Konten dari Pengguna

Mengapa Sa Angsa Tidak Membuat Uang Kayu yang Bertuliskan Angka 3 atau 4?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu bertuliskan angka 3 atau 4. Foto: pixabay.com/12019
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu bertuliskan angka 3 atau 4. Foto: pixabay.com/12019

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas 4 SD, siswa mempelajari teks fabel yang masuk dalam materi memahami isi cerita dan pesan moral. Melalui teks tersebut, siswa dilatih membaca dengan cermat dan menangkap makna yang terkandung dalam cerita.

Seperti yang termuat dalam buku pelajaran bahasa Indonesia, terdapat teks fabel berjudul "Ditukar dengan Apa?". Setelah membacanya, siswa diminta menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan isi cerita tersebut, salah satunya "Mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu bertuliskan angka 3 atau 4?"

Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, simaklah artikel ini!

Jawaban Mengapa Sa Angsa Tidak Membuat Uang Kayu yang Bertuliskan Angka 3 atau 4?

Ilustrasi mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu bertuliskan angka 3 atau 4. Foto: Unsplash /Aaron Burden

Sebelum menjawab pertanyaan "Mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu bertuliskan angka 3 atau 4?" dari teks fabel "Ditukar dengan Apa?", siswa perlu memahami isi ceritanya terlebih dahulu. Sebab, jawaban pertanyaan tersebut dapat ditemukan langsung di dalam cerita.

Disadur dari buku Bahasa Indonesia Lihat Sekitar SD/MI Kelas IV oleh Eva Yulia N. dan Cicilia Erni S., berikut isi teks fabelnya:

Ditukar dengan Apa?

Seperti biasa, hewan-hewan di Hutan Kelayau saling barter atau bertukar barang di pasar. Mereka menukarkan hasil kebun atau barang yang mereka punya dengan barang yang mereka inginkan. Ka Kancil membawa jagung dari kebunnya. Ia ingin menukar jagung itu dengan kangkung sebab ia ingin makan kangkung siang ini.

Sementara itu, Dak Bebek baru saja memanen kangkungnya. Jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri. Dak Bebek membawa kangkung ke pasar dan berharap bisa menukarkan dengan padi atau jagung. Ka Kancil senang bertemu Dak Bebek. Mereka berdua sama-sama senang karena mendapatkan barang yang mereka inginkan.

Namun, tidak semua hewan dapat bertukar semudah itu. Ela Pelatuk menginginkan bunga untuk menghias rumahnya. Dia sudah membuat sendok kayu sebagai penukar. Namun, Ke Kelinci yang memiliki kebun bunga tidak membutuhkan sendok kayu. Ia sudah punya beberapa sendok hasil bertukar dengan hewan lain.

Hen Ayam tertarik ingin memiliki vas, tetapi Ela tidak memerlukan ubi yang ditawarkan Hen. Ti Tikus perlu ubi, tetapi Hen tidak mau jamur dari Ti Tikus. Ti lalu menawarkan jamurnya ke hewan lain.

Begitulah, hewan-hewan itu sering menemukan masalah saat menukar barang mereka. Sering perlu waktu lama untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan, atau malah mereka tidak mendapatkannya sama sekali. Lagi pula, sayur atau buah yang terus berpindah-pindah, lama-lama tidak enak lagi.

Ah, memusingkan sekali pertukaran ini. Mungkin akan lebih mudah kalau ada satu barang yang dapat mewakili semua barang lainnya. Salah satu hewan mengusulkan batu-batu bulat yang cantik. Hewan-hewan setuju karena mereka tidak perlu lagi bertukar barang. Batu-batu bulat akan menjadi alat pembayaran. Mereka menyebutnya uang.

Akan tetapi, batu-batu itu tidak sama besar, tidak sama cantik, dan tidak sama warnanya. Ti Tikus juga berkeberatan menggunakan batu. Batu-batu itu terlalu berat baginya.

Ela Pelatuk kemudian mengusulkan untuk menggunakan alat pembayaran dari kayu. Ela bisa membuatnya berukuran sama. Kepala Desa Beru senang sekali dengan usulan Ela. Ela ditunjuk sebagai penanggung jawab pembuatan uang.

Ela membuat uang kayu itu berbentuk bundar supaya lebih nyaman untuk dipegang. Sa Angsa menawarkan diri untuk menggambarinya. Kayu bundar bergambar wortel digunakan sebagai pembayar wortel, uang kayu bergambar tomat sebagai pembayar tomat.

Apakah masalah hewan-hewan itu sudah teratasi? Belum semua. Sistem baru ini masih merepotkan. Ti Tikus menginginkan kacang, tetapi dia hanya punya uang bergambar pisang. Ia harus berusaha menukarkan uang- pisangnya dengan uang-kacang. Lalu, Ka Kancil punya satu uang bergambar wortel yang bisa buat membayar empat wortel, tetapi dia hanya memerlukan dua wortel.

Andai saja uang kayu ini boleh dibagi dua …. Ya, itu jawabnya! Ela akan membuat uang kayu dengan ukuran berbeda. Sa Angsa juga muncul dengan ide cemerlang. Ia tidak lagi akan membuat gambar tomat, wortel, atau lainnya. Lebih baik ia menuliskan angka pada uang tersebut: 1, 2, 4, atau 5.

Setelah mereka berdiskusi, diputuskan bahwa Ela Pelatuk akan membuat uang kayu dengan 3 ukuran berbeda: kecil, sedang, dan besar. Lalu, Sa Angsa akan menuliskan angka 1, 2, dan 5. Semua senang. Tidak apa kalau Ke Kelinci punya uang besar berangka 5 untuk membayar dua wortel Ka Kancil. Ka Kancil akan memberinya dua wortel serta satu uang kecil berangka 1 dan satu uang sedang berangka 2.

Walaupun uang kayu tidak seawet uang batu, Ela berhasil mengatasinya dengan hanya memakai kayu dari pohon tertentu yang lebih kuat. Beru juga menetapkan bahwa Kepala Desa akan mengatur penggantian uang kayu yang rusak.

Berdasarkan teks tersebut, jawaban dari pertanyaan "Mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu yang bertuliskan angka 3 atau 4?" adalah karena alasan efisiensi. Nilai uang 3 dan 4 dapat diperoleh dengan cara menambahkan atau mengombinasikan uang bernilai 1, 2, dan 5.

Sebagai contoh, jika Ke Kelinci memiliki uang besar bernilai 5 untuk membayar dua wortel milik Ka Kancil, Ka Kancil akan memberikan dua wortel serta uang kembalian berupa satu uang kecil bernilai 1 dan satu uang sedang bernilai 2.

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 6 Halaman 38 Lengkap

(NSF)