Konten dari Pengguna

Mitos Meninggal Hari Selasa yang Dipercaya Bisa Membawa Sial

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makam (ilustrasi). Foto: Ainul Qalbi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Makam (ilustrasi). Foto: Ainul Qalbi/kumparan

Sejak dulu, mitos tentang kematian telah diyakini oleh mayoritas masyarakat Jawa. Mereka percaya bahwa orang yang meninggal hari Selasa akan mendatangkan kesialan.

Hari Selasa dianggap sebagai hari na’as bagi sebagian orang. Disebutkan dalam buku Mitos: Awas Nyawamu dalam Bahaya karya Khanza Az-zahra (2022), hari Selasa juga disebut sebagai hari buruk yang dapat mengundang kedatangan iblis.

Meski masih diragukan, masyarakat Jawa tetap percaya akan hal ini. Mereka meyakini bahwa mitos meninggal di hari Selasa bisa mendatangkan kesialan bagi si mayit dan keluarga yang ditinggalkan.

Sebagian orang meyakini bahwa kematian ini bisa mengundang banyak bahaya. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang mitos meninggal hari Selasa selengkapnya untuk Anda.

Mitos Meninggal Hari Selasa

Pemakaman Pondok Ranggon di Jakarta. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Sejak lama, mitos meninggal hari Selasa telah menjadi perdebatan di kalangan masyarakat Jawa. Banyak orang yang mempercayainya, namun ada juga yang mengatakan bahwa mitos ini sangat tidak masuk akal.

Mitos meninggal hari Selasa selalu dikaitkan dengan Primbon dan tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun. Selain dapat membawa sial, mitos ini juga dipercaya bisa membawa tumbal.

Orang yang meninggal di hari Selasa disebut-sebut dapat mengajak orang lain untuk ikut dengannya. Sehingga, orang yang diajak tersebut bisa meninggal dunia dalam waktu beberapa hari atau minggu kemudian setelahnya.

Mitos ini terus berkembang dari masa ke masa. Namun di era modern ini, mulai banyak masyarakat yang tidak mempercayainya.

Mereka menganggap bahwa kematian seseorang adalah takdir yang telah ditetapkan Tuhan. Sehingga, baik buruknya kematian tersebut hanya Tuhan lah yang bisa menentukannya.

Bicara soal kematian, ternyata masyarakat Jawa juga percaya dengan adanya Dina Geblag atau Hari Kematian. Ketika seseorang meninggal dunia di hari tertentu, maka hari itu dianggap sebagai hari sial.

Sehingga, keluarga dari mendiang tidak boleh bepergian ke tempat yang jauh. Jika memaksa untuk pergi, orang tersebut akan mengalami kecelakaan.

Dina Geblag dalam Tradisi Jawa

Pemakaman Pondok Ranggon di Jakarta. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Dina Geblag adalah hari meninggalnya seseorang berdasarkan perhitungan kalender Jawa. Ada lima pasaran yang dihitung dalam hal ini, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Pada hari yang bertepatan pada Dina Geblag, masyarakat Jawa biasanya akan menyajikan beberapa sesajen. Dikutip dari buku SEMAR : Ajaran Hidup, Tuntunan Luhur, Piwulang Agung karya Teguh Pranoto (2007), berikut penjelasannya:

  • Wedhang atau unjukan yang dimaksudkan untuk 'tamba kanggo segeran' atau obat untuk penyegar.

  • Endhog pitik yang menjadi simbol ungkapan 'wong urip ojo nganti kecele' artinya orang hidup jangan sampai tertipu.

  • Wajik yang menjadi simbol 'wani tumindak becik' atau berbuat kebaikan.

  • Gedhang Raja yang bertujuan untuk 'dadi mukti lan mulya' atau menjadi bahagia dan mulia.

  • Jajan pasar yang menjadi simbol ungkapan 'urip yen adedasar tatanane Gusti temtu ora bakal nyasar'. Artinya, hidup bila mengikuti aturan Tuhan tentu tidak akan salah jalan.

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Apa itu Dina Geblag?

chevron-down

Dina Geblag adalah hari meninggalnya seseorang berdasarkan perhitungan kalender Jawa.

Apa saja Pasaran di kalender Jawa?

chevron-down

Ada lima pasaran yang dihitung, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Apa arti meninggal di hari Selasa?

chevron-down

Mereka percaya bahwa orang yang meninggal hari Selasa akan mendatangkan pertanda buruk.