Konten dari Pengguna

Mengungkap Misteri Yeti, Monster Salju di Daerah Himalaya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Yeti. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Yeti. Foto: pixabay

Suku Sherpa mengenal cerita tentang sosok monster salju di daerah Himalaya yang bernama Yeti. Monster ini dikenal sebagai makhluk yang misterius dan menakutkan.

Dijelaskan dalam buku 666 Misteri Paling Heboh Indonesia dan Dunia susunan Tim Pustaka Horror (2012), Yeti merupakan sejenis primata besar menyerupai manusia yang menghuni wilayah Pegunungan Himalaya di Nepal dan Tibet. Makhluk ini dikenal juga dengan nama Meh-Teh oleh masyarakat sekitar.

Sejak dulu, keberadaan Yeti selalu dianggap sebagai cerita sejarah dan mitos yang masih misterius. Orang-orang Nepal menyebutnya sebagai “Bonmanche” yang berarti manusia liar dan “Kanchanjunga rachyyas” yang berarti Iblis Kanchanjunga.

Kisah tentang monster salju di daerah Himalaya ini pertama kali mencuat pada tahun 1832. Bagaimana ceritanya? Simak artikel berikut untuk mengetahui jawabannya.

Kisah Yeti, Monster Salju di Daerah Himalaya

Pada tahun 1832, B.H. Hodgson, perwakilan Inggris yang berada di Nepal, mengaku pernah bertemu makhluk misterius bernama Yeti. Makhluk tersebut memiliki ciri-ciri fisik berbulu hitam, tidak berekor, dan berjalan tegak.

Ilustrasi yeti di pegunungan Himalaya. Foto: pixabay

Namun, sumber lain mengatakan bahwa Yeti memiliki bulu berwarna putih. Yeti dianggap sebagai sosok yang buas karena memiliki taring dan cakar yang tajam.

Mengutip buku Eskapisme Air karya Via Mardiana (2017), Yeti tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan manusia. Menurut legendanya, sejak dulu Yeti dan manusia sudah saling membunuh.

Pada tahun 1921, seorang penjelajah asal Inggris bernama Charles Howard-Bury membuat gempar dunia karena mengaku telah melihat tapak kaki besar yang diyakini milik Yeti. Selanjutnya, pada tahun 1951, pendaki asal Inggris bernama Eric Shipton berhasil mendokumentasikan jejak kaki tersebut.

Meski ramai menjadi perbincangan publik, beberapa orang masih meragukan kebenarannya hingga kini. Sebut saja Reinhold Messner, seorang pendaki kelas dunia yang menyangkal secara blak-blakan bahwa sosok Yeti tidak pernah ada.

Messner yakin bahwa jejak kaki yang ditemukan sebelumnya merupakan jejak kaki beruang. Ia berpendapat bahwa Yeti merupakan cerita mitos belaka yang dibuat oleh leluhur masyarakat Sherpa, Himalaya.

Tujuannya positif, yaitu agar masyarakat tidak mendaki Pegunungan Himalaya sendirian. Ini karena medan pendakian gunung tersebut sangat ekstrem dan berbahaya.

Ilustrasi monster salju di daerah Himalaya. Foto: pixabay

Seiring berjalannya waktu, keberadaan Yeti terus digali kebenarannya. Pada tahun 2017, jurnal Royal Society Proceedings mengatakan bahwa makhluk yang digambarkan setengah manusia dan setengah monster tersebut sebenarnya adalah beruang.

Sebagaimana diketahui, di Pegunungan Himalaya terdapat 3 spesies beruang besar yang sering terlihat. Beruang tersebut di antaranya Tibetan Brown Bear, Asian Black Bear, dan Himalayan Brown Bear.

Associate professor di Universitas Buffalo College of Art and Sciences mengklaim temuan tersebut mengarahkan pada bukti biologis bahwa sebenarnya Yeti adalah makhluk mitologi semata. Sosok Yeti yang dilihat selama ini hanyalah beruang lokal.

Pendapat ini didukung oleh ilmuwan lain yang mengatakan bahwa keberadaan Yeti hanyalah mitos. Pendapat ini didukung dengan tidak adanya dokumentasi yang jelas mengenai sosok Yeti itu sendiri.

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Apa itu Yeti?

chevron-down

Yeti adalah makhluk mitologis yang digambarkan sebagai monster salju di daerah Himalaya.

Di mana tempat hunian Yeti?

chevron-down

Pegunungan Himalaya di Nepal dan Tibet.

Apa nama lain dari Yeti?

chevron-down

“Bonmanche” yang berarti manusia liar dan “Kanchanjunga rachyyas” yang berarti Iblis Kanchanjunga.