Mengapa Rupiah Melemah di Tahun 2026? Ini Faktor Penyebabnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan di awal tahun 2026. Pelemahan ini bahkan membuat rupiah masuk dalam daftar mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia berkembang.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat berada di level Rp 16.954 per dolar AS pada Senin (19/1). Keesokan harinya, Selasa (20/1), rupiah kembali melemah tipis ke posisi Rp 16.955. Pergerakan ini memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung sejak awal pekan.
Meski belum mengarah pada krisis mendadak, kondisi ini tetap perlu diwaspadai. Pelemahan rupiah berpotensi membuat kenaikan harga barang impor dan melemahnya daya beli masyarakat secara bertahap.
Lantas, apa sebenarnya penyebab rupiah melemah di tahun 2026? Mari simak informasi selengkapnya berikut ini.
Penyebab Rupiah Melemah di Tahun 2026
Mengutip laman kumparanBISNIS, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh perpaduan tekanan eksternal dan faktor domestik. “Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan internal,” kata Ibrahim.
Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai dari konflik di Timur Tengah, dinamika politik di Amerika Serikat, hingga serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia, menciptakan ketidakpastian yang turut menekan mata uang negara berkembang.
Sementara dari sisi domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah turut dipengaruhi oleh kondisi fiskal dalam negeri yang belum sepenuhnya kuat. Rilis terbaru terkait kinerja anggaran negara dinilai menjadi salah satu pemicu munculnya gejolak di pasar valuta asing. Adapun defisit APBN 2025 tercatat mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Pelemahan rupiah itu kan karena masalah fiskal ya. Fiskal itu kemarin pada saat rilis itu kan terjadi defisit. Nah ini yang membuat sebenarnya gonjang-ganjing rupiah ini mengalami pelemahan,” kata Ibrahim, Senin (19/1).
Pandangan serupa dikemukakan oleh Pengamat Pasar Uang dari Investindo, Ariston Tjendra. Ia menilai bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di kancah global mendorong dolar AS menguat sebagai aset aman (safe haven), sehingga berdampak langsung pada pelemahan rupiah.
“Isu pertikaian geopolitik yang memanas seperti konsentrasi pasukan Eropa di Greenland untuk menghadapi AS, intervensi AS di Iran membuat dolar AS sebagai salah satu aset aman semakin menguat,” kata Ariston, dikutip dari kumparanBISNIS.
Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, juga menyebut tekanan global pada awal 2026 memang cukup kuat.
Menurut Erwin, kondisi tersebut dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik, meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Menurut Erwin, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya, seperti won Korea Selatan yang juga melemah 2,46 persen dan peso Filipina 1,04 persen.
Adapun dari perspektif fiskal dan fundamental ekonomi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah masih relatif terbatas dan belum menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi.
Ia menilai pergerakan year to date di kisaran 2–3 persen tergolong moderat dan merupakan kondisi yang sudah lazim dihadapi oleh sistem ekonomi nasional. Purbaya menekankan pentingnya menjaga sekaligus terus memperkuat pondasi ekonomi.
Ketika aktivitas ekonomi domestik semakin solid dan persepsi investor membaik, arus modal, termasuk dari investor asing berpeluang kembali masuk. “Jadi ekonomi kita kalau kita jaga terus dan kita akan perbaiki terus ke depan, rupiah akan cenderung menguat,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp 17 Ribu, BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen Hari Ini
(ANB)
