Konten dari Pengguna

Makna dan Lirik Lagu Gugur Bunga Ciptaan Ismail Marzuki

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lirik lagu Gugur Bunga ciptaan Ismail Marzuki. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lirik lagu Gugur Bunga ciptaan Ismail Marzuki. Foto: Unsplash

Gugur Bunga adalah salah satu lagu wajib nasional yang syarat akan makna perjuangan para pahlawan. Lirik lagu Gugur Bunga ditulis oleh seorang komponis legendaris Indonesia, yakni Ismail Marzuki.

Mengutip buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap karya Mirnawati, Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Batavia, pada tanggal 11 Mei 1914. Sejak kecil, dirinya sudah menyukai musik dan lagu-lagu.

Sebagai seorang seniman, Ismail Marzuki turut berpartisipasi mempertahankan kemerdekaan Indonesia lewat lagu-lagu bertema perjuangan yang diciptakannya, antara lain Rayuan Pulau Kelapa (1944), Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Sepasang Mata Bola (1946), Melati di Tapal Batas (1947), dan lain-lain.

Ismail Marzuki merupakan komponis besar yang pernah dimiliki Indonesia pada masa itu. Atas karya-karyanya yang mengharumkan nama bangsa, pemerintah menganugerahinya gelar pahlawan berdasarkan Keppres No. 89/TK/2004 pada 5 November 2004.

Makna Lagu Gugur Bunga

Ilustrasi makna lagu Gugur Bunga untuk Pahlawan Revolutioner Indonesia. Foto: Unsplash

Dirangkum dari buku Komunikasi Ekaprasetia Pancakarsa terbitan BP-7 Jakarta, lagu Gugur Bunga diciptakan oleh Ismail Marzuki ketika ayahnya meninggal dunia tanpa sempat bertemu dengan sang anak. Ia hanya melihat segunduk tanah bertabur bunga.

Lagu Gugur Bunga juga diciptakan untuk menghormati para pejuang yang gugur selama masa revolusi atau perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam rentang periode tersebut, Indonesia tengah berjuang melawan pasukan sekutu (Inggris dan Belanda).

Puncak dari pertempuran ini terjadi pada 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Oleh karena itu, lagu Gugur Bunga seringkali diperdengarkan saat upacara peringatan Hari Pahlawan.

Lirik lagu Gugur Bunga mengandung makna kesedihan akan kehilangan para pahlawan yang telah bertaruh nyawa untuk masa depan bangsa. Kata “gugur” dalam lagu ini identik dengan kisah para pejuang yang meninggal di medan perang.

Seiring berjalannya waktu, lagu Gugur Bunga dapat dimaknai secara lebih luas lagi. Pahlawan yang dikenang dalam lagu ini tidak hanya merujuk kepada orang-orang yang terlibat dalam kemerdekaan, tetapi juga mereka yang pernah berjuang untuk kemajuan bangsa.

Lirik Lagu Gugur Bunga Ciptaan Ismail Marzuki

Ilustrasi lirik lagu Gugur Bunga. Foto: Unsplash

Berikut ini adalah lirik lagu Gugur Bunga ciptaan Ismail Marzuki yang tercantum dalam buku Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air, dan Cinta karya Teguh Esha.

Lirik Lagu Gugur Bunga

Cipt: Ismail Marzuki

Betapa hatiku takkan pilu

Telah gugur pahlawanku

Betapa hatiku takkan sedih

Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara

Nan setia dan perwira

Siapakah kini pahlawan hati

Pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku

Tunai sudah janji bakti

Gugur satu tumbuh seribu

Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman bakti

Di haribaan pertiwi

Harum semerbak menambahkan sari

Tanah air jaya sakti

(AAA)

Frequently Asked Question Section

Siapa yang menciptakan lagu Gugur Bunga?

chevron-down

Lagu Gugur Bunga diciptakan oleh seorang komponis besar Indonesia, Ismail Marzuki.

Apa makna lagu gugur bunga?

chevron-down

Lagu Gugur Bunga diciptakan untuk menghormati para pejuang yang gugur selama masa revolusi atau perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Lagu apa saja yang diciptakan oleh Ismail Marzuki?

chevron-down

Lagu ciptaan Ismail Marzuki antara lain Rayuan Pulau Kelapa (1944), Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Sepasang Mata Bola (1946), Melati di Tapal Batas (1947), dan masih banyak lagi.