Konten dari Pengguna

Nadia Omara KHW 400 Tentang Apa? Ini Rangkuman Ceritanya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Menonton Nadia Omara KHW 400. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Menonton Nadia Omara KHW 400. Foto: Shutter Stock

YouTuber kondang Nadia Omara kembali menyita perhatian publik di media sosial. Pasalnya, salah satu konten dari segmen Kisah Horor Wawak (KHW) miliknya berhasil menembus 40 juta views di YouTube hanya dalam waktu tiga hari sejak tayang.

Sebagai informasi, KHW merupakan segmen di mana Nadia Omara membacakan kisah-kisah kiriman narasumber lewat email. Jadi, keaslian maupun kebenaran ceritanya tidak bisa dijamin sepenuhnya.

Konten yang jadi sorotan kali ini adalah episode ke-400 bertajuk “Pulang”. Lalu, sebenarnya KHW episode 400 membahas tentang apa? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Rangkuman KHW Episode 400 Nadia Omara

Ilustrasi Menonton Nadia Omara KHW 400. Foto: Shutterstock

Kisah Horor Wawak (KHW) episode 400 dikirimkan oleh seorang narasumber bernama Rizki, dengan judul “Penyesalan Selalu Datang Terakhir”. Ia mengaku menulis kisah tersebut bersama dua sahabatnya, Fajar dan Dimas.

Kisahnya menyoroti keluarga besar Mbak Santi yang terdiri dari:

  • Mas Edo - suami Mbak Santi

  • Tata - anak perempuan Mbak Santi bersama Mas Edo (4 tahun)

  • Pak Sabar - ayah Mbak Santi

  • Bu Nur - ibu Mbak Santi

  • Fajar - adik laki-laki Mbak Santi

Selain itu, masih ada beberapa karakter penting lain di luar keluarga inti Mbak Santi yang perlu diketahui, yakni:

  • Pak Ali - ayah Mas Edo

  • Bu Ika - ibu Mas Edo

  • Maya - sahabat Mbak Santi

  • Dimas - sepupu Fajar

  • Rizky - sahabat Fajar (pengirim cerita ini)

  • Ahmad - orang pintar yang merupakan teman Rizky

Rizky menceritakan bahwa keluarganya memiliki kedekatan khusus dengan keluarga Mbak Santi. Sebab, Pak Sabar dan Bu Nur kerap menitipkan Santi kecil kepada ayah Rizky saat mereka sibuk bekerja.

Di mata warga sekitar, orang tua Mbak Santi dikenal sebagai sosok dermawan dengan rumah tangga harmonis dan tak pernah terdengar punya masalah. Mbak Santi sendiri tumbuh menjadi pribadi yang taat beragama sekaligus berpikiran rasional.

Setelah menikah, Mbak Santi memutuskan pindah ke Kampung B bersama suami dan anaknya, sehingga dalam kisah ini ia hidup berjauhan dari keluarga dan hanya sesekali berkunjung.

Hingga suatu hari, Pak Sabar dan Bu Nur dikejutkan oleh kabar duka: putri mereka ditemukan meninggal dunia, diduga bunuh diri di kusen pintu dapur rumahnya. Berita ini pun sontak menggegerkan seluruh keluarga dan warga kampung sekitar.

Ilustrasi Menonton Nadia Omara KHW 400. Foto: Pexels

Singkat cerita, jenazah Mbak Santi pun langsung dikuburkan tanpa proses autopsi, setelah suaminya, Mas Edo, mengaku sudah ikhlas. Namun, pada malam ke-7 setelah kepergian Mbak Santi, terjadilah teror dan hal-hal yang mengerikan, di antaranya:

  • Tetangga rumah kesurupan arwah Mbak Santi.

  • Bapak Rizky bermimpi diperlihatkan sosok Mbak Santi di masjid.

  • Maya yang belum tahu sahabatnya meninggal mengaku dikunjungi oleh almarhumah di rumahnya.

  • Dimas melihat sosok setan menyeramkan berwajah merah.

  • Mas Edo diteror hantu berwajah merah hingga sakit-sakitan.

Setelah serangkaian teror itu, akhirnya diketahui dari Ahmad bahwa Mas Edo telah membuat perjanjian dengan iblis berwajah merah dengan rambut dan lidah panjang. Tujuannya untuk mendapatkan kekayaan.

Dalam perjanjian itu, Mas Edo harus mempersembahkan tumbal dan berencana menyerahkan istrinya. Namun, sang istri telah meninggal lebih dulu. Mas Edo pun enggan menumbalkan anaknya. Akibatnya, iblis berwajah merah marah dan meneror mereka semua.

Hal yang membuat cerita ini makin menarik adalah ternyata Mbak Santi telah mengetahui kelakuan bejat suami. Ia pun marah dan memutuskan membawa Tata pergi dari rumah. Namun, Mas Edo tak setuju dengan keputusan itu dan akhirnya membunuh sang istri.

Jadi, Mbak Santi sebenarnya tidak bunuh diri. Kematiannya direkayasa oleh sang suami dengan menyewa banyak orang, mulai dari polisi hingga dokter. Mas Edo juga mengirimkan guna-guna pada keluarga Mbak Santi agar menuruti perintahnya. Itulah mengapa mereka tak menuntut proses autopsi pada Mbak Santi.

Pada akhirnya, Mas Edo akhirnya bertaubat dan menuliskan surat yang menjelaskan semua tindakannya. Beberapa hari setelah itu, Mas Edo pun meninggal dunia.

Baca Juga: Biodata Nadia Omara dan Perjalanan Kariernya

(DEL)