Konten dari Pengguna

Pengertian Pitutur Jawa Kuno beserta Contohnya tentang Kehidupan dan Cinta

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pitutur Jawa Kuno. Foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pitutur Jawa Kuno. Foto: pixabay.com

Pitutur Jawa kuno adalah kata-kata bijak atau petuah tentang kehidupan dalam bahasa Jawa. Kata bijak bahasa Jawa banyak mengungkap masalah-masalah keseharian yang sederhana dan sering diremehkan.

Dengan memahami pitutur Jawa kuno, seseorang bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup berharga. Tak heran jika pepatah Jawa kuno sering kali dijadikan pedoman dalam menjalani hidup.

Anda juga bisa berbagi kata-kata pitutur Jawa kuno kepada orang lain sehingga mereka mendapatkan pencerahan terkait permasalahan yang dihadapi. Ungkapan pitutur Jawa kuno biasanya disampaikan secara informal dengan sentuhan humor, sehingga kerap berhasil membuat pembacanya tertawa.

Agar lebih mudah memahami, berikut contoh pitutur Jawa kuno.

Ilustrasi Pitutur Jawa Kuno. Foto: pixabay.com

Contoh Pitutur Jawa Kuno

Dikutip dari buku Belajar Bijak ala Orang Jawa oleh Asti Musman, berikut contoh pitutur Jawa kuno.

  1. Cuplak andheng-andheng, yen ora pernah panggonane bakal disingkirake, artinya orang yang menyebabkan keburukan maka kebaikannya akan terhapus.

  2. Mikul dhuwur mendhem jero, artinya seorang anak yang menjunjung tinggi derajat orang tua.

  3. Jaman iku owah gingsir, artinya ruang, waktu, dan zaman akan selalu berubah.

  4. Tuna sathak bathi sanak, artinya merugi harta mendapatkan sahabat.

  5. Busuk ketekuk, pinter keblinger, artinya orang bodoh ataupun pandai suatu saat akan mengalami kesulitan.

  6. Dhemit ora ndulit, setan ora doyan, artinya berupa doa dan harapan agar selalu diberi keselamatan, tidak ada suatu halangan dan rintangan.

  7. Sembur-sembur adus, siram-siram bayem, artinya sebuah tujuan yang terlaksana karena mendapat dukungan banyak orang.

  8. Milih-milih tebu oleh boleng, artinya terlalu banyak memilih tapi pada akhirnya malah mendapatkan yang tidak baik.

  9. Aja keminter mundhak keblinger, aja cidra mundak cilaka, artinya jangan sok pintar nanti salah, jangan curang, nanti jadi celaka.

  10. Manungsa mung ngunduh wong pakarti, artinya kehidupan manusia yang baik mapun buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri.

  11. Kena iwake aja nganti buthek banyune, artinya berusahalah mencapai tujuan tanpa menimbulkan kerusakan.

  12. Adhang-adhang tetese embun, artinya berharap sesuatu dengan hasil apa adanya.

  13. Sluman slumun slamet, artinya biarpun kurang hati-hati tapi masih diberi keselamatan.

  14. Ana dina, ana upa, artinya tiap perjuangan selalu ada hasil yang nyata.

  15. Gliyak tumindak, sareh pakoleh, artinya upaya yang dilakukan secara perlahan, tujuan akhirnya akan tercapai.

  16. Obat pahit ae marai mari, mosok kowe sing manis marakke loro, artinya obat yang pahit saja bisa bikin sembuh, masak kamu yang manis bikin sakit.

  17. Berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian, mantan wes budal nang penghulu aku ijek kesepian, artinya berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian, mantan sudah pergi ke penghulu, aku masih kesepian.

  18. Tresno iku koyo criping telo, biso ajur nek ora ati-ati oleh e nggowo, artinya cinta itu seperti keripik singkong, bisa hancur jika tidak hati-hati membawanya.

  19. Ora ono kowe rasane koyo sego kucing ilang karete ambyar, artinya tidak ada kamu seperti nasi kucing hilang karetnya, hancur.

  20. Wes kadung ngomong sayang jebule wes nduwe gandengan, wes kadung tak sawang malah ninggal kenangan, artinya sudah terlanjur menyatakan sayang, ternyata sudah punya pasangan, sudah terlanjur dipandang malah meninggalkan kenangan.

(EAR)