Konten dari Pengguna

Pentingnya Akses Belajar di Era Digital dan Hubungannya dengan Hak Cipta

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pentingnya akses belajar di era digital. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pentingnya akses belajar di era digital. Foto: Unsplash.

Akses belajar di era digital membuka peluang bagi siapa saja untuk mendapatkan ilmu tanpa harus dibatasi oleh jarak, waktu, atau kondisi ekonomi. Melalui teknologi informasi dan komunikasi, cara manusia belajar perlahan berubah, dari yang semula bergantung pada ruang kelas dan buku fisik menjadi akses sumber daya digital yang tidak terbatas.

Namun di balik kemudahan itu, ada hambatan yang kerap luput dari perhatian publik, yaitu sistem hak cipta. Hak cipta yang bersifat restriktif berpotensi mempersempit akses belajar di era digital, terutama bagi pelajar, guru, dan masyarakat umum yang membutuhkan materi pendidikan secara bebas dan legal.

Pentingnya Akses Belajar di Era Digital bagi Masyarakat Luas

Ilustrasi pentingnya akses belajar di era digital. Foto: Unsplash.

Mengutip dari penelitian berjudul Belajar di Era Digital: Memahami Teknologi Pendidikan dan Sumber Belajar Online yang diterbitkan dalam Community Development Journal (2024), kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuka pintu bagi akses pendidikan yang lebih luas dan fleksibel, sehingga individu bisa mengakses sumber belajar dari berbagai tempat tanpa terbatas ruang.

Fleksibilitas dan keterbukaan akses belajar inilah yang kemudian membawa sejumlah dampak positif bagi peserta didik, di antaranya:

  • Peningkatan Pengetahuan: Peserta didik memperoleh pemahaman baru tentang topik yang diajarkan.

  • Peningkatan Keterampilan: Interaksi virtual dapat memfasilitasi praktik langsung yang mengasah keterampilan teknis dan komunikasi.

  • Jaringan Profesional yang Lebih Luas: Pembelajaran daring menghubungkan peserta didik dari berbagai daerah yang sebelumnya tidak memiliki akses ke forum serupa.

Tantangan yang Masih Menghambat

Meski manfaatnya besar, akses belajar di era digital menghadapi sejumlah tantangan. Masih mengutip dari penelitian yang sama, beberapa hambatan yang kerap ditemui di antaranya:

  • Kesenjangan infrastruktur internet, terutama di daerah terpencil.

  • Keterbatasan perangkat keras dan lunak di kalangan pelajar kurang mampu.

  • Rendahnya literasi digital di sebagian kelompok masyarakat.

  • Kurangnya pelatihan guru dalam memanfaatkan teknologi pendidikan secara optimal.

Hubungan Akses Belajar di Era Digital dengan Hak Cipta yang Restriktif

Ilustrasi pentingnya akses belajar di era digital. Foto: Unsplash.

Sistem hukum hak cipta di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 untuk melindungi hak eksklusif pencipta. Namun dalam praktiknya, perlindungan yang terlalu ketat justru menciptakan hambatan bagi dunia pendidikan.

Dikutip dari penelitian berjudul Pengaruh Hak Cipta terhadap Inovasi dan Kebebasan Berkreasi di Era Digital yang diterbitkan dalam jurnal Hukum, Administrasi Publik dan Negara (2026), Indonesia belum mengenal konsep fair use secara eksplisit, yaitu prinsip penggunaan sebagian karya berhak cipta untuk kepentingan pendidikan, penelitian, atau kritik tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Kondisi ini berbeda dengan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Kanada yang sudah lama mengakui prinsip tersebut secara hukum.

Ketiadaan fair use ini menciptakan chilling effect, yaitu rasa takut berlebihan dalam berkarya atau berbagi materi karena khawatir berhadapan dengan tuntutan hukum. Platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok menggunakan sistem deteksi otomatis yang tidak mempertimbangkan konteks penggunaan. Akibatnya, seorang guru yang mengunggah video pembelajaran dengan cuplikan film atau musik bisa langsung terkena pemblokiran otomatis, meski tujuannya murni edukatif dan non-komersial.

Dampak ini dirasakan di berbagai lapisan pendidikan, di antaranya:

  • Guru dan Pendidik: Kesulitan berbagi materi ajar yang mengandung konten berhak cipta meski untuk keperluan non-komersial.

  • Pelajar dan Mahasiswa: Akses terhadap bahan bacaan digital seperti e-book sering terbatas karena sistem lisensi yang rumit dan mahal.

  • Kreator Konten Edukatif Independen: Rentan terkena pelaporan pelanggaran meski konten yang dibuat bersifat edukatif.

Solusi yang Ditawarkan

Mengutip dari penelitian yang sama, ada beberapa langkah yang direkomendasikan untuk menyeimbangkan perlindungan hak cipta dengan kebutuhan akses belajar, di antaranya:

  • Formalisasi Prinsip Fair Use: Memasukkan ketentuan penggunaan wajar secara eksplisit dalam UU Hak Cipta agar pelaku kreatif dan pendidik memiliki kepastian hukum.

  • Penguatan Lisensi Terbuka (Creative Commons): Mendorong penggunaan lisensi terbuka di sektor pendidikan dan publikasi ilmiah sehingga materi dapat diakses dan digunakan secara legal.

  • Kebijakan Open Access dari Pemerintah: Seluruh hasil riset yang didanai negara seharusnya dipublikasikan secara terbuka dan dapat diakses publik tanpa biaya.

  • Peningkatan Literasi Hukum: Memasukkan pendidikan hak cipta ke dalam kurikulum formal agar generasi pelajar memahami batas-batas penggunaan karya secara legal.

(FHK)

Baca juga: Jelaskan Termasuk dalam Klasifikasi Negara Manakah China Saat Ini?