Pengertian Aksara Rekan dan Swara Beserta Fungsinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia khususnya tanah Jawa memiliki kekayaan budaya yang unik dan beragam, salah satunya Aksara Jawa. Aksara digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan diadopsi beberapa daerah seperti Sunda, Madura, dan Melayu.
Dalam buku Mengenal Aksara Jawa dengan Metode Ambar oleh Estu Pitarto, aksara Jawa adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari sekitar 20 hingga 33 aksara dasar.
Terdapat beberapa bentuk aksara yang dikembangkan untuk memenuhi fungsi spesifik, di antaranya adalah aksara rekan dan swara. Kedua aksara tersebut memenuhi kebutuhan dalam penulisan kata dalam penulisan aksara Jawa.
Pengertian Aksara Rekan
Mengutip buku Lemuria Indonesia oleh Santo Piliang, aksara rekan adalah aksara tambahan yang digunakan untuk menulis bunyi asing.
Bentuk aksara ini pada awalnya dibuat untuk menulis kata-kata yang diambil dari bahasa Arab. Kemudian dimodifikasi ke dalam bahasa belanda dan dalam penggunaan kontemporer untuk menulis bahasa Indonesia serta Inggris.
Sebagian besar dari aksara rekan dibentuk dengan menambahkan diakritik cecak telu pada aksara yang bunyinya dianggap paling mendekati dengan bunyi asing yang bersangkutan.
Contohnya, aksara rekan fa dibentuk dengan menambahkan cecak telu pada aksara wyanjana pa. Gabungan antara wyanjana dan bunyi asing tiap rekan bisa berbeda antar penulis karena tidak ada persetujuan resmi dari lembaga bahasa yang mengatur.
Terdapat lima aksara rekan, yaitu kha, dza, fa, za, dan gha. Namun ada juga yang menyebutkan aksara rekan berjumlah sembilan.
Pengertian Aksara Swara
Diterangkan dalam buku Aksara-aksara di Nusantara: Seri Ensiklopedia oleh Ridwan Maulana, aksara swara digunakan untuk menulis suku kata yang tidak memiliki konsonan di awal, atau suku kata yang hanya terdiri dari huruf vokal.
Namun, bahasa Jawa modern sudah tidak menggunakan keseluruhan aksara swara dalam deret sansakerta-kawi. Kini, hanya aksara untuk vokal pendek saja yang umumnya diajarkan.
Dalam penulisan bahasa Jawa modern, aksara swara digunakan untuk menggantikan aksara wyanjana pada nama atau istilah asing yang pelafalannya belum jelas. Hal tersebut dikarenakan wyanjana pelafalannya memiliki kemungkinan untuk menjadi ambigu karena berperan sebagai fonem
Swara juga bisa diterapkan sebagai Diakritik. Fungsinya untuk mengubah vokal inheren menjadi vokal lainnya. Seperti aksara swara, hanya sandhangan vokal pendek yang diajarkan dan digunakan dalam bahasa Jawa modern.
(ADB)
