Penyebab Banjir Bandang Nepal-Tibet, Ini Penjelasan USGS

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Longsor besar dan banjir bandang menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8/2026) pagi waktu setempat. Banjir yang membawa air, lumpur, dan bebatuan itu merendam desa-desa serta menghancurkan rumah, jembatan, dan sejumlah infrastruktur penting.
Mengutip laman The Guardian pada Jumat (28/8/2026), lebih dari 390 orang telah dikonfirmasi tewas dalam bencana tersebut. Sementara itu, lebih dari 1.400 orang masih dilaporkan hilang di wilayah Nepal dan Tibet, China.
Lantas, apa yang sebenarnya memicu banjir bandang di Nepal? Simak penjelasan selengkapnya mengenai penyebab banjir bandang Nepal-Tibet berikut ini.
Penyebab Banjir Bandang Nepal-Tibet
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (US Geological Survey/USGS) mengungkap penyebab bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet.
Dikutip dari laman AFP dan The Guardian, berikut penjelasan mengenai faktor yang memicu terjadinya bencana tersebut.
Runtuhnya Gletser Jadi Pemicu
Sebelumnya, pejabat setempat menduga gempa menyebabkan bagian bawah gletser runtuh pada Rabu (26/8). Namun, setelah meneliti data seismik dan citra satelit, USGS menemukan bahwa getaran yang sempat tercatat sebagai gempa magnitudo 4,4 ternyata berasal dari runtuhnya material es dan batuan dalam jumlah besar.
Menurut USGS, runtuhnya gletser tersebut kemudian memicu aliran material yang bergerak menuju wilayah lebih rendah. Aliran inilah yang selanjutnya menimbulkan dampak besar hingga menyebabkan banjir bandang di kawasan hilir.
Gletser Runtuh dari Ketinggian 1.200 Meter
Menurut Daniel Shugar, ahli geomorfologi dan profesor madya di University of Calgary, Kanada, analisis awal citra satelit menunjukkan bongkahan es seluas sekitar 0,2 kilometer persegi runtuh secara vertikal sejauh 1,2 kilometer.
“Dari citra satelit Planet Labs yang saya lihat, bagian bawah gletser yang berada di ketinggian sekitar 5.200 meter terlepas dan menghantam dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya,” ucapnya.
Air dan Sedimen Membentuk Banjir Bandang
Profesor Andrew Mackintosh, ahli glasiologi dari Monash University di Melbourne, menjelaskan bahwa runtuhnya gletser dalam skala besar dapat menghasilkan air dalam jumlah besar.
“Ketika gletser sebesar itu runtuh, air yang dihasilkan sangat banyak. Selanjutnya, terjadi rangkaian proses ketika air bercampur dengan sedimen, sehingga alirannya semakin besar dan akhirnya membentuk banjir,” kata Andrew.
Ada Faktor Lain yang Masih Diselidiki
Meski runtuhnya gletser dinilai menjadi penyebab dalam bencana tersebut, sejumlah peneliti menilai peristiwa itu belum tentu menjadi satu-satunya penyebab. Beberapa faktor lain yang diduga dapat berperan dalam memperparah rangkaian bencana tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut, di antaranya:
Kondisi lereng: Struktur dan kestabilan lereng di sekitar lokasi dapat memengaruhi terjadinya longsor atau pergerakan material.
Pencairan salju: Suhu yang lebih hangat diduga dapat mempercepat pencairan salju dan menambah volume air yang mengalir ke wilayah lebih rendah.
Aktivitas pembangunan: Pembangunan di sekitar kawasan juga disebut sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penyelidikan lebih lanjut.
Baca Juga: Yang Sudah Diketahui soal Banjir Bandang di Nepal
(ANB)
