Konten dari Pengguna

Pakaian Adat Yogyakarta hingga Busana Pengantinnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pakaian adat Yogyakarta Foto: instagram.com/bungakinasih_weddingorgan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pakaian adat Yogyakarta Foto: instagram.com/bungakinasih_weddingorgan

Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Daerah yang dijuluki kota pelajar ini kaya akan budayanya mulai dari rumah adat, senjata tradisional, hingga pakaian adat.

Dalam buku Mengenal Rumah Adat, Pakaian Adat, Tarian Adat, dan Senjata Tradisional oleh PT Niaga Swadaya, rumah adat berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat musyawarah dan penyelenggaraan adat hingga menjadi penciri tingkat kehidupan sosial dalam masyarakat.

Kemudian senjata tradisional memiliki fungsi yang beragam dan di masing-masing daerah senjata tradisional dianggap keramat dan memiliki makna mendalam bagi pemegangnya. Sementara pakaian adat mencirikan suatu daerah dengan model, warna, hiasan dan motif yang berbeda-beda pula.

Begitu juga dengan pakaian adat Yogyakarta yang memiliki ciri khas tersendiri. Untuk mengetahui lebih detil mengenai gambaran pakaian adat Yogyakarta, berikut penjelasan lengkapnya.

Pakaian Adat Yogyakarta

Berdasarkan buku Mengenal Rumah Adat, Pakaian Adat, Tarian Adat, dan Senjata Tradisional, pakaian adat Yogyakarta dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu untuk pria dan wanita.

  • Pria

Pakaian adat Yogyakarta untuk pria memakai penutup kepala atau blangkon dan keris yang diselipkan di pinggang belakang. Bajunya berupa jas sikepan dilengkapi kain batik bercorak sidomukti sebagai bawahan. Pakaian ini dilengkapi selop sebagai alas kaki.

  • Wanita

Sedangkan untuk pakaian adat Yogyakarta untuk wanita, mengenakan kebaya panjang dan kain batik bercorak sama dengan pria. Sehelai kain diselempangkan di bahu. Rambut disanggul rapi dan diberi untaian bunga melati atau disebut pula bokor mengkurep. Serta perhiasan yang digunakan berupa kalung bersusun, cincin, gelang, dan subang.

Selain itu dalam buku Album Pakain Tradisional Yogyakarta terdapat dua jenis pakaian pengantin tradisional Yogyakarta yaitu di antaranya.

Pakaian Pengantin Paes Ageng

Pakaian tradisional ini mulanya digunakan oleh keluarga Istana Kesultanan Yogyakarta dan menyebar menjadi sebuah adat masyarakat. Pada pakaian pengantin paes ageng pria terdiri dari satu buah celana cinde, satu lembar dodot/kampuh.

  • Pakaian Pengantin Paes Ageng untuk Pria

Pelengkap busana untuk pengantin pria terdiri dari millineries yang berwujud satu buah lontong, satu kamus timang, satu pasang selop, satu buah kuluk biru mutiara. Pakaian ini juga dilengkapi sejumlah aksesori berikut:

  • sepasang sumping

  • sebuah kalung sungsun

  • sepasang gelang kena

  • satu buah keris branggah

  • sebuah cincin

  • sebuah sisir/pethat dan mentul kecil

  • cengkeh untuk nyamat

  • sebuah ukel ngore

  • satu pasang moga

  • satu buah buntal

  • sepasang gomboyok sumping

  • sepasang kelat bahu

  • satu buah oncen keris/bunga sritama yang dibuat dari bunga mawar merah

  • bunga kanthil yang masih kuncup

  • melati, serta

  • bunga patra menggala dan kenanga.

  • Pakaian Pengantin Paes Ageng untuk Perempuan

Sedangkan untuk pengantin perempuan terdiri satu helai kain cinde dan satu kain dodot/kampuh. Millineries-nya terdiri dari satu pasang selop bludiran, satu buah pending, sanggul bokor. Untuk aksesorinya terdiri dari:

  • satu helai udet cinde

  • tiga buah bros untuk dipasang satu di bagian udet yang lainnya di gelung bokor

  • sepasang cincin permata

  • sepasang gelang kana

  • sepasang kelat bahu

  • sebuah kalung sungsun

  • sebuah sisir gunungan

  • lima buah mentul besar

  • sepasang centhung

  • sepasang subang bumbungan (ronyok)

  • satu hiasan yang terbuat dari daun kates muda

  • teplok (rajut melati) dan gajah ngoling

  • ceplok jebehan sritaman

  • sebuah buntal, dan

  • ceplok bunga berwarna merah.

Pakaian Pengantin Agustusan

Busana pengantin ini awalnya dari sebuah tradisi Istana Yogyakarata yang disebut dengan tradisi busana agustusan. Sebab, pakaian ini awalnya dipakai oleh putera-puteri raja untuk berkunjung ke Gubernur. Selanjutnya berkembang menjadi pakaian pengantin yang digunakan oleh golongan menengah di luar kraton.

  • Pengantin Agustusan pria

Pada pakaian ini pengantin pria menggunakan kain pradan, baju sikepan bludiran berwarna hitam. Untuk pelengkap busana pria yang tergolong milleneries, selop bludiran, kuluk kanigoro, lontong kamus, timang.

Sedangkan untuk accesories, berupa satu kalung karset, satu buah bross, satu buah cincin, satu keris branggah dilengkapi dengan oncen sritaman, sebuah sanggul tekuk kecil, satu buah sisir kecil dengan mentul kecil, dua buah boro, sepasang sumping bergombyok sritaman.

  • Pengantin Agustusan Wanita

Pengantin wanita menggunakan kain pradan, baju bludiran atau blenggen, streples/long torso. Untuk pakaian pelengkapnya yakni selop bludiran, ikat pinggan (stagen), sanggul tekuk untuk golongan millineries.

Untuk aksesorinya ditambah sepasang gelang, tiga buah bross, satu pasang cincin permata, sebuah kalung permata, satu pasang subang bumbungan, sebuah sisir gunungan, sebuah mentul besar, ceplok jebehan sepasang, sebuah ceplok bunga, rangkaian usus-usus melati, pelik-pleik melati yang terbuat dari kertas.

(PDN)