Konten dari Pengguna

Mengenal Maqam Ibrahim, Tempat Nabi Ibrahim Berpijak Saat Membangun Ka'bah

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maqam Ibrahim. Foto: hajinformation.com
zoom-in-whitePerbesar
Maqam Ibrahim. Foto: hajinformation.com

Salah satu tempat yang selalu dikerumuni jemaah haji dan umrah saat sedang melaksanakan thawaf adalah Maqam Ibrahim. Kata maqam di sini bukanlah bermakna makam sebagai tempat peristirahatan terakhir, melainkan sebuah prasasti peninggalan zaman Nabi.

Tak sedikit jamaah yang penasaran dengan Maqam Ibrahim. Bahkan, ada yang bertindak berlebihan hingga mengusap, menciumi, ataupun berdoa menghadap batu yang kini dilindungi kurungan kaca berkerangka emas tersebut.

Lantas, apa sebenarnya keistimewaan Maqam Ibrahim?

Tempat Berdirinya Nabi Ibrahim

Bagi umat Muslim, Maqam Ibrahim menjadi salah satu peninggalan zaman Nabi yang begitu dihormati. Bukan tanpa alasan, dahulu, Maqam Ibrahim adalah sebuah batu yang dibawa oleh Nabi Ismail untuk ayahnya, Ibrahim agar dijadikan sebagai pijakan saat membangun dinding Ka’bah yang tinggi.

Melansir laman aboutislam.net, batu yang dipijak oleh Nabi Ibrahim tersebut, atas izin Allah lama kelamaan berubah menjadi lunak sehingga telapak kaki Nabi Ibrahim tercetak di atasnya.

Telapak Kaki Nabi Ibrahim

Maqam Ibrahim. Foto: Madain Project

Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti berapa besar ukuran telapak kaki Nabi Ibrahim. Namun, telapak kaki yang tercetak di atas Maqam Ibrahim berukuran sedalam 10 cm dengan panjang 27 cm dan lebar 14 cm.

Dahulu, jari-jari Nabi Ibrahim tercetak jelas di batu tersebut. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dikarenakan banyak orang yang menyentuhnya, bentuk asli telapak kaki Nabi Ibrahim menjadi tidak terlihat.

Menjadi Tempat Shalat

Suatu ketika, setelah Rasulullah SAW selesai melakukan thawaf, Ummar Bin Khattab menyampaikan sesuatu kepada Rasulullah.

Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita shalat di belakang Maqam Ibrahim." Kemudian, Nabi Muhammad menjawab, "Wahai Umar, belum turun perintah Allah tentang itu."

Tidak lama setelahnya, turunlah wahyu Allah kepada Rasulullah sebagai jawaban gagasan Umar Bin Khattab.

واتخذوا من مقامإبراهيم مصلى

Artinya: "dan hendaknya kalian menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat untuk shalat" (QS Al-Baqarah: 125)

Setelah itu, Rasulullah selalu melakukan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim setelah thawaf. Sampai sekarang, jemaah haji dan umrah disunnahkan untuk shalat dua rakaat di tempat ini.

Pada masa pemerintahannya, Umar Bin Khattab pernah memindahkan maqam Ibrahim ke arah timur. Hal ini dilakukannya agar seseorang yang sedang melakukan tawaf tidak menghalangi orang yang shalat di Maqam Ibrahim.

(ADS)