Mengenang Sartono, Pencipta Lagu Hymne Guru yang Legendaris

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November biasanya diiringi dengan menyanyikan lagu "Hymne Guru". Adalah Sartono yang menjadi pencipta lagu "Hymne Guru" tersebut.
Lirik lagu "Hymne Guru tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Apalagi saat mengenyam bangku sekolah, lagu ini selalu dinyanyikan bersamaan dengan momentum Hari Ulang Tahun PGRI.
Lagu Hymne Guru tersebut memiliki lirik dan musik yang menyentuh. Bagi yang penasaran dengan sosok di balik pencipta lagunya, berikut ringkasan perjalanan hidup Sartono.
Profil Sartono
Sartono merupakan seorang guru musik kelahiran Madiun, Jawa Timur. Banyak keteladanan yang bisa dipelajari dari sosok ini. Selama hidup, ia lekat dengan kesan kesederhanaan.
Beliau menciptakan lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" pada tahun 1980-an. Meski lagunya terkenal serta kerap dinyanyikan anak sekolah se-Indonesia, kehidupan Sartono jauh dari kata kemewahan.
Dia tinggal di rumahnya yang sederhana berdinding kayu di Jalan Halmahera Nomor 98 Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Ia tinggal bersama istri tercinta, Damiyati, yang merupakan pensiunan guru SD setempat.
Mempelajari Musik Secara Otodidak
Sartono memulai kariernya sebagai guru seni musik pada tahun 1978. Ia adalah guru di sebuah yayasan swasta yang mengajar di SMP Katolik Santo Bernardus, Kota Madiun. Sartono pensiun sebagai tenaga pengajar pada tahun 2002.
Selama menjadi guru, gajinya terbilang pas-pasan. Damiyati menyebut bahwa Sartono hanya menerima gaji sebanyak Rp22.000 per bulan waktu itu hingga akhirnya bertahap menjadi Rp 60.000 per bulan.
Sang istri juga menceritakan, Sartono mempelajari musik secara otodidak. Tahun 1978, Sartono adalah satu-satunya guru seni musik yang bisa membaca not balok di Kota Madiun.
Dan karena keterbatasan alat musik, lagu "Hymne Guru" ia ciptakan dengan hanya menggunakan siulan sambil kemudian menuliskan nada dan liriknya ke dalam sebuah kertas.
Mengikuti Lomba Lagu Pendidikan
Bertepatan dengan momentum hari Pendidikan Nasional pada tahun 1980, Sartono akhirnya mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Dari ratusan peserta, lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" keluar sebagai pemenang.
Selain mendapatkan sejumlah uang, Sartono bersama sejumlah guru teladan lainnya di seluruh Indonesia dikirim ke Jepang untuk menjalani studi banding.
Meski karyanya sangat fenomenal di negeri ini, dia disebut-sebut tidak pernah menerima royalti atas hasil karyanya tersebut.
Selain lagu Hymne Guru, Sartono juga menghasilkan delapan lagu lain bertema pendidikan. Pengabdiannya dalam dunia pendidikan sebagai guru diganjar penghargaan oleh Mendikbud Yahya Muhaimin dan Dirjen Pendidikan Soedardji Darmodihardjo.
Panggilan Hidup
Menurut Sartono, menjadi guru di sebuah yayasan dengan penghasilan yang pas-pasan adalah panggilan hidup yang harus dihadapi dengan keikhlasan. Meski demikian, melalui istrinya, Sartono pernah berharap agar pemerintah terus berupaya meningkatan kesejahteraan guru di Tanah Air.
Menjelang awal November tahun 2015, Sartono tutup usia di Rumah Sakit Umum Daerah Madiun, setelah menjalani perawatan sejak 20 Oktober 2015. Hingga akhir hayatnya, Sartono tetap hidup apa adanya dengan istrinya. Pasangan ini juga tetap hidup bahagia meski tidak memiliki keturunan.
(VIO)
