Konten dari Pengguna

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa, Apa Maksudnya?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pancasila. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pancasila. Foto: pixabay

Pancasila sebagai kepribadian bangsa termasuk ke dalam hakikat fungsi yang harus diketahui warga negara Indonesia. Memahami fungsi pancasila sama halnya dengan memahami kedudukan bangsa itu sendiri.

Sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, fungsi Pancasila berkaitan erat dengan pokok dan kaidah negara yang fundamental. Hal tersebut melekat dan berpengaruh pada kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karenanya, setiap warga negara harus memahami fungsi Pancasila sebagai kepribadian bangsa ini. Sebab, ketidaktahuan akan fungsi tersebut bisa membawa dampak negatif di kemudian hari.

Lantas apa penjelasan fungsi Pancasila sebagai kepribadian bangsa? Agar lebih memahaminya, simak penjelasan berikut.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa

Ilustrasi pancasila. Foto: pixabay

Secara harfiah, kepribadian bangsa terdiri dari dua kata, yaitu kepribadian dan bangsa. Kepribadian adalah orientasi sifat yang berbeda dalam diri seseorang ketika menghadapi kondisi tertentu. Sedangkan bangsa adalah kumpulan masyarakat yang memiliki keterikatan dan saling berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.

Dapat disimpulkan, pelaksanaan Pancasila sebagai kepribadian bangsa adalah perwujudan dari nilai-nilai budaya bangsa yang diyakini kebenaran dan kebaikannya. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan setiap warga negaranya.

Mengutip buku Memahami Pancasila oleh Fais Yonas Bo’a, fungsi Pancasila sebagai kepribadian bangsa adalah menunjukkan jati diri bangsa sebagaimana adanya. Jati diri tersebut tentu harus disesuaikan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap butir Pancasila.

Lebih lanjut, di buku yang sama, Mustafa Kamal Pasha menjelaskan bahwa Pancasila sebagai kepribadian bangsa tidak lain berasal dari jiwa masyarakat dalam bangsa itu sendiri. Pancasila berperan membimbing dan mengarahkan perilaku bangsa dalam kehidupan sehari-harinya.

Seperti yang diketahui, Pancasila terdiri dari lima butir yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan tersebut menunjukkan kesinambungan antar nilai dengan kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Tiap butir Pancasila mencerminkan kepribadian bangsa. Oleh karenanya, setiap warga negara harus memahami betul apa yang terkandung di dalamnya hingga kemudian mengamalkannya.

Mulai amalkan tiap butir pancasila dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Kemudian hal kecil tersebut akan menjadi besar seiring dengan berjalannya waktu.

Agar lebih memahaminya, berikut contoh sikap pengamalan butir Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dikutip dari buku Sukses USBN Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs:

Ilustrasi penerapan pancasila sebagai kepribadian bangsa. Foto: pixabay

1. Sila Pertama

  • Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaan pada orang lain.

  • Menghormati pemeluk agama lain dalam melaksanakan ibadah.

  • Bekerja sama antarumat beragama agar tercipta kerukunan antarumat beragama.

2. Sila Kedua

  • Bersikap tenggang rasa kepada orang lain.

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.

  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

  • Saling menghormati dan mau bekerja sama dengan orang lain.

  • Tidak bertindak sewenang-wenang kepada orang lain.

  • Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban.

3. Sila Ketiga

  • Rela berkorban untuk kepentingan bangsa.

  • Cinta Tanah Air dan bangsa.

  • Bangga menjadi bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.

  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

  • Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

4. Sila Keempat

  • Menerima dan melaksanakan setiap keputusan musyawarah.

  • Tidak memaksakan kehendak pada orang lain.

  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

  • Mempertanggungjawabkan setiap keputusan musyawarah secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  • Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan sendiri.

5. Sila Kelima

  • Menghormati hak-hak orang lain.

  • Menjauhi sifat boros dan bergaya hidup mewah.

  • Ringan tangan atau gemar membantu orang lain.

  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

(MSD)