lain selain “aku”, maka akan diceritakan sebatas keterkaitan dengan tokoh “aku”.

Contoh:

Aku sedang mengamati lemari jam yang berdiri kaku di pojok ruangan. Ukiran jati ini bertuliskan huruf Jawa kuno menjadi saksi bisu kelahiranku. Di tempat ini, 20 tahun lalu aku dilahirkan.

  • Sudut pandang orang pertama (tokoh sampingan). Berbeda dengan sudut pandang sebelumnya, pada teknik ini tokoh “aku” bukanlah pemeran utamanya, melainkan sebagai orang yang menceritakan rangkaian peristiwa yang dialami tokoh utama.

Contoh:

Brak!!! Sekali lagi aku dibuat kaget dengan suara pintu dari samping kamarku. Erika pergi terburu-buru sambil lari tunggang langgang. Sepertinya ia terlambat kuliah lagi. Erika adalah gadis yang manis, ia ramah dengan semua orang. Tidak heran jika banyak orang menyukainya.

2. Sudut Pandang Orang Ketiga

Ilustrasi membaca cerpen/ Foto: Unsplash

Pada sudut pandang orang ketiga, kata ganti yang digunakan adalah “dia”, “ia”, “mereka” atau nama tokoh yang diceritakan. Ada dua jenis sudut pandang orang ketiga, yaitu:

  • Sudut pandang orang ketiga (serba tahu), yaitu sudut pandang yang memungkinkan penulis untuk menceritakan watak, pikiran, perasaan, kejadian, bahkan latar belakang dari suatu peristiwa.

Contoh:

Sudah 6 bulan ini Naomi terjun ke dunia tarik suara. Ayah dan ibunya tidak ada yang merestui jalur karier yang ia geluti. Ia sampai beradu argumen dengan sang ayah yang memang memiliki watak keras. Keduanya sempat bersitegang sebelum akhirnya dipisahkan oleh sang iu dengan air mata.

  • Sudut pandang orang ketiga (pengamat). Pada sudut pandang ini, penulis hanya menceritakan sebatas pengetahuannya saja dengan cara mengamati, mendengar, mengalami, atau merasakan suatu kejadian di dalam cerita.

Contoh:

Entah apa yang terjadi dengannya seminggu belakang ini. Pulang dari kantor langsung menunjukkan muka masam. Belum lagi puasa bicara yang sudah ia lakukan seminggu belakangan ini. Apa mungkin karena hubungan dia dan kekasih yang tak direstui keluarga?

3. Sudut Pandang Campuran

Merupakan sudut pandang gabungan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Ada kalanya pengarang menempatkan dirinya di dalam cerita dan orang di luar cerita yang serba tahu.

Contoh:

Namaku Wira, aku terlahir di keluarga yang sangat sederhana. Ibuku seorang pedagang kue keliling, sementara ayahku bekerja sebagai buruh pabrik. Kehidupanku berbanding terbalik dengan Dion, yang hidup berkecukupan, bahkan lebih. Dengan segala kemewahan yang ia punya, Dion merasa tidak perlu bekerja lagi untuk menghidupi keluarganya. Meski begitu, aku tetap merasa bersyukur akan kehidupan yang kujalani bersama keluargaku.

(ADS)