Konten dari Pengguna

Memahami Makna Syahadatain sebagai Simbol Keimanan Umat Muslim

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Syahadatain sebagai Rukun Islam. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Syahadatain sebagai Rukun Islam. Foto: Freepik

Syahadatain atau dua kalimat syahadat adalah rukun Islam pertama. Lafaz syahadatain yakni Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah yang artinya “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.”

Makna syahadatain adalah janji umat Islam yang mengakui Allah dan Rasul-Nya. Dalam syahadatain dinyatakan, seorang Muslim wajib beribadah hanya kepada Allah, mentaati perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Kalimat syahadat juga menegaskan bahwa hanya syariat ajaran yang bersumber dari Allah yang wajib diterima. Kalimat “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah” bermakna apa yang diucapkan dan diperbuat Muhammad SAW berdasar pada wahyu Allah.

Beliau mengajarkan kalimat-kalimat Allah yang ditulis dalam Alquran. Umat Islam harus mengimani dan membenarkan ajaran yang dibawa Rasulullah sebagai utusan Allah. Apa yang beliau sampaikan, perintahkan, dan contohkan semestinya dijadikan petunjuk dalam hidup.

Allah berfirman dalam Q.S An-Nisaa’ ayat 80 yang artinya: “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”

Lalu, sebenarnya kapan pengucapan syahadatain diperlukan? Dua kalimat syahadat (Syahadatain) diucapkan apabila seorang non-muslim berniat memeluk agama Islam. Seseorang dari keturunan Islam ingin memperkukuh keyakinannya dengan syahadatain juga diperbolehkan mengucapkannya.

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengucapkan syahadatain adalah adab. Thoriq Aziz Jayana dalam buku Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati menyatakan, adab sama dengan akhlak.

Sama seperti rukun Islam yang lainnya, syahadatain juga memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Apa saja?

Ilustrasi Syahadatain sebagai Syarat Agama Islam. Foto: Freepik

Syarat-Syarat Syahadat

Berdasarkan buku berjudul Supaya Di-Like Sama Allah yang ditulis Susatyo Kuncahyono, terdapat enam adab syahadat yaitu sebagai berikut:

Ikhlas

Amalan hati yang mendasari syahadat adalah ikhlas. Hati tulus dan ikhlas yang mengiringi pengucapan syahadat kelak menambah nikmat iman seorang Muslim.

Memiliki Ilmu tentang Syahadat

Penting memiliki ilmu tentang syahadat agar seorang Muslm memahami apa yang diucapkan. Tanpa pemahaman yang baik, pengucapan syahadat hanya akan menjadi sebuah formalitas.

Meyakini Apa yang Diucapkan

Mengucapkan syahadat harus dengan penuh keyakinan. Rasa ragu yang ada dalam diri mengundang syaitan untuk menjerumuskan. Tersesat dalam kesyirikan adalah konsekuensi keraguan tersebut.

Menerima

Setelah menyakini syahdat, seorang mukmin harus menerima. Isi kandungan syahadat sulit diterima akibat adanya kesombongan dalam diri manusia. Sifat sombong yang ada akan mengajak manusia menolak kebenaran syahadat.

Tunduk dan Patuh

Syahadat bukan hanya menjadi sekadar pengucapan. Isi kandungan syahadat harus diamalkan. Patuh dan tunduk kepada Allah adalah wujud pengaplikasian syahadat.

Jujur

Jujur bermakna ucapan yang sesuai dengan hati dan tindakan. Mengucapkan syahadat harus diiringi dengan kejujuran.

Artinya bukan saja mengucapkannya, melainkan juga membuktikan ketaatan kepada Allah serta Rasulnya, dan senantiasa mengamalkan agama Islam secara kaffah.

(MH)