Makna Lagu Gundul-Gundul Pacul, Nasihat untuk Para Pemimpin

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makna lagu Gundul-Gundul Pacul mungkin belum diketahui oleh sebagian orang. Lagu ini merupakan tembang Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya pada tahun 1400-an.
Secara sekilas, syair dalam bahasa Jawa yang terdapat pada lagu Gundul-Gundul Pacul terdengar seperti guyonan. Namun, lagu ini sebenarnya memiliki makna filosofis yang mendalam.
Lantas, apa makna atau pesan yang terkandung dalam lagu Gundul-Gundul pacul? Berikut ini adalah penjelasannya.
Lirik Lagu Gundul-Gundul Pacul
Berikut adalah lirik lagu Gundul-Gundul Pacul dan artinya.
Gundul-gundul pacul cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Artinya:
Gundul-gundul cangkul, tidak hati-hati
Membawa bakul (di atas kepala) dengan tidak hati-hati
Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman
Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman
Makna Lagu Gundul-Gundul Pacul
Makna lagu Gundul-Gundul Pacul adalah seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah orang yang diberi mahkota, tetapi dia pembawa pacul untuk mencangkul (mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya).
Mengutip buku Mengukir Nilai Karakter Melalui Tembang Dolanan Anak oleh Elisabeth Suratinem, berikut adalah makna lagu Gundul-Gundul Pacul sesuai dengan liriknya.
1. Gundul-gundul pacul cul, gembelengan
Gundul artinya kepala plontos tanpa rambut. Bagi masyarakat Jawa, kepala adalah lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang, sedangkan rambut merupakan mahkota dan lambang keindahan kepala.
Sementara itu, pacul artinya singkatan dari "papat kang ucul" (empat hal yang lepas). Bagi orang Jawa, kemuliaan seseorang bergantung dari empat hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga, dan mulutnya. Berikut penjelasannya:
Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat atau orang banyak.
Telinga digunakan untuk mendengarkan nasihat.
Hidung digunakan untuk mencium harum kebaikan.
Mulut digunakan untuk berkata adil.
Jika keempat hal tersebut lepas dari seseorang, maka lepas jugalah kehormatannya.
Di sisi lain, gembelengan artinya besar kepala, congkak, sombong, atau bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
Jadi, makna lirik lagu "gundul-gundul pacul cul, gembelengan" adalah seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia pembawa pacul untuk mencangkul (mengupayakan kesejahteraan rakyatnya).
Namun, orang yang sudah kehilangan empat indra tersebut (mata, telinga, hidung, dan mulut) akan berubah sikapnya menjadi congkak dan sombong.
2. Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul atau bakul adalah tempat menaruh nasi yang sudah matang, terbuat dari anyaman bambu. Wakul merupakan lambang kesejahteraan masyarakat, seperti kekayaan, sumber daya, dan lain sebagainya.
Nyunggi wakul memiliki arti membawa bakul atau tempat nasi di atas kepala seseorang. Jadi, makna dari lirik "nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan" yaitu banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sedang mengemban amanat yang diibaratkan dengan bakul nasi di kepalanya.
3. Wakul glimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang artinya jatuhnya bakul di atas kepala, sedangkan segane dadi sak latar memiliki arti nasi yang berada di dalam bakul tersebut jatuh dan berserakan.
Jadi, makna lirik lagu "wakul glimpang segane dadi sak latar" adalah jika seorang pemimpin bersifat sombong dan semena-mena, maka sumber daya tidak akan terdistribusi dengan baik dan kesejahteraan tidak akan terwujud.
Nasi yang telah berserakan dan tumpah di tanah tentunya tidak bisa dimakan lagi. Begitu pun dengan amanat yang diemban pemimpin yang sombong, maka tidak akan bertahan lama dan akan gugur amanatnya.
Kesimpulan secara menyeluruh mengenai makna lagu Gundul-Gundul Pacul adalah tentang nasihat bagi para pemimpin dalam mengemban amanat yang diberikan rakyat. Seorang pemimpin tidak boleh sombong dan congkak dalam mengemban amanat.
(SFR)
