Mengenal Sejarah Jakarta: dari Kota Pelabuhan hingga Daerah Khusus Ibu Kota

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam waktu dekat, warga Jakarta akan merayakan HUT Jakarta yang ke-494. Peringatan ini mengacu pada penetapan yang dikeluarkan oleh Sudiro, Wali Kota Jakarta periode 1953-1958.
Mengutip kumparanNEWS, Hari Ulang Tahun Jakarta tahun ini mengusung tema "Jakarta Bangkit". Tema ini mencerminkan Jakarta yang mulai bangkit dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya di tengah pandemi covid-19.
Berbicara tentang kelahiran Kota Jakarta, hal ini tentu tidak bisa lepas dari berbagai peristiwa bersejarah. Mulai dari masa penjajahan hingga pergantian nama dari waktu ke waktu.
Untuk memperkaya pengetahuan, mari simak sejarah Jakarta yang dikutip dari Jurnal Dari Oud Batavia sampai Nieuwe Batavia: Sejarah Kota Batavia 1596-1900 oleh Yudi Prasetyo dan situs resmi Indonesia.go.id.
Sejarah Jakarta
Dahulu, Jakarta dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Kota ini merupakan bandar terbesar di daerah Sunda, tepatnya di wilayah barat Pulau Jawa. Kala itu, Sunda Kelapa menarik perhatian orang Eropa dengan rempah-rempah yang dimilikinya.
Pada 22 Juni 1527, Fatahillah bersama pasukan gabungan Demak-Cirebon berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Sejak saat itu, nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta. Orang Barat yang singgah ke kota tersebut menyebutnya dengan nama Jacatra.
Pada 1619, Jan Pieterzoon Coen datang bersama 1.000 pasukan dan menyerang Kerajaan Banten. Mereka mulai menguasai Jayakarta. Pada 4 Maret 1621, nama Jayakarta diubah menjadi Batavia melalui kesepakatan De Heeren Zeventien dari VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Nama Batavia sendiri berasal dari etnis Jermanik yang bermukim di tepi sungai Rhein, Bataf. Mereka dianggap sebagai nenek moyang Belanda dan Jerman.
Bangsa Belanda sangat mengagungkan nenek moyangnya, sehingga nama tersebut diabadikan di Indonesia. Di sisi lain, Batavia juga menjadi nama kapal layar VOC yang dinakhodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz.
Pada 1869, monumen JP Coen dibangun sebagai bentuk penaklukan Jayakarta. Patung ini juga menjadi tanda awal mula penjajahan Belanda di Tanah Air. Konon, monumen JP Coen tersebut dibangun di halaman Kementerian Keuangan saat ini.
Pada 1942, sesuai dengan kebijakan de-Nederlandisasi Pemerintah Jepang, nama Batavia diganti dengan bahasa Indonesia dan Jepang. Kota "Djakarta" dan "Jakarta Tokubetsu Shi" menjadi sebutan baru untuk Batavia.
Setelah momen kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ke-2 dan kemerdekaan Indonesia, nama Jakarta tetap digunakan oleh orang Indonesia. Namun, nama Jepang-nya sudah ditinggalkan.
Memasuki zaman kemerdekaan Indonesia, Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, Menteri Penerangan RIS (Republik Indonesia Serikat) kala itu menegaskan bahwa tidak ada sebutan Batavia untuk Jakarta. Sejak saat itulah Ibu Kota Republik Indonesia resmi disebut sebagai Jakarta.
Pada 22 Juni 1956, Wali Kota Jakarta, Sudiro mengukuhkan pemberian nama Jakarta. Tanggal tersebut pun ditetapkan sebagai hari lahir Jakarta.
Lalu pada 1959, status Jakarta dari sebuah kota praja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat Satu yang dipimpin Gubernur. Dua tahun kemudian, status Jakarta diubah kembali dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibu Kota atau DKI.
(GTT)
Frequently Asked Question Section
Apa Nama Pertama Jakarta?

Apa Nama Pertama Jakarta?
Nama yang pertama kali digunakan oleh Jakarta adalah Sunda Kelapa. Kala itu, Sunda Kelapa merupakan sebuah kota pelabuhan.
Apa Saja Nama Jakarta Sebelum Menjadi Jakarta?

Apa Saja Nama Jakarta Sebelum Menjadi Jakarta?
Beberapa nama yang sempat digunakan Jakarta, yakni Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia.
Kenapa Jakarta disebut Batavia?

Kenapa Jakarta disebut Batavia?
Pada masa penjajahan Belanda, Jakarta dinamakan Batavia untuk mengenang nenek moyang bangsa Belanda.
