Memahami Apa Itu Bohir, Istilah dalam Politik yang Makin Populer

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam berbagai diskusi atau percakapan seputar politik, ada berbagai istilah asing yang mungkin akan terdengar. Salah satu yang belakangan ini semakin populer adalah "bohir." Sebenarnya, apa itu bohir?
Menurut KBBI, bohir artinya pemilik proyek, pemilik modal, atau klien. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda "Bouwheer," yang secara harfiah bermakna pemberi tugas atau pemilik proyek.
Awalnya, kata ini lebih sering digunakan dalam dunia konstruksi atau bisnis yang merujuk pada pihak yang mendanai suatu proyek. Namun, dalam konteks politik, arti kata bohir memiliki makna yang sedikit berbeda.
Arti Bohir
Istilah bohir dalam dunia politik merujuk pada individu atau kelompok yang memberikan dukungan finansial kepada calon politik, seperti calon kepala daerah atau calon legislatif.
Dalam buku 71 Kasus Viral Di Indonesia: Bagian 1 oleh Dr. Monang Siahaan, SH. MM, bohir digambarkan sebagai pemberi modal untuk kampanye politik dengan harapan mendapat imbalan setelah calon yang mereka dukung terpilih. Imbalannya bisa berupa kemudahan dalam proyek, kontrak, kemudahan khusus terhadap kebijakan, atau hal apa pun yang menguntungkan para bohir.
Dalam diskusi atau pembahasan politik, bohir sering dianggap sebagai pihak yang tidak memberikan dukungan, tetapi juga "berinvestasi" demi memperoleh keuntungan di kemudian hari. Oleh karena itu, istilah bohir dalam konteks ini memiliki konotasi negatif.
Menurut Dr. Anantawikrama dalam buku Sosiologi Korupsi: Kajian Multiperspektif, Integralistik, dan Pencegahannya, bohir di dunia politik kerap diasosiasikan dengan rentenir politik. Mereka memberikan pinjaman dana kepada calon politik. Setelah calon tersebut terpilih, bohir bisa meminta imbalan berupa proyek atau fasilitas tertentu.
Pola hubungan semacam ini sering dianggap kurang etis karena nantinya sosok yang didukung merasa berkewajiban untuk memberikan "balas budi" kepada bohir. Akibatnya, batas antara kepentingan publik dan pribadi akan semakin kabur karena keputusan politiknya berisiko mendahulukan kepentingan bohir daripada kepentingan masyarakat luas.
Baca Juga: Arti Buzzer dan Perbedaannya dengan Influencer
Istilah Lain dalam Politik
Selain bohir, ada beberapa istilah lain dalam percakapan politik yang semakin sering muncul, di antaranya:
Politik Dinasti: Kekuasaan politik yang diwariskan dalam satu keluarga, sehingga anggota keluarga pemimpin sebelumnya memiliki peluang besar untuk meneruskan kekuasaan.
Oposisi: Kelompok atau partai politik yang tidak mendukung pemerintah yang sedang berkuasa, dan mengambil posisi untuk mengawasi kebijakan dan mengkritik kebijakan pemerintah.
Buzzer: Orang atau kelompok yang aktif di media sosial untuk mempromosikan seorang kandidat atau partai politik dengan tujuan memengaruhi opini publik.
Politik Identitas: Strategi politik yang menggunakan isu-isu seperti agama, suku, atau ras demi menarik dukungan pemilih.
Black Campaign: Kampanye negatif yang bertujuan untuk merusak reputasi lawan politik dengan menyebarkan berita palsu atau hoaks.
Elektabilitas: Tingkat dukungan atau popularitas seorang kandidat yang menunjukkan seberapa besar peluangnya untuk terpilih.
Meritokrasi: Sistem di mana seseorang mendapatkan posisi atau jabatan berdasarkan kemampuan dan prestasinya, bukan karena koneksi atau latar belakang sosial.
(SAI)
