Konten dari Pengguna

Makna dan Asbabun Nuzul Lakum Dinukum Waliyadin tentang Toleransi Agama

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca Al Quran, Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Membaca Al Quran, Sumber: Pexels

Islam adalah agama yang mengajarkan betapa pentingnya toleransi. Dalam Islam, toleransi disebut dengan tasamuh. Al Quran juga membahas soal toleransi dalam surat Al Kafirun ayat 6.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ

Lakum dinukum waliyadin

Artinya: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

Meski hanya sepenggal, ada banyak hikmah dan makna dari kalimat Lakum dinukum waliyadin bagi seorang Muslim. Agar lebih memahaminya, simak ulasan berikut!

Membaca Al Quran, Sumber: Pexels

Makna Lakum Dinukum Waliyadin

Mengutip dari laman Kementerian Agama RI, surat Al Kafirun ayat 6 mengingatkan umat Muslim agar menyembah kepada Allah SWT dan membiarkan orang dengan agama berbeda menjalankan ibadahnya masing-masing.

Jangan sampai umat Muslim terpengaruhi oleh cara ibadah agama lain. Meski begitu, umat Muslim juga tidak boleh membatasi pemeluk agama lain untuk beribadah sesuai kepercayaannya.

Salah satu masalah yang dapat timbul jika terpengaruh agama lain adalah goyahnya iman seorang Muslim. Umat Muslim harus kuat dalam mempertahankan kepercayaan dan imannya. Jika tidak, maka ibadah selama ini dianggap tidak ikhlas.

Tuhan yang mereka sembah berbeda dengan Allah yang disembah umat Muslim. Masalah kepercayaan tersebut menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Khusus untuk umat Muslim juga harus bertanggung jawab terhadap imannya kepada Allah.

Asbabun Nuzul Surat Al Kafirun Ayat 6

Mengutip buku Konten Dakwah Era Digital (Dakwah Moderat) oleh Dr. Abdul Syukur dan Dr. Agus Hermanto, surat ini diturunkan ketika kaum Quraisy mendesak Nabi Muhammad untuk memerintahkan pengikutnya menyembah dua tuhan di hari yang berbeda.

Kaum Quraisy menganggap hal tersebut bisa mewujudkan sikap toleransi antaragama. Niat tersebut langsung ditentang oleh Allah SWT dengan menurunkan surat Al Kafirun ayat 1-6.

(ADB)