Tekno & Sains
·
20 November 2020 21:38

Mengenal 6 Gas Rumah Kaca yang Bisa Memicu Pemanasan Global

Konten ini diproduksi oleh Berita Hari Ini
Mengenal 6 Gas Rumah Kaca yang Bisa Memicu Pemanasan Global (50267)
Gas rumah kaca membuat suhu bumi menjadi lebih panas
Gas rumah kaca kerap disebut sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim dan berakibat menjadi pemanasan global. Mengutip situs National Aeronautics and Space Administration atau NASA, gas rumah kaca merupakan gas-gas di atmosfer bumi yang berfungsi menangkap panas.
ADVERTISEMENT
Gas rumah kaca mampu menstabilkan temperatur bumi sehingga manusia, hewan, serta tumbuhan bisa hidup. Namun terlalu banyak kadar gas rumah kaca tentu dapat berakibat yang buruk. Sebab, temperatur bumi bisa menjadi terlalu panas.
Apa saja gas-gas yang memicu terjadinya pemanasan global? Bagaimana dampaknya bagi bumi? Berikut enam gas rumah kaca yang utama :

Uap air (H2O)

Uap air adalah air dalam bentuk gas. Air dari darat dan lautan mengalami penguapan karena terkena panas matahari lalu menjadi awan di langit. Kandungan air di dalam awan akan turun kembali ke darat dan laut menjadi hujan. Proses ini memberi efek dingin.

Karbon dioksida (CO2)

Gas ini terdiri dari karbon dan oksigen. Selain dari proses pernapasan, karbon dioksida berasal dari makhluk hidup yang membusuk. Karbon dioksida juga dihasilkan oleh gunung berapi. Namun paling banyak, gas ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
ADVERTISEMENT
Rutinitas sehari-sehari yang juga sebagai penghasil karbon dioksida di antaranya berkendara menggunakan motor atau mobil yang berbahan bakar minyak. Gas jenis ini paling berkontribusi menyebabkan pemanasan global. Semua ini terjadi ketika manusia memasuki era Revolusi Industri dengan kemunculan pabrik dan mesin.

Metana (CH4)

Mengenal 6 Gas Rumah Kaca yang Bisa Memicu Pemanasan Global (50268)
Gas rumah kaca metana berasal dari hewan sapi
Metana berasal dari karbon dan hidrogen atau air. Metana dihasilkan oleh rawa-rawa, sawah padi, peternakan, sampah sisa makanan dan penggunaan gas bumi serta batu bara. Sayangnya, gaya hidup manusia yang modern membuat metana dihasilkan secara berlebihan.
Semakin banyak daging yang kita makan, maka semakin banyak peternakan yang ada di bumi. Hewan-hewan ini menghasilkan metana saat sedang mencerna rumput yang dimakannya. Metana kini dianggap sebagai penyebab pemanasan global terburuk kedua setelah karbon dioksida.
ADVERTISEMENT

Ozon (O3)

Di ketinggian 30 kilometer di langit atau lapisan stratosfer, ozon atau trioksigen membantu penangkalan oleh sinar radiasi matahari. Manusia dan makhluk hidup lainnya tidak bisa terpapar radiasi matahari yang terlalu kuat. Lapisan ozon-lah yang mampu melindungi kita.
Namun, selama ini kita menambah lapisan ozon di langit yang rendah atau troposfer. Dengan adanya ozon di troposfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bumi. Ozon di lapisan troposfer ini terbentuk dari kebiasaan manusia pada saat mengendarai mobil dan aktivitas industri pabrik.

Dinitrogen oksida (N2O)

Dinitrogen oksida biasa dikenal dengan penambah kecepatan di kendaraan dan roket. Secara alami, dinitrogen oksida dihasilkan oleh laut serta bakteri di tanah. Namun, dinitrogen oksida yang berlebihan juga dihasilkan oleh pabrik, pembangkit listrik, dan pupuk. Akibat dinitrogen oksida yang terlalu banyak, akan merusak lapisan ozon.
ADVERTISEMENT
Rusaknya lapisan ozon bisa membuat manusia dan makhluk hidup terpapar radiasi matahari yang bisa merusak tubuh. Kanker kulit salah satu penyakit yang disebabkan radiasi matahari yang terlalu kuat.

Klorofluorokarbon (CFC)

Senyawa ini diciptakan oleh manusia dengan menggabungkan unsur klorin, karbon, hidrogen, dan fluorin. Tujuannya untuk menghasilkan senyawa kimia pendingin yang kita kenal dengan sebutan freon. Pendingin seperti kulkas dan AC menggunakan freon.
Sama seperti dinitrogen oksida, CFC juga dapat lapisan ozon. Selain itu, CFC memperkuat efek gas rumah kaca yang menambah panas bumi. Beruntungnya pada tahun 1987, disepakati perjanjian Montreal Protocol untuk tidak lagi menggunakan gas-gas yang merusak ozon. NASA melaporkan pada 2018, lubang di lapisan ozon mulai pulih akibat pelarangan CFC.
ADVERTISEMENT
(VIO)