Mengenal Pacu Jalur, Budaya Riau yang Jadi Gerakan Aura Farming

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dilimpahi ragam budaya yang tak hanya menarik, tapi juga penuh makna. Salah satu budaya unik yang viral di jagat maya belakangan ini adalah Pacu Jalur dari Riau.
Viralnya budaya Pacu Jalur berkaitan dengan slang aura farming yang tren di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Mengutip Wiktionary, aura farming merujuk pada gerakan yang dilakukan seseorang ketika ingin menunjukkan karismanya. Biasanya gerakan ini dilakukan oleh pemain sepak bola ketika berhasil mencetak gol.
Nah, gerakan aura farming mirip dengan tarian pendayung Pacu Jalur atau yang biasa disebut anak pacu. Sebenarnya, apa itu Pacu Jalur?
Mengenal Budaya Pacu Jalur
Pacu Jalur adalah olahraga tradisional yang telah menjadi budaya di Riau, khususnya Kabupaten Kuantan Singingi. Dikutip dari buku TPACK dalam Pembelajaran IPA Berbasis Kearifan Lokal (Teori & Praktik) susunan Aldeva Ilhami, M.Pd, kata “pacu” merujuk pada lomba mendayung.
Sedangkan yang dimaksud dengan “Jalur” oleh masyarakat Riau adalah sampan atau perahu dari kayu. Dulunya, Jalur menjadi alat transportasi utama warga desa Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan.
Seiring berkembangnya zaman, alat transportasi yang penuh hiasan itu akhirnya dilombakan. Awalnya, hanya warga kampung sekitar Sungai Kuantan yang mengadakan Pacu Jalur. Mereka menggelarnya setiap hari besar Islam, seperti 1 Muharram, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Namun, kini Pacu Jalur jadi agenda resmi Pemda yang diadakan setiap bulan Agustus untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Durasi perlombaannya bisa memakan waktu 2-3 hari, tergantung jumlah Jalur yang ikut pacu.
Pacu Jalur berbeda dari jenis olahraga dayung lainnya, karena pendayung (anak pacu) tidak sekadar mendayung menuju garis finish. Mereka juga menyuguhkan pertunjukkan tarian yang dibawakan oleh salah satu anak pacu.
Anak pacu yang menjadi Tukang Tari biasanya berumur 8-12 tahun. Mereka memiliki keseimbangan tubuh yang luar biasa, karena harus berdiri di ujung perahu dan melakukan tarian yang unik.
Tarian anak pacu tersebut tentunya memiliki makna. Mereka menari untuk memberi tahu apabila posisi Jalurnya sedang unggul, sehingga menjadi motivasi untuk anak pacu.
Selain itu, ada pula Tukang Timbo yang berada di tengah sampan sambil memegang upia atau pelepah pinang kering. Tugasnya adalah memberi tanda pada anak pacu untuk mendayung lebih kuat, karena Jalurnya mulai tertinggal oleh Jalur lawan. Ia juga bertugas mengeluarkan air yang masuk ke dalam perahu.
Peran lain yang tak kalah penting dalam lomba Pacu Jalur adalah Tukang Pinggang. Ia merupakan nahkoda yang memimpin 40-60 anak pacu dalam perahu. Tukang Pingganglah yang menentukan arah kemudi, seperti belok ke kiri atau kanan.
Baca Juga: Pacu Jalur, Festival Meriah di Riau yang Sarat Akan Unsur Sejarah
(DEL)
