Mengenal Apa Itu La Nina dan Dampaknya di Indonesia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Ā·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi terjadinya fenomena "pemanggil hujan" atau La Nina di Indonesia. Kedatangan La Nina diperkirakan berlangsung pada akhir tahun 2025.
La Nina sering dianggap sebagai pertanda masuknya musim penghujan di Tanah Air. BMKG pun mengimbau masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang mungkin terjadi.
Karena berdampak pada perubahan cuaca, El Nina dapat memengaruhi beberapa sektor seperti pertanian dan transportasi. Lantas, apa sebenarnya La Nina dan bagaimana pengaruhnya terhadap cuaca di Indonesia? Simak penjelasan menurut BMKG berikut ini.
Apa Itu La Nina?
Mengutip laman resmi BMKG, La Nina merupakan fenomena ketika Suhu Muka Laut (SML) di bagian tengah Samudra Pasifik mengalami pendinginan di bawah kondisi normal.
Akibatnya, pertumbuhan awan di wilayah Pasifik berkurang, sedangkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia justru meningkat.
Berdasarkan laporan Prediksi Musim Hujan 2025/2026 di Indonesia susunan BMKG, kondisi ENSO (El NiƱo-Southern Oscillation) pada tahun 2025 diperkirakan masih berada dalam fase netral.
Namun, sejumlah model iklim global menunjukkan adanya potensi kemunculan La Nina lemah menjelang akhir tahun. Hal ini bisa memicu peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Adapun hingga bulan Oktober 2025, fenomena ini belum terlihat dominan, tetapi sinyalnya mulai terdeteksi dan patut diwaspadai karena dapat memperkuat curah hujan apabila beriringan dengan kondisi lain seperti IOD negatif.
Sementara itu, curah hujan di sejumlah daerah di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data BMKG, sekitar 42% wilayah (297 zona musim) kini telah memasuki musim hujan.
Dikutip dari laman Instagram BMKG, wilayah-wilayah yang saat ini mengalami peningkatan curah hujan adalah:
Sebagian Aceh
Sebagian Sumatra Utara
Riau
Sumatra Barat
Kep. Riau
Jambi
Sebagian Sumatra Selatan
Sebagian Lampung
Bangka Belitung
Sebagian Banten
Sebagian Jawa Barat
Jakarta bagian Selatan
Sebagian Jawa Tengah
Jawa Timur bagian Timur
Sebagian Bali
Sebagian Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Sulawesi Selatan bagian Utara
Sebagian Sulawesi Barat
Sebagian Sulawesi Tengah
Gorontalo
Sebagian Sulawesi Utara
Maluku Utara
Sebagian Maluku
Papua Barat Daya
Papua Barat
Papua Pegunungan
Papua Selatan
Dampak Fenomena La Nina
Fenomena La Nina membawa dampak positif serta negatif bagi masyarakat. Dikutip dari laman BMKG Jawa Timur, berikut beberapa dampak yang ditimbulkan:
Dampak Positif La Nina
1. Sektor Pangan
Curah hujan yang lebih tinggi dapat meningkatkan ketersediaan air untuk irigasi, terutama di lahan pertanian tadah hujan. Kondisi ini juga berpeluang meningkatkan produktivitas tanaman karena pasokan air yang mencukupi sepanjang musim tanam.
2. Sektor Air
Peningkatan curah hujan membuat waduk, bendungan, dan embung terisi lebih cepat. Hal ini membantu menjaga cadangan air untuk menghadapi musim kemarau serta memperluas akses masyarakat terhadap air bersih.
3. Sektor Energi
Ketersediaan air yang melimpah membuat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dapat beroperasi secara optimal dan menjaga stabilitas pasokan energi.
Dampak Negatif La Nina
1. Sektor Pangan
Curah hujan yang berlebihan dapat menyebabkan banjir di lahan pertanian yang meningkatkan risiko gagal panen. Selain itu, kondisi lembap juga memicu munculnya berbagai penyakit tanaman.
2. Sektor Air
Hujan ekstrem berpotensi menimbulkan banjir di sekitar waduk atau bendungan yang meluap, serta memperparah erosi tanah. Banjir dan longsor juga bisa merusak infrastruktur air dan mencemari sumber mata air bersih.
3. Sektor Energi
Banjir besar dapat menghambat operasional pembangkit listrik dan merusak jaringan energi. Sementara itu, kelembapan udara yang tinggi bisa menyebabkan gangguan pada fasilitas energi yang berada di dataran rendah.
Baca Juga: Kenapa Jogja Panas? Ini Penjelasan Menurut BMKG
(ANB)
