Konten dari Pengguna

Pengertian Eksplisit dan Penerapannya dalam Konsep Teologi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi eksplisit dalam beragama. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi eksplisit dalam beragama. Foto: pixabay

Secara bahasa, eksplisit artinya tersurat, terus terang, gamblang, dan tidak berbelit-belit. Dalam artian lain, eksplisit didefinisikan sebagai ungkapan jelas yang disampaikan seseorang kepada orang lain tanpa ada maksud tersembunyi di baliknya.

Istilah eksplisit sering kali digunakan dalam ragam bahasa Indonesia. Para sastrawan menggunakan istilah ini untuk memaparkan ide atau pandangan mereka terhadap suatu permasalahan secara jelas dan gamblang.

Dalam ranah agama, eksplisit identik dengan ungkapan penghambaan seseorang kepada Tuhannya. Dikutip dari buku 42 Arti Cinta yang Menggetarkan dan Menginspirasi karya Gregorius Agung, dkk., eksplisit artinya secara riil menyebut nama Tuhan dan melakukan persembahan kepada-Nya.

Eksplisit dikenal luas dalam ilmu teologi yang membahas tentang spiritualitas kepada Tuhan. Kemudian, ada pula kebalikan dari eksplisit, yakni implisit yang membahasnya secara tersirat.

Teologi Eksplisit dan Implisit

Konsep teologi eksplisit dan implisit telah lama tumbuh dan berkembang di lingkungan jemaat secara umum. Konsep ini dapat dicapai melalui studi akademik formal dan informal yang umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi eksplisit dalam beragama. Foto: pixabay

Sebagian orang berpendapat bahwa melayani gereja merupakan usaha dalam memahami dan menghayati Firman Allah. Hal ini tidak terjadi dalam konteks ilmu teologi saja, tetapi juga (seharusnya) dipraktikkan oleh pribadi orang Kristen.

Berdasarkan perjumpaan dengan Firman Allah, setiap orang Kristen mencoba memahami dan menghayati Firman tersebut. Dalam kondisi ini, tidak perlu lagi melakukan pemahaman terhadap pendidikan teologi.

Karena pada hakikatnya, terkandung teologi implisit (tersirat) di dalam hati para jemaat Kristen. Teologi ini diwujudkan dalam bentuk refleksi yang tidak konsisten, tidak terstruktur, dan terjadi secara ilmiah atau kritis.

Dikutip dari buku Apa Itu Teology?: Pengantar ke dalam Ilmu Teologi karya B.F. Drewes, dkk., teologi implisit adalah reaksi orang yang percaya atas karya Allah yang mereka menerimanya dalam iman. Teologi implisit dapat digolongkan sebagai ilmu teologi yang bersifat logis, konsisten, dan kritis.

Teologi ini juga dapat disebut sebagai teologi primer atau olah rasa. Berlawanan dari itu, teologi eksplisit didefinisikan sebagai teologi sekunder atau olah nalar.

Ilustrasi eksplisit dalam beragama. Foto: pixabay

Jika teologi eksplisit ingin melayani jemaat Kristen, maka teologi ini mutlak diperlukan untuk memahami dan menganalisis teologi implisit. Sebab, di dalam teologi implisit atau dalam kehidupan iman jemaat terdapat hikmat, iman, pengharapan, dan kasih.

Jemaat merupakan "tubuh Kristus". Tanpa mempertautkan diri dengan teologi implisit, maka teologi eksplisit hanyalah "bunga tanpa akar" yang tidak bermakna.

Teologi eksplisit harus dikaitkan langsung dengan teologi implisit. Artinya, berkaitan langsung dengan pergumulan dan kepercayaan orang biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Pergumulan "tubuh Kristus" hendaknya dilayani oleh teologi eksplisit. Namun, upaya memahami dan menganalisis teologi implisit tidak mutlak berarti menyetujuinya.

Sebaliknya, teologi eksplisit harus bersikap kritis dalam menerima teologi implisit dengan serius. Kekritisan merupakan salah satu bentuk kasihnya terhadap jemaat atau gereja.

(MSD)