Mengenal Komunitas Jawi, Kelompok Muslim di Makkah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelajaran sejarah kelas 11 SMA Kurikulum Merdeka Bab 2 mengenai Pergerakan Kebangsaan Indonesia, khususnya tentang Kebangkitan Bangsa Timur, terdapat pembahasan mengenai Komunitas Jawi.
Komunitas Jawi merujuk pada sekelompok umat Islam asal Nusantara dan Asia Tenggara yang menetap dan menuntut ilmu di Makkah, terutama pada abad ke-17 hingga ke-20. Komunitas Jawi juga sering dikenal dengan sebutan “Ashhab Al-Jawiyyin”.
Komunitas Jawi mempunya peran penting dalam penyebaran Islam dan pengembangan pendidikan di wilayah tersebut. Untuk mengenal lebih dalam mengenai Komunitas Jawi, simak informasi lengkapnya berikut ini.
Apa itu Komunitas Jawi?
Sebelum terbentuknya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), pelajar-pelajar Indonesia dan umat Islam dari Asia Tenggara di Makkah sudah tergabung dalam sebuah perkumpulan yang dikenal sebagai Komunitas Jawi.
Mengutip buku Manajemen Pendidikan Pluralistik: Diskursus Destruksi Arca oleh Dr.Kms.Badaruddin, dkk (2023), Komunitas Jawi merujuk pada orang-orang berbahasa Melayu yang sedang mendalami Islam di Haramayn atau Tanah Suci.
Komunitas ini memainkan peran penting dalam menjadikan Makkah sebagai pusat kehidupan keagamaan Indonesia pada abad ke-19. Hal ini terjadi karena banyak ulama yang datang ke Makkah untuk mendalami agama Islam, kemudian berinteraksi dengan cendekiawan yang membawa ilmu pengetahuan dan pemikiran baru.
Dalam jurnal bertajuk Komunitas Jawi di Makkah Analisis Abad 17 hingga 20 oleh Elly Damayanti Pulungan dijelaskan bahwa Komunitas Jawi terbentuk atas inisiatif ulama-ulama Nusantara pada abad ke-17 seperti Nurrudin Al-Raniri, Abdul Rauf al-Singkili, dan Muhammad Yusuf Al-Makassari.
Pembentukan Komunitas Jawi terus berlanjut hingga abad ke-18, dengan kedatangan ulama seperti Syaikh Abd Al-Shamad Al Palimbani, Kemas Fakhr Al-Din, Syihab Al-Din, dan Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dua tokoh ulama penting lainnya ada Muhammad Nawawi Al-Bantani dan Syeh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Muhammad Nawawi Al-Bantani, khususnya, memiliki peran besar dalam proses transisi sejarah Indonesia dari masa Islam ke masa Hindia Belanda. Karya-karyanya menjadi sumber utama dalam pengajaran di pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara.
Tujuan Dibentuknya Komunitas Jawi
Sama seperti organisasi lainnya, Komunitas Jawi juga memiliki tujuannya tersendiri. Dikutip dari materi presentasi bertajuk “Komunitas Jawi” yang diunggah oleh Geraldin Anya, berikut ini tujuan dibentuknya Komunitas Jawi:
Komunitas Jawi berusaha untuk menjaga dan memperkenalkan warisan budaya serta tradisi Melayu yang berkaitan dengan aksara Jawi.
Meningkatkan pemahaman dan pemakaian aksara Jawi di kalangan anggota komunitas, khususnya dalam konteks pendidikan dan literasi.
Menggunakan aksara Jawi sebagai sarana untuk mempromosikan bahasa Melayu dan memperkaya kekayaan linguistik.
Mengorganisir acara sosial dan budaya yang berfokus pada aksara Jawi, seperti pameran, festival, dan pelatihan.
Membantu anggota komunitas untuk lebih mengenali dan menjaga identitas budaya mereka yang berhubungan dengan Jawi.
Dalam konteks Islam, aksara Jawi digunakan dalam teks-teks agama, dan komunitas Jawi bertujuan untuk meningkatkan pemahaman agama.
Menggunakan aksara Jawi untuk menghargai dan merayakan perbedaan budaya, terutama dalam masyarakat yang beragam.
Mendorong pemanfaatan teknologi untuk mempermudah pembelajaran dan penerapan aksara Jawi.
Baca juga: 25 Contoh Kalimat Penutup Ceramah Islam yang Berkesan
(RK)
