Makna Qola Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam Hadits dan Contohnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selain Alquran, pedoman bagi umat manusia yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Hadits. Beliau berpesan kepada umatnya untuk selalu berpedoman hanya kepada keduanya agar mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Imam Al Hakim bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Aku tinggalkan untuk kalian dua hal, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Alquran) dan Sunnahku.”
Menurut syariat, hadits dimaknai sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, dan segala sifat Nabi Muhammad, baik sebelum masa kenabian ataupun sesudahnya.
Dalam sebuah hadits, biasanya sering kali dijumpai kalimat qola Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Apa yang dimaksud dengan qola Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam hadits?
Makna Qola Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam Hadits
Syaikh Ibrahim Al Baijuri menerangkan dalam kitabnya yang berjudul Khasiyyah Ibrahim Al Baijuri, qola memiliki makna kebenaran ucapan. Sedangkan menurut Kamus Al Munjid, qola memiliki makna yang sama dengan talaffadza dan taklama, yaitu melafalkan atau membicarakan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa makna qola Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam hadits adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melafalkan atau Rasulullah SAW bersabda.
Terdapat sebuah riwayat dari Ibnul Qoyyim yang menerangkan bahwa nasab hadits qola Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam merupakan yang tertinggi dari seluruh penduduk bumi. Beliau mengatakan:
وهو خير أهل الأرض نسبا على الإطلاق …فأشرف القوم قومه وأشرف القبائل قبيله
Artinya: “Dan beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah penduduk bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak, maka semulia-mulia kaum adalah kaum beliau, semulia-mulia kabilah adalah kabilah beliau.” (HR. Ibnul Qoyyim)
Contoh Hadits yang Menggunakan Kalimat Qola Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
Berikut adalah beberapa contoh hadits yang menggunakan kalimat qola Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang dihimpun dari buku Hadis Shahih Bukhari-Muslim Jilid 3 karya Muhammad Fu’ad Abdul Baqi.
Anas Radiallahuanha meriwayatkan qola Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang surat Al Kautsar,
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ
Artinya: “Al-Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘Azza wa Jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana di telaga tersebut sejumlah bintang di langit.” (HR. Muslim)
Jabir bin Abdulloh menuturkan qola Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
Artinya: “Aku diberi (oleh Allah) lima perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang-pun sebelumku. Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedatanganku) sejauh perjalanan sebulan; Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk tayammum-pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) sholat menemuinya, hendaklah dia sholat. Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorangpun sebelumku. Aku diberi syafa’at (oleh Allah). Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, dan aku diutus kepada manusia semuanya.” (HR. Bukhari)
(NDA)
