Mengenal Pengertian dan Ciri-ciri dari Tari Kontemporer

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari kontemporer merupakan jenis tarian yang terpengaruh dampak modernisasi serta bersifat bebas dan tak terikat oleh ketentuan gerak sebagaimana pada tarian tradisional. Salah satu contoh tari kontemporer seperti tari Cak Rina karya Sardono W. Kusumo dan tari Yapong karya Bagong Kussudiarjo.
Sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘kontemporer’ sendiri memiliki arti ‘pada waktu yang sama’ atau ‘masa kini’. Dengan begitu, tari kontemporer dapat diartikan sebagai tarian yang menggambarkan keadaan masa kini dan saat diciptakan memiliki ketentuan di luar dari tari pada umumnya.
Tujuan dari hadirnya tari kontemporer ternyata ada banyak ragamnya. Di antaranya untuk tujuan pendidikan, komunikasi, hiburan/reksiasi semata, dan arstistik yang bisa dinikmati seniman lain.
Meski gerakannya terkesan bebas, tari kontemporer juga memiliki ciri khas tersendiri. Berikut ini adalah ciri-ciri dari tari kontemporer:
Geraknya cenderung menentang kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam tari tradisi maupun tari yang telah mapan yang berlaku dalam masyarakat,
Ekspresi yang dimunculkan adalah ekspresi pribadi bukan ekspresi komunitas tertentu atau etnik tertentu, dan tidak bersifatkan kolektif,
Sumber garapan gerak boleh bebas, namun sesuai dengan tema tari apakah bersumber dari tari tradisi atau pencaharian di studio tari,
Pola iramanya baik musik dan gerak tidak selalu bersifat ritmis dan melodis, malah sering lepas dari melodis dan ritmis,
Naskah atau konsep cerita yang diungkapkan melalui karya tari tersebut mesti yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan yang kekinian,
Musik dan tari tidak menyatu dalam satu pola irama, namun menyatu dalam suasana. Musik merupakan bagian dari cerita tarian atau konsep garapan,
Durasi atau waktu pertunjukan apabila diulang selalu tidak konstan, begitu juga ekspresi penari, bentuk gerak dan tekanan atau aksennya pun tidak konstan,
Sulit untuk mengulangi pertunjukannya agar persis sama, dan tidak dapat dipertahankan keberadaanya dalam waktu yang lama.
(Rav)
