Nangluk Merana Artinya Apa? Ini Upacara Penolak Bala di Bali

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nangluk Merana artinya merujuk pada salah satu frasa dalam bahasa Bali. Frasa ini biasa digunakan untuk menyebut nama suatu upacara tradisional yang dilakukan oleh umat Hindu.
Dalam tradisi Hindu, upacara Nangluk Merana bertujuan untuk memohon keselamatan Bali agar dijauhkan dari hal-hal yang negatif, terutama sejumlah bencana yang pernah terjadi di Indonesia.
Lantas, apa yang dimaksud dengan Nangluk Merana? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan berikut ini.
Nangluk Merana Artinya Apa?
Secara etimologi, Nangluk Merana artinya merujuk pada gabungan dua kata dalam bahasa Bali, yaitu "Nangluk" dan "Merana". Nangluk berasal dari kata "tangluk" yang berarti menaklukkan atau menundukkan.
Menurut Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Nangluk dapat diartikan sebagai penghalang atau pagar yang dibuat dari bambu yang dipakai sebagai batas desa atau batas pekarangan.
Sementara itu, Merana artinya segala sesuatu yang dapat menyebabkan gangguan terhadap pertanian di sawah (seperti hama), binatang peliharaan (seperti sapi atau babi), dan terhadap penduduk desa.
Merana juga dapat diartikan sebagai segala bahaya yang dapat mengganggu mahkluk hidup, terutama berbagai jenis hama yang merusak tanaman pertanian dan perkebunan penduduk.
Dengan demikian, Nangluk Merana artinya mencegah atau menghalangi segala jenis bahaya (terutama hama) yang dapat mengganggu pertanian penduduk. Istilah Nangluk Merana ini digunakan sebagai nama upacara penolak bala di Bali.
Mengenal Upacara Nangluk Merana di Bali
Upacara Nangluk Merana adalah upacara yang diselenggarakan oleh umat Hindu di Bali untuk mencegah hama supaya tidak menjadi liar, tidak merusak, atau mengganggu pertanian dan perkebunan, sehingga diharapkan produksi panen akan meningkat.
Upacara Nangluk Merana tergolong dalam jenis Bhuta Yadnya, yaitu upacara suci yang ditujukan kepada "Bhuta Kala" atau "makhluk bawah" yang mengganggu ketentraman hidup manusia.
Upacara Nangluk Merana dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada Tilem (hari purnama) Sasih Kenem (bulan urutan ke-6 dalam kalender saka Bali yang umumnya jatuh pada bulan Desember). Tilem sendiri merupakan hari suci bagi umat Hindu.
Berdasarkan informasi dari Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, waktu yang paling baik untuk menggelar upacara Nangluk Merana selain pada Sasih Kenem adalah sebagai berikut:
Sasih Kepitu (Januari)
Sasih Keulu (Februari)
Sasih Kesanga (Maret)
Menurut keyakinan orang Bali, bulan-bulan tersebut merupakan waktu yang rawan dan penuh bahaya. Sebab, pada bulan-bulan keramat itu, penguasa Nusa Penida, Ratu Gde Mecaling, sedang gencar-gencarnya menyebarkan wabah dan penyakit ke daratan Bali.
Selain itu, bulan-bulan tersebut juga biasanya memiliki berbagai jenis wabah penyakit yang merajalela. Karenanya, untuk menetralkan kembali keseimbangan kosmis yang terganggu, maka digelarlah berbagai jenis ritual penolak bala, salah satunya Nangluk Merana.
(SFR)
