Pengertian Inflasi Hijau, Istilah yang Dipaparkan dalam Debat Cawapres 2024

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang yang mencari tahu arti dari “inflasi hijau” usai cawapres nomor urut 02, Gibran Rakabuming Raka, menyebutkannya dalam debat tadi malam, Minggu (21/1). Gibran melontarkan pertanyaan terkait inflasi hijau (greenflation) kepada cawapres 03, Mahfud MD.
Saat Gibran menyampaikan pertanyaan tersebut, Mahfud MD pun mengingatkan moderator untuk menegaskan kembali aturan terkait penggunaan singkatan atau istilah asing di Debat Capres Cawapres. Mendengar protes ini, moderator pun mengingatkan cawapres 02 untuk menjelaskan ulang arti dari “greenflation” tersebut.
“Baik, ini tadi tidak saya jelaskan karena kan beliau seorang profesor. Oke, greenflation adalah inflasi hijau. Sesimpel itu,” jawab Gibran meneruskan pertanyaannya.
Setelah diberi waktu untuk menjawab, Mahfud MD pun memaparkan solusinya terkait inflasi hijau. Kendati demikian, sejumlah orang menilai bahwa jawaban Mahfud MD masih kurang tepat.
Sebenarnya apa arti dari inflasi hijau atau greenflation dalam ranah energi? Untuk mengetahuinya, simak penjelasannya dalam artikel berikut ini.
Apa Itu Inflasi Hijau dan Penerapannya
Dalam kamus Cambridge, greenflation atau inflasi hijau adalah kenaikan harga akibat peralihan ke ekonomi hijau. Dalam definisi lain, terminologi ini diartikan sebagai kenaikan harga yang disebabkan oleh transisi energi fosil menuju energi hijau yang ramah lingkungan.
Ditinjau dari kacamata energi dan ekonomi, greenflation merupakan kondisi yang lazim terjadi ketika suatu negara memutuskan untuk melakukan transisi ke energi hijau. Contohnya adalah penggunaan tenaga surya, tenaga angin, tenaga air, biomassa, dan biogas.
Hal ini disebabkan karena permintaan tinggi yang menyebabkan kenaikan harga di beberapa komoditi seperti timah, nikel, dan bauksit. Komoditi tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari transisi menuju energi terbarukan.
Imbasnya, kenaikan harga pun turut memengaruhi meningkatnya biaya produksi. Harga jadi dan proses distribusinya pun akan dinaikkan seiring berjalannya transisi tersebut.
Kegiatan transisi menuju energi hijau akan memengaruhi inflasi global. Kondisi inilah yang disebut sebagai inflasi hijau atau greenflation.
Bicara soal istilah greenflation yang dibahas oleh Gibran, Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies Ali Ahmudi mengatakan bahwa apa yang dipertanyakan Gibran tentang greenflation ini kurang tepat.
Ia juga menilai bahwa cawapres yang debat pada Minggu malam (21/1) ini kurang menguasai istilah greenflation yang dimaksud. Menurut Ali Ahmudi, greenflation itu erat kaitannya terkait energi hijau.
Greenflation adalah terjadinya kenaikan biaya di dalam proses pengelolaan energi hijau karena adanya konversi dari bahan pangan menjadi energi terbarukan. Contohnya, kelapa sawit yang semula dijadikan minyak diubah menjadi biodesel, jagung yang semula dikonsumsi diubah menjadi bioetanol, dan lain-lain.
“Proses ini menyebabkan biaya produksi meningkat dan tidak lagi murah karena korporasi besar yang bermain. Akhirnya rusaklah pertanian. Petani demo dan lain sebagainya. Timbullah konflik yang menyebabkan peningkatan biaya energi yang kita sebut sebagai greenflation,” kata Ali Ahmudi kepada kumparan, Minggu (21/1)
Meski greenflation menjadi bagian yang tak terpisahkan dari energi hijau, namun kondisi ini tetap harus diperhatikan oleh pemerintah. Sebab, tidak adanya pengendalian dapat menyebabkan inflasi hijau semakin kacau.
Baca juga: Mengenal Makna Gaya Hidup Hijau dan Contoh Penerapannya
(MSD)
