Konten dari Pengguna

Penjelasan Mengenai Ayat Ibtidai dan Sababi beserta Contohnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayat ibtidai, foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ayat ibtidai, foto: Pixabay

Dilihat dari proses turunnya, ayat Al-Quran terbagi menjadi dua yakni ayat ibtidai dan ayat sababi. Ayat ibtidai memiliki pengertian sebagai ayat yang turun tanpa ada penyebab atau asbabun nuzulnya. Sedangkan ayat sababi adalah ayat yang diturunkan oleh Allah SWT dan memiliki asbabun nuzul.

Menurut Ach. Fawaid dalam buku yang berjudul Asbabun Nuzul, asbabun nuzul adalah suatu peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Quran. Asbabun nuzul juga dapat dijadikan sebagai salah satu landasan hukum terhadap suatu peristiwa.

Akan tetapi, tidak semua ayat Al-Quran memiliki asbabun nuzul. Apa saja ayat yang tidak memiliki asbabun nuzul?

Pengertian Ayat Ibtidai dan Sababi

Ayat ibtidai, foto: Pixabay

Mengutip dari buku Dasar Ilmu Tafsir karya Muhammad bin Sholih Al-Utsmani dilihat dari penyebab turunnya ayat Al-Quran terbagi menjadi dua, yakni:

1. Ayat Ibtidai

Ayat ibtidai adalah ayat-ayat Al-Quran yang Allah turunkan tanpa didahului adanya sebab tertentu. Kebanyakan dari ayat al-Quran merupakan ayat-ayat ibtidai.

Salah satu contoh ayat ibtidai adalah firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 75, Allah berfirman:

Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. At-Taubah: 75)

Ayat ini turun secara ibtidai yang menjelaskan mengenai sifat orang-orang munafik. Ketika menerima ayat ini, Rasulullah SAW tidak sedang berhadapan dengan orang munafik.

Akan tetapi, terdapat tafsir yang menyebutkan bahwa surat ini turun berkenaan dengan sifat Tsa'labah bin Hathib. Namun, kisah tersebut dianggap dhaif oleh mayoritas ulama tafsir.

2. Ayat Sababi

Ayat Sababi merupakan ayat yang diturunkan oleh Allah SWT karena dipicu oleh suatu sebab atau asbabun nuzul. Ayat sababi juga diturunkan oleh Allah SWT untuk menjawab hukum suatu perkara.

Contoh dari ayat sababi adalah surat Al-Baqarah ayat 189. Pada saat itu, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hikmah dari penciptaan dan perubahan hilal. Pertanyaan sahabat tersebut langsung dijawab oleh Allah SWT.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 189:

۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَا ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari atasnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Akan tetapi, ketika Rasulullah SAW menyampaikan firman tersebut, orang-orang munafik menyebut bahwa Nabi Muhammad SAW telah berdusta. Mereka mengatakan bahwa yang disampaikan oleh Rasul adalah sebuah kebohongan.

Ejekan dan tuduhan dari orang munafik tersebut langsung Allah jawab melalui surat At-Taubah ayat 65 yang berbunyi:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

Artinya: “Dan jika kamu bertanya kepada mereka (orang munafik), pasti mereka menjawab, ‘Kami hanya bercanda dan bermain-main. Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’" (QS. At-Taubah: 65)

Setelah mendengar firman Allah yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW, mereka datang menemui Rasulullah SAW dan ingin meminta maaf kepada beliau. Sebelum Rasulullah SAW memberikan jawaban, Allah kembali menurunkan firmannya melalui surat At-Taubah ayat 66.

Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 65

لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ

Artinya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kalian berolok-olok. Tidak perlu minta maaf. Kalian sudah kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 65)

(PHR)

Frequently Asked Question Section

Apa itu asbabun nuzul?
chevron-down

Asbabun nuzul adalah suatu peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Quran.

Apakah semua ayat Al-Quran memiliki asbabun nuzul?
chevron-down

Tidak, mayoritas ayat Al-Quran turun tanpa memiliki asbabun nuzul.

Apa manfaat dari mengetahui asbabun nuzul sebuah ayat?
chevron-down

Asbabun nuzul dapat dijadikan sebagai salah satu landasan hukum terhadap suatu peristiwa.