Konten dari Pengguna

Mengenal Sifat Ujub beserta Penyebab dan Bahaya Memilikinya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sifat ujub. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sifat ujub. Foto: pixabay

Ada banyak sekali sifat tercela yang harus dihindari umat Muslim, salah satunya adalah ujub. Sifat ini biasa disematkan kepada orang yang merasa bangga terhadap apapun yang telah ia kerjakan atau ketahui.

Mengutip buku Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali, secara bahasa, ujub artinya mengagungkan diri atau menganggap hebat atas amal yang dilakukan. Misalnya dengan mengatakan “Aku ini orang paling salih, tidak ada yang melebihi kesalihanku.”

Orang ujub memiliki sifat kesombongan di dalam dirinya. Ia melupakan campur tangan Allah serta nikmat-Nya yang telah membantu dirinya berbuat baik dan beramal salih.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memiliki sifat ujub. Apa saja? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan dalam artikel berikut.

Penyebab dan Bahaya Sifat Ujub

Ujub disebabkan oleh kejahilan (kebodohan) terhadap Allah SWT. Orang yang memiliki sifat ini sering membanggakan dirinya sendiri tanpa melihat peran Allah yang telah membantunya melakukan itu.

Ilustrasi sifat ujub. Foto: pixabay

Ulama Masruq bin Ajda pernah berkata, “Cukuplah keimanan seseorang jika ia takut kepada Allah. Dan cukup lah kejahilan seseorang ketika ia merasa takjub dengan ilmunya.”

Faktor kedua yang memicu timbulnya sifat ujub yaitu kejahilan terhadap dirinya sendiri. Orang yang memiliki sifat ujub tidak menyadari butuhnya ia akan kehadiran Allah. Sehingga, sering kali ia tidak mengakui eksistensi-Nya.

Padahal, tanpa bantuan Allah manusia hanyalah makhluk yang lemah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Dan jika Engkau menyerahkan urusanku kepada diriku, niscaya engkau menyerahkanku kepada kelemahan, keburukan, dosa, dan kesalahan. Dan saya hanya meyakini kasih sayang-Mu.” (HR. Ahmad)

Sifat ujub amat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Terdapat sejumlah dalil yang menjelaskan tentang bahaya sikap ujub seperti dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin 7 karya Imam Al-Ghazali (2013) berikut:

1. Menggugurkan pahala

Sifat ujub bisa menggugurkan pahala sedekah seorang Muslim. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 264 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Ilustrasi sifat ujub. Foto: pixabay

2. Mendatangkan murka Allah

Disebutkan dalam buku Adakah Berhala Pada Diri Kita? karya Majdi Al-Hilali (2014) bahwa Sayyidah Aisyah ra berkata, “Saya pernah memakai baju baru, kemudian saya melihatnya dan merasa kagum." Ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku, 'Apa yang engkau lihat? Allah tidak melihat kepada dirimu!'.

Mendengar itu, lantas saya bertanya, 'Karena apa?' Ia pun berkata, 'Apakah eng kau tidak tahu jika seorang hamba dirasuki perasaan ujub dengan perhiasan dunia, niscaya ia akan dibenci Allah sampai ia meninggalkan perhiasan itu! ‘

Kemudian, Aisyah pun berkata, "Maka saya membukanya dan menyedekahkannya." dan Abu Bakar pun berkata, "Semoga hal itu dapat menjadi kaffarah atas tindakanmu sebelumnya."

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Apa itu ujub?
chevron-down

Ujub artinya mengagungkan diri atau menganggap hebat atas amal yang dilakukan. Misalnya dengan mengatakan “Aku ini orang paling saleh, tidak ada yang melebihi kesalehanku.”

Apa bahaya memiliki sifat ujub?
chevron-down

Dijauhi oleh lingkungan sekitar, mendapat murka Allah SWT, dan digugurkan pahala sedekahnya.

Apa penyebab sifat ujub?
chevron-down

Salah satunya karena kejahilan (kebodohan) terhadap Allah SWT. Orang yang memiliki sifat ujub sering membanggakan dirinya sendiri tanpa melihat Allah yang telah membantunya melakukan itu.