Konten dari Pengguna

Mengapa Tanggal 22 Juni Ditetapkan sebagai HUT DKI Jakarta? Ini Sejarahnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi HUT DKI Jakarta. Foto: flickr.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi HUT DKI Jakarta. Foto: flickr.com

DKI Jakarta adalah ibu kota negara dan wilayah terbesar dengan penduduk terbanyak di Indonesia. Jakarta menjadi satu-satunya kota yang memiliki status setingkat provinsi di Indonesia.

Hari ini, Selasa, 22 Juni 2022, kota Jakarta memperingati hari lahirnya yang ke-495 tahun. Tentunya momen ini disambut dengan sukacita oleh warga Jakarta.

Masyarakat bisa merayakan hari lahir kota Jakarta dengan mengikuti berbagai acara yang telah disusun oleh pemerintah. Mulai dari mengunjungi Art Exhibition “Jakarta Punya Cerita” di Hotel Borobudur, berburu kuliner khas Betawi di Pekan Raya Jakarta hingga menikmati malam puncak perayaan di Jakarta International Stadium.

Selain itu, tidak ada salahnya jika merayakan ulang tahun Jakarta dengan mengenang sejarah perjalanan ibu kota Indonesia ini. Berikut kisah singkat penetapan tanggal 22 Juni sebagai HUT DKI Jakarta.

Ilustrasi HUT DKI Jakarta. Foto: shutterstock.com

Sejarah Hari Lahir Kota Jakarta

Menyadur laman Indonesia.go.id, nama pertama yang digunakan untuk kota Jakarta adalah Sunda Kelapa. Sunda Kelapa sendiri merupakan sebuah pelabuhan yang berada di muara sungai Ciliwung.

Pada 22 Juni 1527, Fatahillah bersama pasukan Demak berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Sejak peristiwa tersebut, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta.

Pada 1619, Jan Pieterszoon Coen pemimpin VOC berhasil menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Demak. Kemudian, Jan Pieterszoon Coen mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.

Di dalam sejarah, nama Batavia dipakai lebih dari 3 abad, yakni mulai dari 1619-1942. Nama Batavia kemudian diganti oleh pemerintah Jepang setelah berhasil menguasai Indonesia.

Pemerintah Jepang mengganti nama Batavia menjadi ‘Jakarta Tokubetsu Shi’. Namun, setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, awalan nama ‘Jakarta’ tetap digunakan orang Indonesia hingga saat ini.

Pada tahun 1953-1958, Sudiro yang menjabat sebagai Wali Kota Jakarta menyadari perlu adanya perbedaan peringatan ulang tahun kota Jakarta dengan perayaan berdirinya Batavia yang dibentuk oleh Belanda.

Untuk itu, Sudiro bersama sejumlah ahli sejarah seperti Mohammad Yamin, Sukanto, serta wartawan senior Sudarjo Tjokrosiswoyo meneliti bersama kapan Jakarta didirikan oleh Fatahillah. Saat itu, Sudiro mempunyai keyakinan jika nama Jakarta dibuat pada tahun 1527.

Namun terkait hari, tanggal, dan bulan lahirnya Jakarta masih dipertanyakan. Kemudian, Sudiro menyerahkan naskah berjudul 'Dari Jayakarta ke Jakarta' kepada Dewan Perwakilan Kota Sementara untuk didiskusikan.

Melalui naskah tersebut, Sudiro menduga bahwa 22 Juni 1527 merupakan hari yang paling dekat pada dibangunnya kota Jayakarta oleh Fatahillah. Lalu, Wali Kota Sudiro mengusulkan tanggal tersebut sebagai berdirinya kota Jakarta.

Usulan pada sidang pleno 22 Juni 1956 diterima dan ditetapkanlah tanggal 22 Juni 1527 sebagai berdirinya kota Jakarta. Sejak saat itu, setiap tanggal 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD kota Jakarta sebagai sebuah tradisi memperingati lahirnya Ibu Kota.

(EAR)