Makna Kata yang Dicetak Miring dan Penulisan Huruf Kapital Bahasa Indonesia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam kaidah penulisan bahasa Indonesia, seperti penulisan huruf kapital dan kata yang dicetak miring. Setiap kaidah penulisan ini memiliki fungsi dan tujuan masing-masing.
Merujuk buku Metode Penulisan Karya Ilmiah (2017), makna kata yang dicetak miring adalah untuk menuliskan tiga hal, yakni nama buku, majalah, atau surat kabar yang dikutip dalam karya tulis, memberikan penegasan, pengkhususan, atau menarik perhatian, serta menuliskan istilah asing.
Sedangkan penulisan huruf kapital digunakan dalam banyak hal dalam penulisan. Namun pada umumnya, masyarakat menuliskan huruf kapital sebagai huruf pertama awal kalimat atau dalam penulisan nama.
Meskipun telah banyak digunakan, masih banyak orang yang melakukan kesalahan ketika menggunakan kata cetak miring dan huruf kapital dalam penulisan. Padahal, keduanya merupakan hal yang sangat penting dalam pembuatan karya tulis.
Penggunaan Kata yang Dicetak Miring dan Penulisan Huruf Kapital
Penggunaan kata yang dicetak miring dan penulisan huruf kapital penting untuk dipahami agar terhindar dari kesalahan berulang. Mengutip buku Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia (2022), berikut cara penulisan kata yang dicetak miring dan huruf kapital.
1. Penulisan huruf miring
Huruf miring untuk menuliskan nama buku, majalah, atau surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh: Ibu sedang membaca majalah Femina.
Huruf miring untuk menuliskan menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Contoh: Buatlah kalimat duka cita.
Huruf miring untuk menuliskan kata dengan nama ilmiah atau ungkapan bahasa asing dan bahasa daerah, kecuali disesuaikan ejaannya.
Contoh: Ungkapan wilujeng sumping dalam bahasa Sunda berarti ‘Selamat Datang’.
2. Penulisan huruf kapital
Huruf kapital sebagai huruf pertama kata di awal kalimat.
Contoh: Kita harus bekerja keras.
Huruf kapital sebagai huruf pertama pada petikan langsung.
Contoh: Adi bertanya, “Kapan kita berangkat?”
Huruf kapital sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama tuhan, kitab suci, serta kata ganti untuk Tuhan.
Contoh: Allah, Yang Maha Kuasa.
Huruf kapital sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh: Mahaputra Yamin.
Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, atau pengganti nama orang, instansi, atau tempat.
Contoh: Wakil Presiden Adam Malik.
Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur nama orang.
Contoh: Amir Hamzah.
Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh: suku Jawa.
Huruf kapital sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh: bulan Agustus.
Huruf kapital sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh: Asia Tenggara.
Huruf kapital sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah, ketatanegaraan, dan nama dokumen negara, kecuali “seperti” dan “dan”.
Contoh: Republik Indonesia.
Huruf kapital sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna pada nama badan, lembaga pemerintah, dokumen resmi, dan ketatanegaraan.
Contoh: Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Huruf kapital sebagai huruf pertama semua kata di dalam buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata hubung.
Contoh: Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Contoh: Dr. atau Doktor.
Huruf kapital sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan.
Contoh: Besok Paman akan datang.
(DND)
