Pengertian Mauhub beserta Syarat dan Ketentuannya dalam Transaksi Hibah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mauhub adalah istilah yang ditujukan untuk barang yang dihibahkan kepada orang lain. Barang tersebut termasuk dalam rukun hibah yang harus dipenuhi.
Islam menetapkan sejumlah syarat mauhub. Dikutip dari buku Modul Fikih Muamalah karya Rosidin (2020), mauhub harus berupa harta yang bermanfaat, milik sendiri, dan tidak tercampur dengan harta yang lain.
Maka, tidak sah bila sesuatu yang dihadiahkan adalah barang yang bukan milik pihak pemberi. Transaksi ini menjadi haram dan pelakunya akan mendapatkan dosa.
Penjelasan mengenai mauhub telah dijabarkan secara rinci dalam kajian fiqih. Agar lebih paham, simak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Syarat Mauhub dan Ketentuannya
Mauhub atau barang yang dihibahkan harus memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan para ulama. Hal ini dilakukan untuk memastikan sah atau tidaknya transaksi hibah yang dilakukan.
Dirangkum dari Buku Ajar Fikih Kelas X susunan Shofi Evianti (2021), berikut ini beberapa ketentuan yang harus dipenuhi pemberi hibah (wahib) sebelum menghadiahkan barang miliknya kepada orang lain:
1. Milik sendiri
Barang yang dihadiahkan harus milik sendiri. Pihak pemberi hadiah (wahib) harus memilikinya secara sempurna. Jika syarat ini tidak dipenuhi, maka transaksinya menjadi tidak sah.
2. Ada wujudnya
Barang yang hendak dihadiahkan harus sudah ada ketika transaksi dilaksanakan. Tidak sah jika menghadiahkan sesuatu yang belum berwujud.
3. Barang halal
Barang yang dihadiahkan harus berupa sesuatu yang boleh dimiliki agama (halal). Tidak dibenarkan untuk menghadiahkan barang-barang haram seperti minuman keras dan obat-obatan terlarang.
4. Terpisah dari pemberi hadiah
Jika ingin menghadiahkan barang, hendaknya pisahkan dulu dari harta pemberi hadiah. Ini dapat memperjelas statusnya sebagai barang hibahan ketika transaksi dilakukan.
5. Tidak boleh ditarik kembali
Barang yang sudah dihibahkan tidak boleh ditarik kembali. Ini berlaku untuk semua jenis barang, kecuali pemberian orangtua kepada anaknya.
Dalam hadits riwayat Thawu, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: “Seorang pemberi hibah tidak halal menarik kembali apa yang telah dihibahkan, kecuali (pemberian) orangtua kepada anaknya.” (HR. Al-Baihaqi)
Ulama sepakat mengatakan bahwa orangtua disunahkan menyamakan pemberian hibah kepada anak-anaknya. Makruh hukumnya jika melebihkan pemberian kepada salah seorang anak saja.
Adapun persamaan yang dimaksud adalah menyamakan pemberian antara laki-laki dan wanita. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Bertakwalah kepada Allah dan beradillah kepada anak-anak kalian.”
Macam-Macam Hibah
Hibah dibagi menjadi dua jenis, yakni hibah barang dan hibah manfaat. Dikutip dari buku Pintar Belajar Fikih dengan TTS susunan Hj. Rita Asnimar (2020), berikut penjelasannya:
1. Hibah barang
Hibah barang dilakukan dengan memberikan harta atau barang kepada pihak lain. Pemberian dilakukan tanpa ada tendensi (harapan) apapun. Misalnya menghibahkan rumah, sepeda motor, baju, dan lain sebagainya.
2. Hibah manfaat
Hibah manfaat yaitu memberikan harta kepada pihak lain untuk dimanfaatkan kembali. Dalam hal ini, materi harta atau barang masih menjadi milik si pemberi hadiah (wahib).
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan hibah?

Apa yang dimaksud dengan hibah?
Hibah adalah pemberian dengan sukarela yang mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain.
Apa saja syarat hibah?

Apa saja syarat hibah?
Pemberi hibah (wahib), penerima hibah (mauhub lah), barang yang dihibahkan (mauhub), dan akad.
Apa yang dimaksud dengan sighat?

Apa yang dimaksud dengan sighat?
Sighat adalah pernyataan dari pihak-pihak yang bertransaksi dan suatu keharusan dalam transaksi jual beli.
