Konten dari Pengguna

Mengenal Penanggalan Kongzili yang Digunakan Masyarakat Tionghoa

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenel Penanggalan Kongzili yang Digunakan Masyarakat Tionghoa. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Mengenel Penanggalan Kongzili yang Digunakan Masyarakat Tionghoa. Foto: Unsplash

Kongzili artinya penanggalan berdasarkan revolusi bulan mengelilingi bumi. Perhitungannya berbeda dengan penanggalan Masehi yang mengacu pada peredaran bumi mengelilingi matahari.

Penanggalan Kongzili disebut juga sistem penanggalan lunar. Tapi di Indonesia, Kongzili lebih dikenal dalam bahasa Hokian, yaitu Imlek. Jadi, pada dasarnya Tahun Baru Kongzili memiliki arti yang sama dengan Tahun Baru Imlek.

Sistem penanggalan lunar yang digunakan saat ini dihitung sejak 551 tahun sebelum Masehi. Dengan demikian, tepat di hari Imlek yang jatuh pada 10 Feburari 2024, kalender Kongzili akan berganti menjadi tahun 2575.

Sejarah Penanggalan Kongzili

Sejarah Penanggalan Kongzili. Foto: Pexels

Mengutip informasi dari laman Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, kalender Kongzili diciptakan Huang Di (Kaisar Kuning) pada kisaran tahun 2698-2596 SM. Berdasarkan catatan sejarah dalam agama Khonghucu, Huang Di adalah Raja sekaligus Nabi Purba Ru Jiao ketiga yang memimpin Tiongkok pada waktu itu.

Huang Di memang seorang ahli astronomi. Ia menciptakan kalender Kongzili berdasarkan filosofi "Yin" yang diwakili bulan dan "Yang" yang melambangkan matahari. Selain itu, penanggalan ini melibatkan Lima Elemen dalam kepercayaan Tionghoa, yaitu Api, Air, Kayu, Logam, dan Tanah.

Penanggalan ciptaan Huang Di ini disebut juga kalender Xia, karena yang menggunakannya pertama kali adalah dinasti Xia (2205-1766 SM). Kalender ini sangat berguna dan cocok dengan kehidupan petani di masa itu.

Mengutip situs China Highlights, kalender lunar terus dipakai hingga beberapa abad berikutnya, tapi namanya berkali-kali mengalami perubahan. Kalender lunar pada masa Dinasti Han (206 SM-220 M) disebut kalender Taichu. Kemudian berganti nama lagi menjadi kalender Huangji pada masa Dinasti Tang (618–907).

Sistem kalender lunar akhirnya resmi diganti pada masa dinasti Manchu/Manqing pada 1922. Sistem penanggalannya diubah menjadi Yang Lik (Masehi) oleh pemerintah Republik Tiongkok.

Berdasarkan catatan sejarah, terutama kitab-kitab suci Ru Jiau, perhitungan Tahun Baru Imlek yang kita gunakan sekarang dimulai penggunaannya pada zaman dinasti Han, tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Han Wu Di (140-86 SM).

Perbedaan Kalender Lunar dan Masehi

Perbedaan Kalender Lunar dan Masehi. Foto: Pexels

Perbedaan paling mencolok dari kalender lunar dan Masehi adalah jumlah harinya. Mengutip situs Family Search, kalender Masehi memiliki jumlah hari sebanyak 7 dalam satu minggu. Sementara kalender lunar terdiri dari 9 atau 10 hari dalam sepekan (xún).

Kalender lunar juga dibagi menjadi 24 istilah matahari yang setiap bulannya diwakili dua istilah. Mengutip China Highlights, 24 istilah ini diciptakan para petani Tiongkok kuno untuk memandu urusan pertanian mereka.

Berikut daftar istilah matahari pada kalender lunar yang tidak ada dalam kalender Masehi.

  1. Awal Musim Semi: Terjadi di sebagian besar Tiongkok

  2. Air Hujan: Terjadi peningkatan curah hujan.

  3. Kebangkitan Serangga: Guntur mulai sering terdengar dan serangga yang berhibernasi terbangun.

  4. Ekuinoks Musim Semi: Durasi siang dan malam yang sama.

  5. Jelas dan Cerah: Cuaca cerah dan hangat.

  6. Hujan Gandum: Tanaman menunjukkan tunasnya.

  7. Awal Musim Panas: Terjadi di Tiongkok selatan.

  8. Kecil Penuh: Benih tanaman musim panas mulai berbuah, tetapi belum matang.

  9. Butir di Telinga: Gandum menjadi matang.

  10. Titik Balik Matahari Musim Panas: Siang hari adalah waktu terpanjang dan malam hari adalah waktu terpendek dalam setahun.

  11. Panas Kecil: Awal periode terpanas.

  12. Panas Besar: Waktu di mana durasi sinar siang sangat lama, suhu rata-rata tinggi, curah hujan tinggi, dan badai petir sering terjadi.

  13. Awal Musim Gugur: Terjadi di sebagian besar wilayah Tiongkok.

  14. Batas Panas: Akhir musim panas yang terik.

  15. Embun Putih: Peralihan dari musim panas ke musim gugur.

  16. Ekuinoks Musim Gugur: Durasi siang dan malam yang sama.

  17. Embun Dingin: Cuaca menjadi dingin, tapi tidak cukup dingin untuk mencapai titik beku.

  18. Embun Beku: Cuaca menjadi dingin dan embun beku mulai terbentuk.

  19. Awal Musim Dingin: Biasanya terjadi lebih dulu di Tiongkok bagian utara.

  20. Salju Kecil: Salju mulai turun, cuaca menjadi dingin.

  21. Salju Mayor: Turun salju lebat.

  22. Titik Balik Matahari Musim Dingin: Siang hari adalah waktu terpendek dan malam hari adalah waktu terpanjang.

  23. Dingin Ringan: Cuaca mencapai titik terdinginnya.

  24. Dingin Mayor: Waktu terdingin di sepanjang tahun.

Baca Juga: Jenis-jenis Sembahyang Imlek bagi Masyarakat Tionghoa

(DEL)