Konten dari Pengguna

Matan: Pengertian, Objek Kajian, Kaidah Kesahihan, dan Contoh Haditsnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alquran. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Alquran. Foto: Freepik

Secara etimologis, matan adalah tanah yang tinggi dan keras. Sedangkan menurut istilah, matan adalah sebuah kalimat yang terletak setelah berakhirnya sanad suatu hadits. Dengan kata lain, matan adalah isi hadits yang mengandung ungkapan Nabi Muhammad SAW.

Menurut Dr. Ahmad Fudhaili dalam buku Perempuan di Lembaran Suci “Kriti katas Hadis-Hadis Sahih", pengaplikasian matan dalam hadits adalah sebagai bentuk proses untuk membedakan mana hadits yang baik dan buruk. Selain itu juga digunakan untuk memperoleh kebenaran akan otentisitas dan interpretasi sebuah matan hadits.

Umar ibn Hasan ‘Usman Fallatah menerangkan dalam kitabnya yang berjudul al-Wad’u fi al-Hadith, objek kajian matan hadits mempunyai dua kategori, yaitu: bentuk redaksi dan kandungan matan. Ini dilakukan untuk menyeleksi bahwa sabda-sabda Nabi Muhammad tersebut bukanlah berasal dari kedustaan.

Kaidah Kesahihan Matan Hadits

Alquran. Foto: Freepik

Ibn al-Qayim al-Jawziyyah merumuskan cara menentukan kesahihan matan hadits dalam kitabnya yang berjudul al-Manar al-Munif fi al-Sahih wa al-Da’if.

  • Mengetahui sejarah hidup Nabi Muhammad;

  • Mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi Muhammad;

  • Mengetahui segala yang diperintah dan dilarang oleh Rasulullah;

  • Mengetahui segala yang disenangi dan dibenci oleh Nabi SAW;

  • Mengetahui segala yang disyariatkan Nabi SAW seolah-olah telah lama bercampur baur bersama para sahabatnya.

Sedangkan menurut Dr. Shalahuddin al-Adlabi dalam kitab Manhaj Naqd al-Matn ‘Ind ‘Ulama’ al-Hadith al-Nabawi, standarisasi dari kesahihan suatu matan adalah:

  • Tidak bertentangan dengan Alquran;

  • Tidak bertentangan dengan hadits sahih;

  • Tidak bertentangan dengan al-sirah al-nabawiyah;

  • Tidak bertentangan dengan akal;

  • Tidak bertentangan dengan indra (sistem fisiologi dalam tubuh manusia untuk mengenali, merasakan, dan merespon terhadap serangkaian stimulus secara fisik);

  • Tidak bertentangan dengan sejarah;

  • Hadits yang tidak menyerupai perkataan Nabi Muhammad SAW;

  • Hadits yang mengandung keserampangan;

  • Hadits yang mengandung makna yang rendah;

  • Hadits yang menyerupai pernyataan ulama khalaf.

Contoh Matan Hadits

Alquran. Foto: Freepik

Berikut adalah beberapa contoh matan hadits yang dikutip dari buku Pemikiran Usul Fikih Al-Gazzali terbitan Suara Muhammadiyah.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu ar Rabi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir Abu Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tanda tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat.” (HR. Bukhari).

حدثنا حامد بن يحي أخبرنا سفيان وحدثنا مسدد حدثنا يحي عن ابن عجلان سمع عياضا قال سمعت أبا سعيد الخدري يقول لا أخرج أبدا إلاضاعا إنا كنا نخرج على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم صاع تمر أو شعير أو أقط أو زبيب [ رواه أبو داود في سننه ، كتاب الزكاة ] .

Artinya: “Telah mewartakan kepada kami Hamid Ibn Yahya (ia mengatakan): Telah mewartakan kepada kami Sufyan -ganti sanad- dan telah mewartakan kepada kami Musaddad (yang mengatakan): telah mewartakan kepada kami Yahya, dari Ibn 'Ajlan, ia mendengar 'lyad berkata: saya mendengar Abu Sa'id al-Khuduri mengatakan, "Saya tidak akan pernah mengeluarkan zakat fitrah kecuali sebanyak satu sak. Sesungguhnya kami pada masa Rasulullah SAW mengeluarkan zakat fitrah satu sa' tamar, atau kurma mentah.” (HR. Abu Dawad).

(NDA)