Mengenal Sifat Ananiah Lengkap dengan Bahaya dan Cara Menghindarinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara harfiah, ananiah berasal dari bahasa Arab “ana” yang berarti aku. Sedangkan secara istilah, ananiah adalah sifat keakuan atau egoisme di mana pelakunya hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memerhatikan nasib orang lain.
Ananiah termasuk ke dalam golongan sifat tercela. Banyak dalil shahih yang menjelaskan tentang sifat ini, salah satunya dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 268. Allah Swt berfirman yang artinya:
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Isyarat Allah Swt dalam ayat tersebut menegaskan bahwa sifat ananiah adalah tipu daya setan. Apa bahaya sifat ananiah dan bagaimana cara menghindarinya?
Sifat Ananiah
Sifat ananiah dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari seperti di lingkungan kerja, keluarga, masyarakat, dan sekolah. Menurut catatan sejarah, sifat ananiah juga telah melekat dalam diri orang-orang kafir seperti Fir’aun, Abu Lahab, dan Qarun.
Tentu, sifat ini tidaklah baik karena bisa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Dikutip dari buku Akidah Akhlak MTs Kelas VIII karya Drs. H. Masan AF, berikut beberapa akibat buruk dari sifat ananiah:
Orang yang memiliki sifat ananiah tidak akan disenangi orang lain. Ia akan selalu dibenci.
Sifat ananiah pada orang kaya akan menimbulkan rasa ketidakadilan di kalangan masyarakat, terutama orang-orang fakir miskin yang tidak diperhatikan nasibnya.
Sifat ananiah akan menimbulkan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum, seperti penipuan, pencurian dan sebagainya.
Sifat ananiah dapat menimbulkan sifat tercela lainnya, seperti curang, bohong, pelit, serakah, dan sebagainya.
Orang yang ananiah tidak diridhai oleh Allah Swt karena tidak sesuai dengan ajaran-Nya.
Agama Islam secara jelas melarang umatnya untuk bersikap ananiah. Sebaliknya, umat Islam justru dianjurkan untuk saling menghormati sesama manusia.
“Rasulullah SAW menyuruh kita agar menghormati manusia (orang lain) sesuai dengan kedudukannya.” (HR. Muslim)
Mereka yang bersikap ananiah sesungguhnya telah lalai sehingga tidak mengingat Allah Swt. Di akhirat kelak, orang yang demikian akan mendapatkan balasannya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah berikut:
"Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat." (QS. Ali Imran: 180)
Oleh karena itu, umat Muslim sebaiknya menghindari sifat ananiah. Meski tidak mudah, upaya ini harus tetap dilakukan. Mengutip buku Akidah Akhlak MTs Kelas VIII karya Harjan Syuhada, berikut tiga cara untuk menghindari sifat ananiah:
Mengendalikan diri untuk tidak selalu menang dalam pembicaraan.
Tidak menganggap bahwa pendapatnya sendiri yang paling benar.
Belajar menghargai orang lain sebagaimana dirınya ingin dihargai.
(MSD)
