Konten dari Pengguna

Mengapa 10 November dijadikan Hari Pahlawan? Begini Latar Belakangnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hari pahlawan. Foto: freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hari pahlawan. Foto: freepik

Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Penetapan ini tercantum dalam Surat Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 yang disahkan oleh Presiden Ir. Soekarno.

Hari Pahlawan Nasional hendaknya dirayakan sebagai momen sakral masyarakat Indonesia. Peringatannya harus dimaknai dengan sepenuh hati untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita

Sikap nasionalisme dan patriotisme yang pahlawan contohkan seharusnya bisa dijadikan karakter bangsa. Dengan begitu, persatuan dan kesatuan Indonesia pun akan tetap terjaga.

Lantas, mengapa 10 November dijadikan Hari Pahlawan? Untuk mengetahuinya, simak penjelasan berikut.

Sejarah Peringatan Hari Pahlawan

Sejarah Hari Pahlawan Nasional bermula dari perlawanan arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kedatangan pasukan Sekutu Brigade 49 yang dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby ke Surabaya.

Bung Tomo. Foto: istimewa

Kehadiran pasukan Sekutu disambut gembira oleh rakyat Surabaya. Mereka berharap dapat bekerja sama dengan Sekutu dalam menjaga ketenteraman dan keamanan Indonesia. Akan tetapi, kenyataan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pasukan Sekutu mengingkari kesepakatan yang telah dibuat dan berbalik menyerbu penjara Kalisosok dalam usaha membebaskan tahanan Belanda. Mereka kemudian menduduki pos-pos penting, seperti gedung, bank, kantor pos, pangkalan udara, dan lain-lain.

Tindakan pasukan Sekutu membuat rakyat Surabaya tersinggung dan marah. Hingga akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1945, rakyat Surabaya menyerbu pos-pos Sekutu bermodalkan senjata seadanya.

Pada saat itu, pertempuran diiringi dengan peristiwa tembak-menembak antara rakyat Surabaya dengan tentara Sekutu. Dalam insiden itu, Jenderal Mallaby yang pemimpin Sekutu tewas setelah terkena tembakan pemuda Surabaya.

Mengutip buku Wahana Ilmu Pengetahuan Sosial oleh Sigit Widiantoro, dkk., tewasnya Mallaby ternyata tidak membuat pihak Sekutu sadar dan kembali kepada tugas awal. Mereka malah mendatangkan pasukan baru yang dipimpin oleh Mayjen E.C. Mansergh.

Ilustrasi hari pahlawan. Foto: freepik

Dalam catatan sejarah disebutkan, Mansergh bersikap gegabah dalam menyikapi situasi di Surabaya. la menulis surat kepada Gubernur R.A. Suryo dan menuduh rakyat Surabaya telah menghalang-halangi tugas pasukan Sekutu.

Pada tanggal 9 November 1945, Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya dengan memerintahkan semua pemimpin dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat-tempat yang telah ditentukan. Selanjutnya, mereka harus menyerahkan diri dan mengangkat senjata di atas.

Mansergh memberi batas waktu hingga pukul 06.00 WIB pada tanggal 10 November 1945. Jika tidak ditaati, pasukan Sekutu akan mengerahkan seluruh kekuatan darat, laut, dan udara untuk menyerang Surabaya.

Ultimatum itu tidak diindahkan rakyat Surabaya. Secara serentak, mereka siap memberi jawaban berupa perang kepada pihak Sekutu.

Komandan Pertahanan Kota Surabaya mengundang seluruh kekuatan rakyat untuk mempertahankan Surabaya dan menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Lewat radio, Bung Tomo memimpin rakyat dengan berpidato membangkitkan semangat mereka.

Ilustrasi hari pahlawan. Foto: freepik

Menurut Elah Nurelah dalam Buku Tematik Terpadu: Tema 8 Bumi, pertempuran hebat tersebut berlangsung selama tiga minggu. Akibatnya, sebanyak 6.000 rakyat Surabaya gugur di medan perang.

Pengaruh pertempuran Surabaya berdampak luas di kalangan internasional, bahkan masuk dalam agenda sidang Dewan Keamanan PBB tanggal 7-13 Februari 1946. Banyak pahlawan yang gugur di sini, termasuk Bung Tomo, Mayjen Sungkono, dan Mohammad Mangoendiprodjo.

Karena alasan itu, pertempuran Surabaya yang berlangsung pada tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional. Kini, Kota Surabaya pun dikenal sebagai kota pahlawan.

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Kapan Hari Pahlawan Nasional diperingati?

chevron-down

Hari Pahlawan Nasional diperingati tiap 10 November.

Apa latar belakang peristiwa pertempuran Surabaya?

chevron-down

Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kedatangan pasukan Sekutu Brigade 49 yang dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby ke Surabaya. Kemudian Pasukan Sekutu mengingkari kesepakatan yang memicu rakyat Surabaya untuk menyatakan perang.

Siapa tokoh yang terlibat dalam pertempuran Surabaya?

chevron-down

Bung Tomo, Moestopo, Mayjen Sungkono, HR Mohammad Mangoendiprodjo, dan masih banyak lagi.