Mengenal Haji Backpacker, Alternatif Menunaikan Haji dengan Modal Minim

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah haji backpacker populer di kalangan umat Muslim seluruh dunia. Jika diterjemahkan secara bahasa, haji backpacker artinya ibadah haji yang dilakukan dengan modal sendiri.
Haji backpacker hanya bermodalkan visa, paspor, sejumlah uang pribadi, dan barang-barang bawaan yang disimpan di dalam tas ransel (backpack) atau koper. Mereka tidak mendapatkan fasilitas hotel dan makanan layaknya jemaah haji reguler.
Semua biaya selama menjalankan ibadah di Mekkah ditanggung oleh uang pribadi. Biaya akomodasi seperti tiket pesawat, uang makan, dan keperluan lainnya pun ditanggung sendiri.
Meski sering menemui banyak kendala dan tantangan, tren haji backpacker selalu diminati oleh jemaah setiap tahunnya. Jika tertarik, simak penjelasan tentang haji backpacker selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Haji Backpacker
Seperti disebutkan sebelumnya, haji backpacker mendapatkan modalnya 100% dari uang pribadi. Ia bisa mengatur pengeluarannya sendiri, sehingga biaya perjalanan dan akomodasi pun bisa ditekan agar lebih hemat.
Karena tidak mendapatkan fasilitas hotel layaknya jemaah haji reguler, maka jemaah haji backpacker harus mencari tempat tinggal sendiri yang aman dan nyaman. Jemaah bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan dan modal masing-masing.
Tak jarang, beberapa jemaah juga memutuskan untuk tinggal dan tidur di masjid-masjid sekitar Mekkah atau Madinah. Untuk makanan sehari-hari, mereka membelinya menggunakan uang pribadi.
Hal terpenting saat menjalankan haji backpacker adalah mempersiapkan sejumlah dokumen keimigrasian. Dokumen tersebut harus lengkap untuk menghindari kendala atau masalah saat melaksanakan ibadah haji.
Beberapa dokumen yang dibutuhkan ketika menjalankan haji backpacker antara lain visa, paspor, dan KTP. Karena tidak terdaftar sebagai jemaah haji reguler, maka haji backpacker pun harus menggunakan visa lain. Misalnya, visa untuk umroh, visa turis, dan sejenisnya.
Dijelaskan dalam buku Catatan Petugas Kloter Haji 2019 susunan H. Lukman Hakim, M.Si., fenomena haji backpacker bisa dipraktikkan dengan berbagai metode. Ada yang berjalan kaki dari negara asal, menempuh perjalanan laut, perjalanan darat, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, dibutuhkan tekad yang kuat apabila ingin menunaikan haji backpacker. Jemaah juga harus memiliki jiwa petualang dan tidak takut akan tantangan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan perjalanan panjang tersebut, salah satunya yaitu jemaah harus menguasai bahasa asing minimal bahasa Inggris. Sebab, selama perjalanan tentu jemaah akan bertemu dengan banyak orang.
Untuk bisa berkomunikasi dengan baik, maka jemaah perlu menguasai bahasa yang bisa diterima secara internasional. Jemaah juga bisa mempelajari bahasa Arab untuk memudahkan aktivitasnya saat beribadah di Mekkah.
Tidak lupa, jemaah juga harus memahami tata cara dan rukun haji yang sah menurut agama Islam. Jemaah bisa mempelajarinya sebelum memutuskan untuk melakukan haji backpacker.
Sebagaimana dikutip dari buku Haji Pertamaku susunan Tim Duta, rukun haji yang wajib ditunaikan di Tanah Suci antara lain ihram, wukuf di Padang Arafah, tawaf ifadhah, sa'i, tahallul, dan tertib.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa saja dokumen keimigrasian yang dibutuhkan haji backpacker?

Apa saja dokumen keimigrasian yang dibutuhkan haji backpacker?
KTP, visa, dan paspor.
Apakah haji backpacker lebih murah?

Apakah haji backpacker lebih murah?
Haji backpacker menjadi lebih murah karena jemaah bisa menyesuaikan biaya akomodasi dan kebutuhan hidupnya sendiri menggunakan uang pribadi.
Kenapa jemaah wajib menguasai bahasa Inggris?

Kenapa jemaah wajib menguasai bahasa Inggris?
Sebab, selama perjalanan haji backpacker tentu jemaah akan bertemu dengan banyak orang. Untuk bisa berkomunikasi dengan baik, maka jemaah harus bisa menguasai bahasa yang diterima secara internasional.
