Mahabbah Ada Berapa menurut Imam Al-Ghazali? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahabbah berasal dari bahasa Arab yang berarti cinta. Secara terminologi, mahabbah adalah upaya yang ditempuh oleh seseorang untuk mencapai pada apa yang ia cintai. Lalu, mahabbah ada berapa tingkatan?
Menurut Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin, sebelumnya mahabbah selalu dikaitkan dengan ajaran Sufi. Sebab, ajaran sufi selalu menekankan mahabbah dalam pendalaman agama Islam.
Menurut salah satu ulama sufi terkenal, Jalaludin Rumi, mahhabbah adalah bahasa universal yang mudah dimengerti dan dirasakan oleh setiap manusia. Karena itu, mahhabbah dapat membimbing manusia dalam mengenal Tuhannya.
Mahabbah Ada Berapa?
Imam Al-Ghazali menyebutkan, setiap hal ketika menghadirkan rasa nyaman dan tenang akan mendatangkan mahabbah dalam diri seseorang. Lalu, setiap hal yang menghadirkan perasaan menyakitkan akan menghadirkan rasa benci atau manhub. Kemudian, jika sesuatu tidak menghadirkan rasa nyaman atau benci, maka tidak dapat dianggap menjadi mahabbah atau manhub.
Masih dari sumber yang sama, mahhabbah sendiri akan melahirkan pengetahuan tentang sesuatu hal yang dicintainya. Misalnya saat seseorang mencintai Allah, maka terlebih dahulu ia akan mencari tahu alasan apa yang membuatnya cinta kepada Allah SWT.
Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan mahhabbah menjadi lima kategori, yakni:
1. Mahabbah kepada diri sendiri, kesempurnaan, dan eksistensinya
2. Mahabbah kepada setiap orang yang berbuat baik kepada dirinya
3. Mahabbah kepada setiap orang yang berbuat baik kepada orang lain
4. Mahabbah kepada materi
5. Mahabbah yang disebabkan karena memiliki frekuensi yang sama
Urutan Mahabbah Tertinggi menurut Imam Al-Ghazali
Menurut Imam Al-Ghazali, tingkatan tertinggi dalam Mahabbah adalah kecintaan kepada Allah SWT. Termasuk ketika seseorang mencintai makhluk atau ciptaan-Nya. Sejatinya orang tersebut sedang mencintai Allah dalam pantulan ciptaan-Nya.
Sehingga, jika ada seseorang yang meletakan cinta tertingginya bukan kepada Allah SWT, sejatinya itu adalah bentuk dari kebodohan atau kesempitan ilmu tentang Allah SWT.
Minimnya pengetahuan tentang sifat-sifat Allah, akan membuat manusia jauh dalam mengenal Allah. Sehingga, akan menyulitkan dirinya untuk mencintai Allah SWT.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 165, Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ
Artinya, “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (Surat Al-Baqarah: 165)
Kemudian, konsekuensi dari mencintai Allah SWT adalah juga harus mencintai orang-orang yang Allah cintai. Imam Al-Ghazali menyebutkan, “Karena sesuatu yang dicintai oleh kekasih adalah seperti kekasih,”.
Maka, mencintai Rasulullah SAW, para ulama, dan orang-orang bertakwa adalah bagian dari mencintai Allah.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 69:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا
Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa [4]: 69).
Mahabbah kepada Allah dan Rasulnya juga masuk menjadi bagian dari keimanan. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tiga perkara, yang barangsiapa memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakan ke dalam api neraka." (Hadits riwayat Bukhari Muslim).
Imam Al-Ghazali menyebutkan kecintaan kepada Allah SWT dan RasulNya, tidak saja menjadi bagian dari unsur keimanan. Namun, orang yang meletakan mahabbahnya kepada Allah dan Rasulullah SAW akan mendapatkan tempat yang istimewa di hadapan Allah SWT pada yaumil akhir.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata:
“Seseorang menemui Rasulullah: “Wahai Rasulullah, kapan akan terjadi hari kiamat?” Beliau bersabda: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.” (Hadits riwayat Muslim).
(PHR)
Frequently Asked Question Section
Apa itu mahabbah?

Apa itu mahabbah?
Mahabbah berasal dari bahasa Arab yang berarti cinta
Apa tingkatan tertinggi mahabbah?

Apa tingkatan tertinggi mahabbah?
Tingkatan tertinggi dalam Mahabbah adalah kecintaan kepada Allah SWT.
Apa imbalan bagi umat Muslim yang mahabbah kepada Allah dan rasulnya?

Apa imbalan bagi umat Muslim yang mahabbah kepada Allah dan rasulnya?
Orang yang meletakan mahabbahnya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW akan mendapatkan tempat yang istimewa pada yaumil akhir.
