Minta Maaf dalam Islam beserta Syarat dan Tingkatannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia adalah makhluk yang tak luput kesalahan dan dosa. Sebagai makluk ciptaan Allah SWT, hendaknya sesama manusia saling memaafkan atas kesalahan yang dilakukan. Minta maaf dan memaafkan dalam Islam juga menjadi salah satu cara untuk menjaga silaturahmi.
Setiap kali seseorang melakukan kesalahan, maka ia harus mengakui dan memohon maaf dengan tulus. Begitu pula dengan orang yang mendapatkan perlakuan buruk, ia wajib memaafkan dengan ikhlas jika menerima permintaan maaf.
Saling memaafkan juga telah menjadi tradisi umat Muslim setiap tahun, tepatnya pada momen perayaan saat Idul Fitri. Momentum ini menjadi kesempatan bagi sesama Muslim untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru dalam keadaan suci.
Minta maaf dan memaafkan memang bukan perkara mudah. Namun, sudah sepatutnya umat Muslim mencontoh Rasulullah SAW yang selalu ikhlas memberi maaf kepada orang yang membencinya, bahkan termasuk yang menyakitinya. Orang yang mampu melakukan hal tersebut akan mendapatkan pahala dari Allah.
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)
Syarat Meminta dan Memberi Maaf
Mengutip NU Online, ada beberapa syarat meminta dan memberi maaf yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Menyesali Perbuatan
Orang yang meminta maaf harus menyesali perbuatannya terlebih dahulu, baru kemudian memohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukan. Permintaan maaf tersebut harus disertai dengan niat baik dan janji untuk tidak mengulanginya di kemudian hari.
Jika kesalahannya telah merugikan orang lain, maka si pemohon maaf harus mengembalikan hak orang yang dirugikannya. Artinya, Anda harus mengganti kerugian tersebut sebagai bentuk penyesalan dan kesungguhan atas permintaan maafnya.
Jika berupa materi, maka harus menggantinya dengan materi. Namun, jika berupa non materi, maka cukup dengan menjelaskan kesalahan yang dilakukan dan memohon maaf dengan tulus.
2. Menghilangkan Rasa Dendam
Orang yang memaafkan harus ikhlas dan tulus menghapus dendam yang membara di dalam hati. Jika dendam dan kekesalan di hatinya telah hilang, maka baru bisa dikatakan bahwa orang tersebut telah memaafkan.
Baca juga: Sebelum Memaafkan Pasangan yang Selingkuh, Yuk Pertimbangkan 5 Hal ini
Tingkat Minta Maaf dan Memaafkan
Masih dari sumber yang sama, jika seseorang melakukan kesalahan dan menyakiti perasaan Anda, dianjurkan bagi Anda untuk mengambil setidaknya salah satu dari tiga sikap ini, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadapnya.
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134)
Jika belum mampu berbuat baik kepada orang tersebut, maka Anda dianjurkan untuk memaafkan kesalahannya. Jika belum sanggup untuk memaafkan kesalahan, sebaiknya tahan perasaan marah Anda di dalam hati.
Tiga sikap tersebut dapat menghindarkan Anda dari hal-hal yang dapat memecah belah persaudaraan. Dengan sikap tersebut pula diharapkan tali silaturahmi sesama umat Muslim dapat tetap terjaga.
(ANS)
