Konten dari Pengguna

Memahami Arti Mentauhidkan Allah dan Penerapannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mentauhidkan Allah artinya meyakini bahwa tidak ada pencipta selain-Nya. Foto: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mentauhidkan Allah artinya meyakini bahwa tidak ada pencipta selain-Nya. Foto: Pexels.

Tauhid merupakan konsep dasar dalam Islam. Mentauhidkan Allah artinya berkaitan dengan akidah dan keimanan seseorang. Secara etimologi, tauhid merupakan bentuk mashdar dari kata kerja wahadda yang artinya menunggalkan atau menjadikan sesuatu itu satu.

Untuk memahami arti mentauhidkan Allah serta penerapannya sehari-hari, simak ulasan berikut.

Mentauhidkan Allah Artinya Apa?

Ilustrasi mentauhidkan Allah artinya meyakini bahwa tidak ada pencipta selain-Nya. Foto: Pexels.

Mentauhidkan Allah artinya meyakini bahwa Allah tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Mentauhidkan Allah tak sekadar percaya bahwa Allah pencipta alam semesta, melainkan menjadikan kepercayaan tersebut landasan dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah laku setiap Muslim.

Tauhid juga menjadi syarat utama suatu amalan diterima Allah. Amalan yang dilandasi dengan tauhid akan mengantarkan manusia ke dalam kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.

Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Surat An Nahl ayat 97. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Baca juga: Bergantung dan Berharap kepada Allah SWT

Macam-Macam Tauhid

Ilustrasi mentauhidkan Allah artinya meyakini bahwa tidak ada pencipta selain-Nya. Foto: Pexels.

Dikutip dari jurnal Konsep Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab oleh Nurul Khairiyah Ulya, tauhid terdiri dari tiga macam, yakni rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’wa sifat.

1. Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah memiliki makna mengesakan Allah dalam hal penciptaan. Adapun yang dimaksud mengesakan Allah dalam penciptaan artinya meyakini bahwa tidak ada pencipta lain selain Allah SWT.

Penjelasan tauhid rububiyyah telah banyak tercantum dalam Al-Quran. Contohnya dalam Surat Fathir ayat 3, Allah SWT berfirman:

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi?Tidak ada Ilah selain Dia, maka mengapakah kalian berpaling”.

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid uluhiyyah berkaitan dengan ibadah. Jenis tauhid ini memuat keyakinan bahwa tidak ada yang layak disembah kecuali Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Luqman ayat 30.

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil”.

Mengakui Tauhid Uluhiyyah juga berarti menolak peribadatan kepada selain Allah serta segala perbuatan syirik.

3. Tauhid Asma’wa Sifat

Tauhid Asma' wa sifat adalah keyakinan terhadap keesaan Allah dengan semua asma dan sifat-Nya. Allah memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat wajib.

Mempercayai asma dan sifat Allah adalah mengakui bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tidak bisa dibandingkan dengan makhluk-Nya. Asma Allah yang wajib diimani berjumlah 99 sedangkan sifat-sifat wajib Allah berjumlah 20.

(GLW)