Konten dari Pengguna

Mengapa Belanda Mendirikan STOVIA pada Awal Abad ke-20?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Belanda Mendirikan STOVIA pada Awal Abad ke-20. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Mengapa Belanda Mendirikan STOVIA pada Awal Abad ke-20. Foto: Unsplash

Langkah pemerintah kolonial Belanda mendirikan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) merupakan salah satu pendorong munculnya gerakan kemerdekaan di Indonesia. Jika begitu, mengapa Belanda mendirikan STOVIA pada awal abad ke-20?

STOVIA sendiri adalah sekolah kedokteran Belanda di Indonesia. Sekolah ini melahirkan banyak aktivis kemerdekaan yang terkenal, seperti dr. Sutomo dan dr. Cipto Mangunkusumo.

Untuk memahami motivasi Belanda membangun STOVIA dan hubungannya dengan kemerdekaan, simak uraian di bawah ini.

Alasan Belanda Mendirikan STOVIA pada Awal Abad ke-20

Ilustrasi dokter. Foto: Unsplash

Mengutip situs Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemdikbud, di penghujung abad ke-19, berbagai wabah penyakit tersebar di Pulau Jawa. Hal ini membuat pemerintah kolonial Belanda kesulitan, karena biaya mendatangkan dokter dari Eropa sangat mahal.

Maka dari itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan STOVIA untuk menghasilkan dokter-dokter yang berasal dari kalangan pribumi. Sekolah ini bermula dari Sekolah Dokter Jawa yang ditingkatkan statusnya.

STOVIA membebaskan biaya pendidikan bagi mahasiswanya untuk menarik minat pribumi. Lulusannya diberi gelar Inlandsche-Arts yang dapat digunakan untuk memasuki sekolah dokter di Belanda dan mendapatkan gelar dokter Eropa.

Namun, pada perjalanannya, STOVIA tidak hanya melahirkan dokter yang cakap, tetapi juga tokoh-tokoh aktivis cendekiawan. Para aktivis menyemai semangat nasionalisme remaja pribumi lalu membentuk organisasi pertama di masa pergerakan nasional, yaitu Boedi Oetomo.

Baca Juga: Fakta Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama di Tanah Air

Mengenal Organisasi Perjuangan Boedi Oteomo

Ilustrasi Organisasi Perjuangan Boedi Oteomo. Foto: Unsplash

Boedi Oteomo adalah organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, kebudayaan, serta tidak bersifat politik. Penggagas organisasi Boedi Utomo adalah dr. Wahidin Soedirohusodo. Gagasannya muncul sekitar setahun sebelum organisasi tersebut terbentuk.

Mengutip situs Kebudayaan Kemdikbud, Wahidin Soedirohusodo merupakan dokter lulusan Sekolah Dokter Jawa. Ia membentuk Studiefonds (pengelolaan beasiswa) yang disponsori bangsawan Jawa serta Belanda untuk mendorong kemajuan pendidikan masyarakat pribumi.

Dr. Wahidin mensosialisasikan program beasiswa tersebut dengan berkeliling Jawa, lalu singgah di STOVIA. Saat di STOVIA, dr. Wahidin memberikan wejangan kepada para pelajar mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana membebaskan diri dari keterbelakangan.

Dr. Wahidin juga bertemu dengan dr. Sutomo dan Suraji untuk mendiskusikan ide mencerdaskan kehidupan bangsa. Hasil diskusi tersebut berbuah positif dan melahirkan organisasi Boedi Oteomo.

Pada tanggal 20 Mei 1908, di ruang Kelas Anatomi STOVIA, diselenggarakan pertemuan dan diputuskan ketua Boedi Oteomo adalah R Soetoemo. Adapun nama Boedi Oteomo diusulkan oleh Soeradji dengan mengusung semboyan Indie Vooruit (Hindia Maju).

Tentu saja mendirikan Boedi Oetomo adalah langkah berisiko, sebab mereka bisa saja dipecat dari STOVIA. Namun saat itu, STOVIA memiliki direktur yang berpandangan luas, yakni dr. HF Roll.

Dr. HF Roll memberikan pembelaan yang membuat para dosen bersepakat membiarkan Soetoemo dan rekan-rekannya terus belajar di STOVIA. Selain itu, mereka khawatir jika Soetoemo dkk. keluar, pemerintah Belanda akan kekurangan tenaga dokter.

Akhirnya Boedi Oetomo dibiarkan berkembang, bahkan diberi kesempatan mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908.

(DEL)