Konten dari Pengguna

Pengertian Rekonsiliasi beserta Prosesnya dalam Manajemen Konflik

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa Itu Rekonsiliasi Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa Itu Rekonsiliasi Foto: Unsplash

Rekonsiliasi adalah salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan sebuah konflik, baik antarindividu, kelompok, hingga negara. Namun, ada proses yang perlu dilakukan untuk melakukan rekonsiliasi.

Dalam KBBI Daring Kemdikbud, rekonsiliasi adalah sebuah perbuatan yang dilakukan untuk memulihkan hubungan ke keadaan semula. Tentu saja, ada proses dan faktor-faktor khusus yang diperlakukan untuk mewujudkan rekonsiliasi.

Agar lebih paham tentang apa itu rekonsiliasi beserta prosesnya, simak penjelasan berikut ini.

Apa Itu Rekonsiliasi?

Ilustrasi Apa Itu Rekonsiliasi Foto: Pexels

Sebelum membahas lebih jauh tentang rekonsiliasi, hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah manajemen konflik. Pasalnya, rekonsiliasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam sebuah manajemen konflik.

Dalam buku Manajemen Konflik yang ditulis oleh Efriza, dkk., manajemen konflik bisa didefinisikan sebagai sebuah pendekatan atau upaya mengendalikan konflik untuk menghasilkan resolusi yang diinginkan. Tujuan dari manajemen konflik adalah meminimalkan akibat dari konflik yang merugikan.

Dr. I Ketut Yakobus dalam buku Budaya Sintuwu Maroso dan Rekonsiliasi Konflik Poso (2023) menjelaskan bahwa rekonsiliasi merupakan usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan.

Sedangkan menurut buku Studi Perdamaian dan Studi Keamanan (2024), arti rekonsiliasi secara luas adalah 'menutup buku' tentang masa lalu. Tujuannya untuk menghentikan siklus saling menuduh atau membantah yang akhirnya menimbulkan perpecahan.

Meski begitu, rekonsiliasi bukan berarti cara untuk melupakan apa yang terjadi di masa lalu, namun untuk menyelesaikannya melalui proses evaluasi. Dengan begitu, hubungan yang dibangun kembali tidak lagi dihantui konflik dan kebencian dari masa lalu.

Proses Rekonsiliasi

Ilustrasi Proses Rekonsiliasi Foto: Pexels

Ada delapan proses yang perlu ditempuh untuk mewujudkan sebuah rekonsiliasi. Masih dikutip dari buku Budaya Sintuwu Maroso dan Rekonsiliasi Konflik Poso, berikut adalah proses-proses dari sebuah rekonsiliasi:

  1. Ada pertemuan antara korban (victim) dan tersangka (suspect).

  2. Pertemuan tersebut harus muncul dari keinginan langsung korban dan tersangka.

  3. Kedua pihak yang berselisih bersedia menyelesaikan persoalan.

  4. Kedua pihak harus jujur mengungkapkan kebenaran, artinya pihak yang salah mengakui kesalahannya, pihak yang benar harus diakui kebenarannya melalui dengar pendapat.

  5. Kedua belah pihak yang berselisih harus sepakat untuk saling memaaftkan kesalahan, baik dengan syarat (ganti rugi) maupun tanpa syarat (tanpa ganti rugi), tergantung kesepakatan bersama.

  6. Kedua belah pihak yang berselisih bersedia tidak mengungkit persoalan masa lalu dan tidak akan mengungkitnya di masa yang akan datang.

  7. Victim (korban) harus merasa dan mengakui ada pemulihan yang diperoleh melalui rekonsiliasi.

  8. Bersedia membangun dan mempererat kembali persahabatan untuk masa depan yang lebih baik.

Baca Juga: 3 Alasan Norma Dijadikan Pedoman Hidup dalam Memenuhi Kebutuhan Sosial

(SFN)