Memahami Arti Unggah-ungguh dalam Bahasa Jawa

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami arti unggah-ungguh sangat penting saat bertutur dalam bahasa Jawa. Unggah-ungguh artinya berkaitan dengan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.
Unggah-ungguh pada dasarnya tidak hanya mengatur cara bicara, tetapi juga cara bersikap dan menghargai orang lain, terutama kepada yang usianya lebih tua. Agar lebih memahami tentang unggah-ungguh, simak informasinya dalam uraian berikut.
Unggah-Ungguh Artinya Apa?
Unggah-ungguh sering diartikan sebagai tata krama atau sopan santun. Secara harfiah, “unggah” artinya “naik” atau “meninggikan” dan “ungguh/lungguh” mengandung arti duduk. Dalam budaya Jawa, seseorang harus bisa menempatkan diri saat berinteraksi dengan orang lain, sesuai dengan usia, kedudukan, maupun status sosialnya.
Dikutip dari buku Bahagia ala Orang Jawa oleh Asti Musman, unggah-ungguh artinya seperangkat aturan tentang sikap atau tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Unggah-ungguh mencakup aturan tentang cara bicara dan gestur atau bahasa tubuh seseorang.
Dalam konteks cara berbicara, unggah-ungguh diterapkan dengan memilih tingkat tutur yang tepat sesuai usia dan kedudukan lawan bicara. Tingkatan tutur atau ragam cakapan dalam bahasa Jawa ada tiga kategori, yakni ngoko, krama/madya, dan krama inggil.
Ragam ngoko mencerminkan kedekatan antara penutur dengan lawan bicara. Sementara ragam madya dan krama inggil menggambarkan penghormatan terhadap lawan bicara. Ketiga tingkatan tutur bahasa tersebut sampai saat ini masih diterapkan oleh masyarakat Jawa.
Contoh Unggah-ungguh
Dalam jurnal Penerapan Unggah-Ungguh Bahasa Jawa sesuai dengan Konteks Tingkat Tutur Budaya Jawa oleh Puji Arifaningrum, ada dua hal penting yang harus dipahami saat menerapkan unggah-ungguh bahasa Jawa, yakni status sosial dan kedekatan hubungan dengan lawan bicara.
Berikut aturan dan contoh penerapan unggah-ungguh dalam bahasa Jawa:
1. Ngoko
Ragam ngoko dapat digunakan apabila seseorang memiliki hubungan akrab dengan orang yang diajak bicara atau merasa status sosialnya lebih tinggi dari lawan bicaranya.
Ragam bahasa Jawa dapat dipakai oleh orang tua kepada anaknya, guru kepada siswa, teman yang sudah akrab, maupun pejabat kepada bawahannya. Contoh ragam bahasa ngoko sebagai berikut:
Aku lagi maca bausastra
Mas Wahyu sinau basa Jawa
Aku lagi mangan baso
2. Krama/Madya
Penggunaan ragam krama menandakan keinginan untuk menghormati lawan bicara. Biasanya tingkatan tutur ini digunakan oleh orang yang statusnya lebih rendah dibandingkan dengan lawan bicaranya, seperti orang tua kepada anak muda yang statusnya lebih tinggi atau teman yang belum akrab.
Berikut ini contong penggunaan ragam madya:
Daleme Pak Camat adoh banget
Bukune diasta Mbak Jihan
Mas Herdi lagi sare
3. Krama Inggil
Krama inggil merupakan tingkatan tutur tertinggi dari bahasa Jawa. Ragam cakapan ini umumnya digunakan oleh anak muda kepada orang tua dan dihormati, bawahan kepada atasan, atau murid kepada guru. Berikut contoh penggunaan krama inggil:
Simbah nembe gerah
Budhe Yati sampun sare
Ibu nembe dhahar
(GLW)
