Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.103.0
Konten dari Pengguna
Mengenal Arti Muhkam dan Mutasyabih yang Berkaitan dengan Al-Quran
12 Juli 2022 14:00 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Mengamalkan ayat-ayat Al-Quran bisa dilakukan jika umat Muslim mengetahui makna sebenarnya. Untuk itu, para mufassir (penafsir Al-Quran) menjabarkan arti dari setiap ayat Al-Quran agar siapa pun dapat memahami maksud penjelasan di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Ada ayat-ayat yang langsung dapat dipahami manusia dan ada pula yang tidak. Dalam ajaran Islam, hal ini disebut muhkam dan mutasyabih.
Apa Itu Muhkam dan Mutasyabih?
Muhkam dan mutasyabih adalah pemaknaan mengenai ayat Al-Quran. Muhkam merujuk pada ayat yang punya makna tunggal, sedangkan mutasyabih adalah ayat yang perlu ditakwilkan.
Berdasarkan studi dalam jurnal Islamika, secara etimologi, muhkam berasal dari kata hakama yang artinya sesuatu yang fasih, jelas, serta membedakan antara yang hak dan batil. Sedangkan utasyabih berasal dari bahasa Arab syahaba yang artinya keadaan di mana ayat Al-Quran memiliki makna yang sukar dimengerti.
Ayat-Ayat Muhkam
Para ulama berpendapat bahwa ayat-ayat muhkam punya arti yang jelas, seperti arti surat Hud ayat 1 yang berbunyi: "Suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti."
ADVERTISEMENT
Selain itu, contoh lain ayat yang tergolong muhkam adalah surat Al Baqarah ayat 21, 43, dan 275.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 21)
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
Artinya: Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (Q.S. Al-Baqarah: 43)
وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰو
Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Q.S. Al-Baqarah: 275)
Ayat-Ayat Mutasyabih
Keberadaan ayat mutasyabih terjadi karena tiga perkara, yaitu akibat kesamaran pada lafal, arti, dan pada lafal beserta artinya. Kesamaran lafal pada ayat Al-Quran terbagi menjadi dua macam, yaitu:
ADVERTISEMENT
1. Kesamaran pada lafal mufrud
Kesamaran pada lafal mufrud (lafal yang belum tersusun dalam kalimat), yakni lafal yang artinya tidak jelas, baik karena lafalnya yang gharib (asing) atau musytarak (bermakna ganda).
Contoh kesamaran lafal mufrad yang gharib (asing):
وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا
Artinya: Buah-buahan, dan rerumputan. (Q.S. 'Abasa: 31)
Bacaan اَبًّا dalam ayat di atas dikategorikan sebagai mutasyabih karena jarang dipakai, sehingga tergolong asing. Kata اَبًّا dimaknai sebagai rerumputan yang berdasarkan pemahaman ayat selanjutnya:
مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ
Artinya: (Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu. (Q.S. 'Abasa: 32)
Contoh ayat dengan kesamaran lafal mafrud yang musytarak (bermakna ganda):
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا ۢبِالْيَمِيْنِ
Artinya: Dia lalu menghadap ke (berhala-berhala) itu sambil memukul dengan tangan kanan(-nya). (Q.S. As-Saffat: 93)
ADVERTISEMENT
Bacaan لْيَمِيْنِ bermakna ganda karena kata tersebut bisa berarti tangan kanan atau kekuatan.
2. Makna ayat yang tidak jelas
Contoh makna ayat yang tidak jelas bisa dilihat dalam surat Luqman ayat 34 yang bunyinya:
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ
Artinya: Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (Q.S. Luqman: 34)
ADVERTISEMENT
3. Kesamaran pada lafal dan makna ayat
Contohnya adalah ayat berikut ini:
۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَا ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 189)
Kesamaran yang terdapat pada ayat tersebut adalah lafal yang terlalu ringkas dan makna yang sulit dimengerti karena mengandung adat kebiasaan khusus orang Arab yang tidak diketahui bangsa lain.
(DAF)